Pagi itu warung lebih ramai dari biasanya.
Bukan karena belanja.
Karena kabar.
“Anak si Karsim pulang dari kota,” Sarni berkata sambil mengambil gula.
“Kerja dari HP katanya.”
“Kerja apa?” Marlina langsung menoleh.
“Main game. Live. Katanya dapat kiriman uang.”
Beberapa orang berhenti menghitung uang kembalian.
“Main doang dibayar?” seseorang tertawa kecil.
“Sekarang mah banyak,” Sarni membalas cepat. “Streaming, jual akun, top up.”
Kata terakhir itu menggantung.
Top up.
Fahri yang baru masuk warung tidak langsung bicara. Ia berdiri di dekat rak rokok, mendengar.
“Berarti nggak perlu keluar rumah,” Marlina berkata pelan.
“Ya nggak perlu,” Sarni mengangkat bahu. “Kalau ngerti caranya.”
Semua tahu ke mana arah kalimat itu.
Tidak ada yang menyebut nama.
Belum.
Siang hari, Roni benar-benar terlihat di gang.
Ia berdiri di depan rumah orang tuanya. Rambutnya lebih rapi dari pemuda kampung lain. Kaosnya tidak pudar. Di tangannya ponsel besar dengan casing mencolok.
Beberapa anak kecil mengerumuni.
“Bang, itu buat main apa?”
“Bang, bisa dapet duit ya?”
Roni tertawa. “Bisa. Kalau ngerti.”
Fahri berdiri di seberang jalan. Memperhatikan.
“Kerja apa sekarang?” Pak Leman datang mendekat.
“Online,” jawab Roni santai. “Main game, live streaming.”
“Duitnya dari mana?”
“Penonton kirim. Gift. Bisa ditarik ke rekening.”
Pak Leman tidak tersenyum.
“Berarti nggak perlu kebun,” katanya.
Roni tidak langsung menjawab. Ia melirik ke arah rumah Tika.
Lalu kembali ke Pak Leman.
“Sekarang banyak kerja yang nggak kelihatan.”
Kalimat itu seperti sengaja dilempar.
Fahri merasakan udara berubah.
Sore menjelang, pembicaraan tidak lagi setengah-setengah.
Di pos ronda, Pak Leman membuka lebih dulu.
“Kalau kerja dari HP bisa dapat uang, berarti wajar ada yang di rumah terus.”
Tidak ada yang menyahut cepat.
“Pertanyaannya,” ia lanjut, “yang ngerti caranya siapa?”
Semua diam.
Fahri berkata pelan, “Tidak semua orang main.”
“Tidak semua orang kelihatan main,” Sarni memotong.
“Itu beda,” Fahri membalas.
“Beda apa?” Sarni menantang.
Sunyi sebentar.
Pak Leman berkata pelan tapi jelas,
“Kalau memang dapat uang dari layar, harusnya bisa ditunjukkan.”
Itu hampir.
Hampir menyebut.
Lampu rumah Tika menyala lebih awal.
Roni lewat di depan terasnya. Ia sengaja memperlambat langkah.
“Bang,” ia memanggil ringan ke arah suami Tika yang duduk di kursi plastik.
Suami Tika mengangkat kepala.
“Main apa sekarang?” Roni bertanya santai.
“Tidak main.”
“Kalau mau, bisa ikut live,” Roni tersenyum tipis. “Lumayan.”
Suami Tika tidak menjawab.
Beberapa orang berdiri di jarak yang cukup dekat untuk mendengar.
“Sekarang kerja banyak yang nggak kelihatan,” Roni berkata lebih keras sedikit.
“Yang penting ada hasil.”