Setelah peringkat menjadi pembicaraan, sesuatu yang lebih sunyi mulai muncul.
Bukan soal kalah.
Bukan soal naik.
Tapi soal terus mengejar.
Pagi itu Marlina datang ke warung lebih awal dari biasanya.
“Bu, kemarin yang sabun dua dulu ya,” katanya pelan.
Bu Warung membuka buku kecilnya.
Sudah ada beberapa garis di sana. Bukan banyak. Tapi lebih sering dari biasanya.
“Ditambah lagi?” Bu Warung bertanya tanpa nada menuduh.
“Sedikit saja. Nanti kalau ada, saya bayar.”
Kata “kalau ada” kini lebih sering terdengar daripada “besok saya bayar.”
Di rumah Fahri, anaknya tidak lagi minta langsung.
Ia lebih halus.
“Ayah, kalau naik rank itu bagus ya?”
“Ya.”
“Kalau turun terus, malu ya?”
“Tidak juga.”
“Tapi teman-teman bilang yang tidak pernah top up itu noob.”
Fahri menatap anaknya.
“Kamu top up pakai uang siapa?”
Anaknya diam.
“Tidak top up kok,” jawabnya akhirnya. “Cuma tanya.”
Pertanyaan itu lebih berat dari permintaan.
Siang hari, di pos ronda, pembicaraan mulai berubah arah.
“Anak saya kemarin bilang cuma pinjam lima ribu,” seorang bapak berkata.
“Untuk apa?”
“Katanya buat beli pulsa.”
“Pulsa atau voucher?” Fahri bertanya.
Bapak itu terdiam.
Karena perbedaan antara pulsa dan voucher kini kabur.
Pulsa bisa jadi paket.
Paket bisa jadi kuota.
Kuota bisa jadi top up.
Dan semua terlihat seperti kebutuhan biasa.
Sarni datang ke warung sore itu.
“Bu, yang kemarin catat ya. Tambah mie dua.”
Bu Warung membuka buku lagi.
Nama Sarni sudah dua halaman kecil.
“Anaknya main terus?” Bu Warung bertanya ringan.
Sarni tersenyum kaku.
“Namanya juga anak-anak.”
Tapi ia tahu.
Anaknya lebih sering diam sekarang.
Main lebih lama.
Dan kalau kalah, tidak bicara.
Di rumah Tika, suasana berbeda.
Anak-anak di gang sering lewat depan rumahnya.
Kadang duduk sebentar.
Kadang minta WiFi.
“Kak, boleh pakai sebentar?”
“Sebentar saja.”
Tika tidak langsung mengiyakan.
“Untuk apa?”
“Main.”
“Main apa?”
“Game.”
Ia memandang mereka beberapa detik.
Lalu menggeleng pelan.
“Kalau mau main, pakai kuota sendiri.”
Anak-anak pergi dengan wajah sedikit kesal.
Beberapa menit kemudian, salah satu dari mereka terlihat berdiri di depan konter pulsa kecil di ujung gang.
Konter itu milik seorang pemuda yang jarang banyak bicara.
Ia tidak ikut obrolan pos ronda.
Tidak ikut mengawasi siapa pun.
Tapi justru di konternya aliran kecil uang itu lewat.
“Top up sepuluh,” seorang anak berkata.
“Game apa?”
Yang menyebut nama game dengan cepat.
Pemuda itu mengetik.
Uang berpindah lewat transfer kecil dari saldo dompet digital milik anak itu—atau milik orang tuanya yang dipinjam.
Transaksi itu sah.
Resmi.
Tercatat.
Tapi tidak pernah dibicarakan di rumah.
Malam itu, Fahri berdiri di depan konter sebentar.
“Banyak anak top up?” ia bertanya.
Pemuda itu mengangkat bahu.
“Lumayan.”
“Pakai uang siapa?”
“Ya uang mereka.”
Jawaban itu terdengar jujur.
Karena memang tidak ada pencurian.
Hanya pemindahan.
Di rumah Marlina, percakapan mulai lebih keras.
“Kenapa uang di dompet ibu berkurang lagi?”
Anaknya menunduk.
“Tidak tahu.”
“Tidak tahu bagaimana?”
“Pinjam sedikit.”
“Untuk apa?”
“Main.”
Marlina duduk.
Ia tidak marah.
Ia hanya lelah.
“Main tidak bikin kamu kenyang.”
Anaknya tidak menjawab.
Karena main membuatnya merasa tidak kalah.
Dan rasa tidak kalah itu terasa lebih penting daripada kenyang.
Di pos ronda, Pak Leman mulai menyusun kalimat lebih tegas.
“Sekarang bukan lagi uang hilang,” katanya.
“Uang pindah.”
“Pindah ke mana?”
“Ke layar.”
Sunyi.
Fahri menambahkan,
“Dan bukan cuma uang. Hutang juga.”
“Hutang?”
“Kalau anak minta besok, besok, besok… lama-lama jadi kebiasaan.”
“Bukan hutang bank,” Pak Leman menyambung.
“Hutang rasa.”
Mereka terdiam.