KAYA SEKETIKA

Dwi Scativana Isnaeni
Chapter #30

Yang Tidak Pernah Dianggap Hilang #30

Minggu itu tidak ada laporan kehilangan.

Tidak ada yang berdiri di warung sambil mengeluh uang berkurang.

Tidak ada yang membuka laci dengan wajah panik.

Tidak ada yang menyalahkan lampu, jam, atau pagar.

Semua terlihat tenang.

Tapi pengeluaran tidak pernah benar-benar berhenti.

Ia hanya tidak lagi disebut “hilang”.

Di rumah Marlina, amplop belanja mingguan makin tipis sebelum akhir pekan.

Bukan karena harga beras naik.

Bukan karena ada tamu.

Bukan karena ada cicilan baru.

Melainkan karena sepuluh ribu di sini.

Lima belas ribu di sana.

Dua puluh ribu saat anak bilang, “Cuma sekali ini.”

Marlina mulai mencatat.

Bukan mencatat uang yang hilang.

Tapi uang yang “diminta”.

Hari Senin: top up sepuluh.

Rabu: tambah lima belas.

Jumat: beli voucher lagi.

Totalnya tidak terasa saat diberikan.

Tapi terasa ketika dijumlah.

Ia menatap angka itu lama.

Tidak ada yang dicuri.

Tapi ada yang terkikis.

Di rumah Fahri, suasana berubah.

Ia tidak lagi marah ketika anaknya meminta.

Ia justru bertanya.

“Kalau ayah kasih, kamu dapat apa?”

“Skin.”

“Skin itu bikin kamu menang?”

“Tidak selalu.”

“Lalu?”

“Biar tidak dikatain.”

Fahri terdiam.

Ia tidak bisa melawan ejekan anak-anak lain.

Ia tidak bisa ikut masuk ke dalam permainan itu.

Ia hanya bisa berdiri di luar, melihat bagaimana harga diri anaknya kini bergantung pada sesuatu yang tak bisa disentuh.

Di warung, Sarni mulai mengeluh bukan soal uang hilang.

“Sekarang yang susah bukan kehilangan,” katanya.

“Tapi menolak.”

Bu Warung mengangkat alis.

“Menolak apa?”

“Menolak permintaan anak.”

Ia menghela napas.

“Kalau tidak dikasih, mereka bilang semua teman sudah punya.”

Bu Warung menutup buku kecilnya.

“Kalau dikasih?”

“Besok minta lagi.”

Sore itu, konter pulsa kembali ramai.

Anak-anak tidak lagi bersembunyi saat datang.

Lihat selengkapnya