Setelah soal top up mulai dipahami, gang itu tidak langsung tenang.
Justru muncul bentuk kegelisahan baru.
Bukan lagi tentang uang yang hilang.
Tapi tentang uang yang sengaja dikeluarkan—tanpa terasa dipaksa.
Pagi itu Sarni datang ke warung lebih cepat.
Ia tidak belanja banyak. Hanya beli gula dan sabun.
Tapi wajahnya kesal.
“Anak saya bilang ada diskon,” katanya tanpa pembuka.
“Diskon apa?” tanya Bu Warung.
“Diamond. Katanya kalau beli sekarang, bonus dua kali lipat. Cuma hari ini.”
Bu Warung tertawa pendek.
“Diskon itu kan supaya orang cepat beli.”
“Itu dia,” Sarni mengangguk. “Katanya cuma hari ini. Besok tidak ada.”
Marlina yang berdiri di belakang ikut menyela.
“Anak saya juga bilang begitu. Katanya kalau tidak beli sekarang, nanti susah menang.”
Sunyi sebentar.
“Berarti bukan cuma game,” Bu Warung berkata pelan.
“Sudah seperti jualan biasa. Pakai promo.”
Di rumah, Fahri membuka HP anaknya.
Ia tidak marah.
Ia hanya ingin melihat sendiri.
Di layar muncul tulisan besar:
“Flash Sale! 50% hanya 2 jam!”
Ada hitungan mundur.
Sisa waktu: 01:47:12
“Kalau lewat dua jam?” Fahri bertanya.
“Habis,” anaknya menjawab cepat.
“Pernah coba tunggu?”
Anaknya diam.
Karena menunggu berarti kehilangan.
Dan kehilangan di layar terasa seperti kalah.
Sore hari, pembicaraan pindah ke pos ronda.
Pak Leman duduk dengan kopi yang sudah dingin.
“Dulu orang jualan teriak-teriak di pasar,” katanya.
“Sekarang tidak perlu teriak. HP yang teriak.”
Fahri mengangguk.
“Dan teriaknya langsung ke anak-anak.”
“Bukan cuma anak,” Pak Leman menambahkan.
“Orang dewasa juga.”
Mereka tahu itu benar.
Diskon pulsa. Diskon ongkir. Cashback.
Semua dirancang untuk membuat keputusan cepat.
Tanpa pikir panjang.
Tika lewat membawa kantong belanja.
Ia berhenti sebentar di warung.
Tidak ada yang membicarakan rumahnya lagi.
Tapi ia ikut mendengar pembicaraan tentang diskon.
“Kalau diskon itu bikin orang merasa hemat,” katanya tiba-tiba,
“padahal sebenarnya tetap keluar uang.”
Semua menoleh.
Ia jarang ikut bicara.
“Kalau tidak beli, uangnya tetap utuh,” ia menambahkan.
Tidak ada yang membantah.
Kalimatnya sederhana.