KAYA SEKETIKA

Dwi Scativana Isnaeni
Chapter #27

Peringkat dan Harga Diri #27

Setelah diskon dan hitungan mundur mulai dipahami, kegelisahan di gang itu belum selesai.

Masalahnya bukan lagi sekadar uang.

Masalahnya adalah perasaan kalah.

Pagi itu, sebelum berangkat sekolah, anak Fahri terlihat murung.

“Kenapa?” Fahri bertanya.

“Turun,” jawabnya singkat.

“Turun apa?”

“Rank.”

Fahri tidak langsung mengerti.

Anaknya membuka layar. Di sana ada lambang peringkat. Semalam masih satu tingkat lebih tinggi. Pagi itu turun satu garis.

“Karena kalah dua kali,” anaknya berkata.

“Terus?”

“Teman-teman lihat.”

Itu inti persoalannya.

Bukan sekadar kalah.

Tapi terlihat kalah.

Di rumah Marlina, suasana hampir sama.

Anaknya tidak marah. Tidak merengek. Tapi ia bermain lebih lama dari biasanya.

“Kalau kalah, turun,” katanya.

“Kalau turun?”

“Malas main.”

“Tapi kamu tetap main.”

“Biar naik lagi.”

Lingkaran itu jelas.

Main → kalah → turun → malu → main lagi.

Dan untuk naik lebih cepat, kadang perlu item.

Untuk item, perlu top up.

Siang hari, obrolan kembali ke pos ronda.

“Sekarang bukan cuma uang,” Pak Leman berkata.

“Lalu?”

“Peringkat.”

Fahri mengangguk.

“Anak saya tidak marah soal diamond. Dia marah soal turun.”

“Turun itu seperti apa?”

“Seperti dipermalukan.”

Pak Leman menghela napas.

“Dulu kalau kalah main bola ya sudah. Besok main lagi.”

“Sekarang kalahnya tercatat.”

“Dan semua bisa lihat.”

Tika berdiri di warung, mendengar percakapan itu.

“Di sekolah anak-anak saling tanya rank,” katanya.

“Bukan nilai?” seseorang bertanya.

“Nilai juga. Tapi rank lebih sering.”

“Kenapa?”

“Karena kelihatan cepat. Dan naiknya bisa dipamerkan.”

Sunyi.

Gang itu mulai mengerti bahwa yang dipertaruhkan bukan sekadar hiburan.

Tapi posisi.

Sore hari, anak-anak berkumpul di teras salah satu rumah.

Mereka tidak main petak umpet. Tidak main kelereng.

Mereka duduk melingkar, masing-masing memegang HP.

“Rank berapa sekarang?” satu bertanya.

“Gold.”

“Ah, aku sudah Platinum.”

Lihat selengkapnya