Pagi itu gang tidak ribut.
Justru terlalu tenang.
Warung buka seperti biasa. Rak jajanan digantung. Receh dihitung. Buku catatan dibuka. Tapi orang datang bukan hanya untuk belanja. Mereka datang membawa sesuatu yang belum selesai.
Sarni berdiri paling depan.
“Semalam tidak ada yang hilang,” katanya ringan.
Marlina menoleh cepat.
“Belum.”
Kata itu pendek. Tegas. Seperti pintu yang tidak ditutup rapat.
Bu Warung tidak ikut bicara. Tapi tangannya berhenti menghitung sepersekian detik.
“Sudah ditaruh di dalam, tidak hilang,” Sarni melanjutkan.
“Di luar pagar juga tidak.”
“Gerak juga sudah dilihat,” seseorang dari belakang menambahkan.
“Iya.”
“Berarti?”
Sunyi.
Kalau berarti tidak ada, mereka salah.
Kalau berarti belum ketahuan, mereka harus melangkah lebih jauh.
Marlina akhirnya berkata pelan,
“Uang saya tetap belum ketemu.”
Kalimat itu menyelamatkan semuanya.
Selama uang itu belum ditemukan, kecurigaan punya alasan hidup.
Siang berlalu tanpa kejadian. Tidak ada yang secara terbuka mengumumkan apa yang akan dilakukan malam nanti. Tapi menjelang sore, pos ronda lebih cepat terisi.
Fahri duduk lebih dulu. Ia tidak lagi membela siapa pun. Tapi juga tidak mendorong.
Pak Leman datang membawa kopi sendiri dari rumah. Ia duduk tanpa menyapa.
Beberapa menit tidak ada yang bicara.
Lalu suara itu muncul.
“Kita sudah coba semua cara.”
Diam.
“Taruh uang di laci.”
Diam.
“Taruh di luar pagar.”
Diam.
“Lihat gerak dari pagi sampai malam.”
Diam.
“Tidak ada hasil.”
Seseorang menjawab pelan,
“Belum.”
Kata itu lagi.
Belum.
Fahri mengangkat kepala.
“Kalau memang ada, harusnya ada pola.”
“Ada pola,” Sarni cepat menjawab.
“Pola apa?”
“Lampunya.”
Semua menoleh ke ujung gang.
Rumah itu belum menyalakan lampu. Masih sore.
Pak Leman menyela,
“Lampu mati hampir sama jamnya dua malam.”
“Hampir sama.”
“Cukup dekat.”
“Cukup untuk apa?” Fahri bertanya.
Tidak ada jawaban jelas.
Maghrib lewat. Selepas jamaah, orang tidak langsung pulang. Pelataran mushola terasa lebih padat dari biasanya.
Lampu teras rumah Tika menyala.
Ayah Tika duduk di kursi plastik. Memijat betis. Batuk kecil terdengar.
Tika keluar membawa ember. Menyiram halaman. Masuk lagi.
Gerakan yang sama seperti malam-malam sebelumnya.
“Kalau memang tidak ada apa-apa, kenapa harus terus menyala?” seseorang berbisik.
“Kenapa lampu jadi masalah?” Fahri bertanya.
“Karena hampir sama jamnya.”
“Kalau hampir sama berarti salah?”
Tidak ada yang menjawab.
Sekitar pukul delapan, suami Tika keluar. Berdiri sebentar. HP di tangan. Lalu masuk lagi.
Sarni berkata pelan tapi cukup terdengar,
“Sekarang orang kerja banyaknya dari HP.”
“Kerja apa?” Fahri menantang.
“Jualan.”
“Jual apa?”
“Tidak harus barang.”
Pak Leman menghela napas.
“Dari uang hilang kita sampai ke jualan.”
“Karena masuk akal.”
“Masuk akal dari mana?”
“Kalau banyak yang kehilangan, berarti bukan satu.”
“Kalau bukan satu, berarti tersebar.”
“Kalau tersebar, berarti ada yang punya lebih.”