KAYA SEKETIKA

Dwi Scativana Isnaeni
Chapter #22

Konter di Ujung Gang #22

Pagi itu orang tidak ke warung dulu.

Mereka ke konter.

Konter kecil di tikungan gang yang selama ini hanya dianggap tempat beli pulsa dan paket data tiba-tiba jadi pusat perhatian. Plangnya sudah pudar. Di kaca depannya tertempel stiker “Top Up Game”, “Transfer Bank”, “E-Wallet Bisa”.

Selama ini tulisan itu seperti dekorasi.

Hari ini jadi bukti.

Pemilik konter, Aris, masih setengah menguap ketika tiga orang berdiri di depan etalase.

Pak Leman.

Fahri.

Marlina.

“Mas, tanya sedikit,” Pak Leman membuka tanpa basa-basi.

Aris mengangguk, agak waspada. “Soal apa, Pak?”

“Soal top up.”

Aris tersenyum tipis. “Biasa, Pak. Banyak kok.”

“Banyak siapa?” Marlina langsung masuk.

Aris berhenti tersenyum.

“Ya… anak-anak. Remaja. Kadang bapak-bapak juga.”

“Bisa bayar tunai?” Fahri bertanya.

“Bisa. Kasih nomor ID game, bayar, selesai.”

“Dicatat?” Pak Leman menekan.

Aris menggeleng pelan. “Tidak semua, Pak. Kalau kecil-kecil ya langsung saja.”

“Lima puluh ribu kecil?” Marlina suaranya naik sedikit.

Aris mulai gelisah. “Tergantung, Bu.”

“Dua puluh ribu?” Fahri.

“Sering.”

“Sepuluh?”

“Lebih sering.”

Sunyi sebentar.

Pak Leman menatap etalase konter itu seperti melihat sesuatu yang baru.

“Kalau anak kecil datang sendiri?” ia bertanya.

“Datang saja. Biasa.”

“Orang tua tahu?”

Aris tidak menjawab cepat.

“Tidak selalu.”

Kalimat itu membuat Marlina menahan napas.

Gang mendadak terasa lebih sempit.

Marlina pulang tanpa bicara. Fahri berjalan pelan di belakangnya. Pak Leman tidak ikut.

Di depan rumah, Marlina memanggil anaknya.

“Kemarin ke konter?” tanyanya langsung.

Anaknya menggeleng cepat.

“Kapan terakhir beli apa-apa di situ?”

“Tidak pernah.”

Tapi matanya bergerak terlalu cepat.

Marlina menatapnya lebih lama dari biasanya.

Fahri berdiri di pagar, tidak ikut masuk.

Untuk pertama kalinya, kecurigaan tidak lagi mengarah keluar.

Ia masuk ke dalam rumah.

Siang hari, kabar sudah menyebar.

“Bisa top up pakai tunai.”

“Tidak selalu dicatat.”

“Anak kecil bisa datang sendiri.”

Sarni berdiri di warung dengan wajah tegang.

“Kalau begitu bisa saja,” katanya pelan.

“Bisa saja apa?” seseorang menantang.

“Uangnya bukan diambil orang.”

Kalimat itu terasa seperti batu dilempar ke tengah gang.

Pak Leman masuk warung beberapa menit kemudian.

“Aris bilang banyak yang top up,” katanya.

“Siapa saja?” Sarni langsung bertanya.

“Tidak sebut nama.”

“Kenapa tidak dicatat?” Marlina muncul dari belakang.

“Karena dianggap biasa,” Pak Leman menjawab.

“Lima puluh ribu biasa?”

“Sekarang iya.”

Warung sunyi.

Bu Warung akhirnya bicara,

“Kalau anak-anak bisa bayar tunai tanpa orang tua tahu, ya wajar uang di rumah berkurang.”

Itu bukan pembelaan.

Itu penjelasan.

Dan penjelasan jauh lebih berbahaya dari tuduhan.

Lihat selengkapnya