KAYA SEKETIKA

Dwi Scativana Isnaeni
Chapter #25

Harga yang Tidak Terlihat #25

Gang itu tidak lagi setegang minggu lalu.

Tidak ada yang berdiri terlalu lama di pagar.

Tidak ada yang menghitung jam lampu.

Tapi bukan berarti semuanya selesai.

Karena setelah top up ditemukan, dan potongan biaya mulai dipahami, muncul lapisan lain yang lebih pelan, tapi lebih dalam:

Digital bukan cuma memindahkan uang.

Ia mengubah cara orang merasa cukup.

Pagi itu di warung, pembicaraan bukan lagi soal hilang.

Tapi soal harga.

“Anak saya bilang skin itu cuma tiga puluh ribu,” Sarni berkata.

“Cuma.”

Bu Warung tertawa pendek.

“Tiga puluh ribu buat kamu mungkin cuma. Buat saya, itu dua kilo beras.”

Sarni diam.

“Katanya kalau pakai skin itu, karakternya lebih kuat,” Marlina menambahkan.

“Lebih kuat apanya?” tanya Bu Warung.

“Ya di game.”

Sunyi sebentar.

“Jadi kuatnya cuma di layar?” Bu Warung menyimpulkan.

Tidak ada yang langsung menjawab.

Karena mereka sadar: bukan soal kuat.

Tapi soal terlihat.

Di rumah, Fahri duduk bersama anaknya.

Ia tidak marah.

Ia tidak membentak.

Ia hanya membuka riwayat transaksi.

“Ini,” katanya, menunjuk layar.

“Top up tanggal lima. Top up tanggal delapan. Top up tanggal dua belas.”

Anaknya tidak menyangkal.

“Kenapa tidak bilang?”

“Takut.”

“Takut apa?”

“Teman-teman punya. Aku tidak.”

Fahri menghela napas.

“Kalau kamu tidak punya, memang kenapa?”

Anaknya tidak bisa menjawab dengan logika.

Karena jawabannya bukan logika.

Jawabannya adalah rasa malu.

Sore hari di pos ronda, Pak Leman membawa topik baru.

“Dulu,” katanya, “kalau anak minta mainan, kelihatan barangnya. Kita tahu harganya. Bisa tawar.”

“Sekarang?” Fahri bertanya.

“Sekarang barangnya tidak kelihatan. Harganya kecil-kecil. Tapi sering.”

Semua mengangguk.

Karena potongan kecil itu yang selama ini luput.

Seribu. Dua ribu. Lima ribu.

Tidak terasa.

Sampai terasa.

Tika lewat membawa belanjaan.

Ia berhenti sebentar di warung.

Beli minyak goreng.

Tidak ada yang canggung seperti dulu.

Tidak ada tatapan panjang.

Tapi ada sesuatu yang berubah.

Orang sekarang lebih sadar diri.

Lihat selengkapnya