KAYA SEKETIKA

Dwi Scativana Isnaeni
Chapter #29

Malu yang Dipamerkan #29

Tidak ada uang hilang minggu itu.

Tidak ada tuduhan.

Tidak ada lampu dihitung.

Tapi suasana gang tidak kembali seperti dulu.

Karena sekarang yang bergerak bukan uang yang hilang.

Melainkan uang yang dipamerkan.

Sore itu, seorang anak berdiri di tengah gang dengan ponsel di tangan.

“Lihat ini!” katanya pada dua temannya.

Di layar, karakternya bersinar. Skin baru. Efek cahaya yang berbeda dari biasanya.

“Top up lagi?”

“Iya.”

“Berapa?”

“Lumayan.”

Tidak disebut angka.

Tapi cukup untuk membuat yang lain terdiam.

Yang tidak punya skin seperti itu menunduk sedikit.

Bukan karena kalah dalam permainan.

Tapi karena kalah dalam tampilan.

Di warung, Sarni memperhatikan anak-anak itu lewat.

“Kok sekarang bajunya saja tidak beda, tapi di HP beda,” katanya.

Bu Warung mengangguk pelan.

“Yang kelihatan sekarang bukan di badan.”

Sarni tersenyum hambar.

Karena benar.

Di dunia nyata, semua anak terlihat biasa.

Di layar, ada yang terlihat lebih mahal.

Di rumah Marlina, anaknya lebih sering diam akhir-akhir ini.

Bukan karena tidak main.

Justru karena main terlalu sering.

“Kenapa kamu tidak seperti kemarin?” Marlina bertanya.

“Teman-teman sudah pada punya skin baru,” jawabnya pelan.

“Kamu tidak?”

Anaknya menggeleng.

Marlina menatap dompetnya yang sudah mulai tipis.

Bukan karena dicuri.

Bukan karena hilang.

Karena digunakan untuk kebutuhan kecil yang tak pernah terasa besar.

“Kalau ibu tidak kasih, kamu malu?”

Anaknya tidak menjawab.

Itu sudah cukup sebagai jawaban.

Di pos ronda, pembicaraan makin konkret.

“Anak saya bilang kalau tidak punya item tertentu, dikatain miskin,” Fahri berkata.

“Di game?”

“Iya.”

Pak Leman menghela napas.

“Dulu orang malu kalau pakai baju jelek.”

“Sekarang malu kalau avatar jelek,” Fahri menyambung.

Beberapa orang tertawa kecil.

Tapi tawa itu pendek.

Karena mereka tahu itu bukan lelucon.

Malam itu, di ujung gang, konter pulsa lebih ramai dari biasanya.

Anak-anak datang berkelompok.

Bukan sendirian.

Lihat selengkapnya