KAYA SEKETIKA

Dwi Scativana Isnaeni
Chapter #23

Riwayat yang Tidak Pernah Dibaca #23

Pagi itu konter di ujung gang tidak seramai kemarin.

Tapi suasananya lebih berat.

Marlina datang bersama anaknya. Tidak marah. Tidak teriak. Wajahnya datar, justru itu yang membuat anaknya makin gelisah.

Aris sudah melihat mereka dari jauh.

“Mas,” Marlina berkata tanpa basa-basi, “kemarin anak saya top up.”

Aris menatap anak itu. Anak itu menunduk.

“ID-nya apa?” Aris bertanya pelan.

Anak itu menyebut angka cepat-cepat.

Aris membuka aplikasinya. Jarinya bergerak lincah. Ia tidak terlihat bersalah. Tidak terlihat takut. Hanya bekerja seperti biasa.

Beberapa detik.

“Dua puluh ribu. Tiga hari lalu,” katanya.

Marlina menelan ludah.

“Tiga hari lalu?”

“Iya.”

Tanggalnya cocok.

Hari yang sama saat ia yakin uangnya hilang dari laci dapur.

“Cuma sekali?” Marlina bertanya pada anaknya.

Anaknya diam.

Aris melihat riwayat lagi.

“Bukan sekali,” katanya pelan.

“Dua kali.”

Sunyi.

“Yang kedua sepuluh ribu. Kemarin.”

Gang seperti ikut mendengar.

Fahri dan Pak Leman berdiri tidak jauh dari konter. Mereka tidak ikut masuk. Tapi mereka tahu.

Marlina keluar dengan wajah berubah.

Bukan marah.

Bukan lega.

Campuran.

“Berapa?” Fahri bertanya pelan.

“Tiga puluh.”

“Yang lima puluh?”

“Belum tahu.”

Pak Leman menatap jalan.

“Berarti bukan satu rumah.”

“Bisa jadi,” Fahri menjawab.

“Tapi bukan dari luar.”

Kalimat itu penting.

Bukan dari luar.

Siang hari, berita menyebar lebih cepat dari biasanya.

“Top up.”

“Riwayat ada.”

“Dicatat.”

Beberapa ibu mulai memanggil anak masing-masing.

Tas dibuka.

Saku diperiksa.

Ada yang menemukan bukti.

Ada yang tidak.

Sarni datang ke konter sore itu.

“Mas, kalau mau cek riwayat bisa?”

Aris mengangguk.

“Tapi harus tahu ID-nya.”

“Kalau anak tidak kasih?”

“Berarti tidak bisa.”

Sarni pulang dengan wajah kaku.

Malam itu, bukan rumah Tika yang jadi pusat.

Konter yang kecil itu.

Selepas jamaah, pos ronda tidak lagi menghadap ke ujung gang.

Mereka menghadap ke tikungan.

Fahri duduk paling depan.

Pak Leman berdiri sebentar, lalu duduk lagi.

“Kalau semua karena game, selesai,” Fahri berkata.

“Belum tentu semua,” Pak Leman menjawab.

“Kenapa masih belum?”

“Karena dua rumah bilang lima puluh hilang.”

“Dan sekarang kita tahu tiga puluh dari satu rumah.”

Lihat selengkapnya