Pagi itu tidak ada yang bicara soal tuyul.
Tidak ada yang menyebut ternak.
Tidak ada yang berdiri di pagar rumah Tika.
Tapi gang itu tidak kembali normal.
Karena setelah riwayat top up ditemukan, satu hal lain ikut terbuka:
Uang memang hilang.
Tapi bukan semuanya.
Masih ada selisih.
Dan selisih itu membuat orang tidak benar-benar bisa berhenti curiga.
Warung buka seperti biasa.
Bu Warung menghitung receh.
Sarni berdiri sambil memilih sabun.
“Anak saya juga,” katanya pelan.
“Dua puluh ribu.”
“Ketahuan?” tanya Marlina.
“Iya. Riwayatnya ada.”
“Berarti selesai,” seseorang menyimpulkan cepat.
Sarni menggeleng.
“Tidak juga.”
“Kenapa?”
“Yang hilang dari saya empat puluh.”
Sunyi.
“Berarti dua puluh lagi?”
“Iya.”
Bu Warung menutup buku utang.
“Kalian yakin hitungnya pas dari awal?”
Kalimat itu terdengar sederhana. Tapi tajam.
Karena selama ini tidak ada yang benar-benar menghitung dengan disiplin.
Mereka hanya merasa.
Dan perasaan bisa meleset.
Siang itu, Fahri duduk di pos ronda sendirian.
Ia membuka aplikasinya lagi.
Melihat saldo.
Melihat potongan biaya.
Melihat transfer kecil yang dulu tidak pernah ia perhatikan.
“Biaya admin.”
“Biaya layanan.”
“Biaya platform.”
Nominalnya kecil.
Seribu. Dua ribu. Tiga ribu.
Tapi dikali banyak transaksi?
Ia menelan ludah.
Pak Leman datang.
“Masih cek?”
Fahri mengangguk.
“Kita ini selama ini percaya uang di HP itu utuh,” katanya.
“Padahal ada potongan kecil terus.”
Pak Leman duduk.
“Kalau potongan resmi, ya wajar.”
“Masalahnya orang tidak tahu.”
Sunyi.
“Jadi bukan hilang?” Pak Leman bertanya.
“Bisa jadi hilang karena tidak pernah dihitung detail.”
Sore hari, Aris di konter lebih ramai dari biasanya.
Bukan karena top up.
Karena orang datang minta dia jelaskan.
“Kalau transfer kena biaya berapa?”
“Kalau tarik tunai?”
“Kalau beli paket?”