Pagi itu gang tidak sepagi biasanya.
Beberapa pintu sudah terbuka sebelum azan Subuh benar-benar selesai. Bukan karena orang ingin menyapu lebih rajin. Tapi karena ingin melihat lebih awal.
Lampu teras rumah Tika masih menyala.
Pak Leman sudah berdiri di depan rumahnya, selang air di tangan. Tanah halaman sebenarnya tidak kering. Tapi air tetap disiram pelan-pelan.
Fahri keluar beberapa menit kemudian. Ia tidak duduk di pos ronda. Ia berdiri di sisi gang, pura-pura memeriksa rantai motor.
Pukul empat lewat sepuluh, pintu rumah itu terbuka.
Ayah Tika keluar membawa cangkul. Topi lusuhnya dipasang pelan. Ia menutup pintu tanpa suara, lalu berjalan menyusuri gang seperti biasa.
Pak Leman berhenti menyiram.
“Jam empat lewat sepuluh,” katanya pelan.
Fahri tidak menjawab.
Ayah Tika lewat tepat di depan mereka.
“Pagi, Pak,” Fahri menyapa.
“Pagi,” jawabnya singkat.
Ia tidak berhenti. Tidak mempercepat. Tidak melambat.
Begitu ia menghilang di tikungan, Pak Leman berkata, “Bapaknya tetap.”
Fahri mengangguk. “Yang dilihat bukan bapaknya.”
Kalimat itu sudah tidak perlu dijelaskan lagi.
Pukul enam kurang sedikit, lampu teras masih menyala.
Beberapa rumah lain sudah mematikan lampu. Rumah itu belum.
Tika membuka pintu.
Ia berdiri di ambang beberapa detik. Menarik napas pagi. Rambutnya diikat seadanya. Ia melihat ke kanan, lalu ke kiri.
Pak Leman masih di halaman.
Fahri masih berdiri.
Tika menutup pintu lagi.
“Keluar enam kurang lima,” Pak Leman mencatat di HP-nya.
Fahri melirik. “Kamu benar-benar catat?”
Pak Leman tidak menjawab.
Pukul tujuh kurang lima, suami Tika keluar.
Ia duduk di kursi plastik. HP di tangan. Tidak bicara. Tidak menelpon. Hanya menatap layar.
Fahri sengaja berjalan melewati rumah itu.
Langkahnya diperlambat.
Ia melihat sekilas ke layar HP lelaki itu.
Tidak terlihat jelas.
Suami Tika mengangkat kepala. “Kenapa, Ri?”
“Tidak. Mau beli rokok.”
Fahri tidak berhenti. Tapi ia merasa tatapan itu menempel di punggungnya.
Ia kembali ke pos ronda.
“Main HP?” tanya Pak Leman.
“Iya.”
“Transfer?”
“Tidak kelihatan.”
“Bisa saja pakai aplikasi.”
“Bisa saja cuma lihat berita.”
Keduanya diam.
Suami Tika masuk lagi pukul tujuh lewat sepuluh.
Dicatat.
Pukul delapan lewat sedikit, Tika keluar membawa ember biru.
Ia menjemur pakaian seperti biasa. Mengibaskan kain satu per satu.
Pak Leman berdiri lebih dekat dari biasanya.
Terlalu dekat.
Tika berhenti sejenak.
“Kenapa, Pak?” tanyanya.
“Tidak apa-apa.”
“Kalau mau lewat, lewat saja.”
Nada suaranya tidak tinggi. Tapi tidak ramah.
Pak Leman mundur satu langkah.
Fahri melihat dari jauh.
Ini pertama kalinya Tika berbicara langsung dalam beberapa hari terakhir.
Dan bukan basa-basi.
Pukul sembilan.
Gang sudah sepi.
Fahri duduk di pos ronda. Tidak ada yang bicara. Tidak ada obrolan ringan.
Ia membuka ponselnya.
Membuka aplikasi rekening.
Saldo tidak berubah.