KAYAKNYA, NGGAK GINI DEH

Driansyaaa
Chapter #1

MAU NGAPAIN YAK ?

“HADOHHH !!! MAU BIKIN APA YA GUA?!!!”.

Teriak gue dalam hati pas dijelasin sama salah satu dosen yang mengawas siang itu di ruangan pengisian KRS (Kartu Rencana Studi) tentang apa itu “Penulisan Ilmiah” sebelum akhirnya gue dan temen-temen menuju barisan antrean untuk pengisian ulang Kartu Rencana Studi gedung administrasi siang itu.

“Le ?! ngapain kita le anjing ?!!”.

Tanya gue ke salah satu temen gue yang sebenernya namanya Galih, tapi panggilannya “Gale” sambil antri yang kala itu posisi gue dan beberapa temen gue satu deret.

“Lah kita? Lu aja kali put,,, gue mah sans ae atuh,,,anjay” Jawab Gale yang sambil menoleh ke belakang atau arah gue dengan gimik wajah cengar-cengir meledek hingga matanya terlihat tertutup,,, ya karena dia ada turunan darah oriental yang bikin mukanya agak kokoh-kokoh dari pada kita semua. “Dih serius egeee, gue dari awal gangerti apa-apaan perihal ‘IT-IT’ an ini leeee.” jawab gue sambil tertawa kecil menutup perasaan bingung. “Yaudahlah teee, santai ajaaa”. Jawab Gale sambil kembali menghadap barisannya dan membuka handphone.

Oiya,,,

“Teee”

Itu adalah panggilan kesayangan dari temen-temen gue, panjangnya sih Lonely Teenager, yang nggak panjangnya “Lonte”,,,, hmmmmm…. iya emang aneh, tapi itu disadari karena emang selama kuliah gue pejuang jomblo abis, kecuali sekarang Hehehehe tapi tetep panggilannya masih melekat dan udah jadi Personal Branding buat gue.

Siang itu sebenarnya gue janjian buat mengantre isi KRS ini bareng Gale dan juga Andre dan ada juga ‘harusnya’ satu lagi temen gue—cuma ni anak belum keliatan sampai detik kita masuk ruang administrasi—berkabar di grup sih katanya macet, cuma nggak tau macet dijalan atau “Macet dirumah pacarnya”.

“Mbe,,elu dimane?” ucap gue sambil mengeja kalimat yang sedang gue ketik di handphone. —”Ngapain lu tanyain lagi sih te? Kalau emang belum sampe yaudah masih dijalan berarti,,, tapi kalau emang diye belok lagi kerumah cewek-an nye yaudeee biarin ajeee”. Jawab Fahrul dari belakang gue yang lagi main game di handphone sambil masih mengantre.

“Mmm iya si—yaudah deh” gue pun kembali memasukkan handphone ke saku celana.”Eh rul!,,, mau bikin apa lu? Penulisan? Udah ada rencana ?” Tanya gue lanjut ke Fahrul yang ada dibelakang antrean juga. — “Hmmh, VeGe (Vain Glory) aja duluuuu nanti aja mikirinnya” Emang sih Vain Glory waktu itu lagi meracuni geng-geng an gue ini, karena menghadirkan sensasi mobile game yang seperti Dota untuk Handphone, karena menghadirkan Game Deffense Turret yang hanya dapat dimainkan secara mobile, nggak perlu berangkat ke warnet, nggak perlu nunggu waktu untuk nyala-in PC nya,,, atau kalau emang pc nya dirumah , mainnya nggak usah duduk, bisa sambil tidur-tiduran aja,,, ya mungkin itu salah satu alasan kenapa dan mengapa mobile game ini peminat dan penggunanya meledak drastis bombastis saat itu.

“VeGe terus dia mah ini dri sampe pulang yakin,,, nanti paling pulangnya minta disetirin motornya sama jin” Celetuk Bagus yang berada di antrean sebelah. Bagus ini salah satu dari temen geng-geng an gue yang paling sejalan dan seiman sama gue dan dia lah orang atau makhluk yang pertama kali gue kenal disaat ospek dengan latar belakang perkenalan yang agak aneh,,, dan diantara kami semua, dirasanya hanya gue, Andre dan bagus yang intensitas “sholat jum’at” nya masih lebih sering daripada penghuni kos-kosan.

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

*DISUATU JUM’AT DI TIAP MINGGUNYA

Jumat pertama dengan ALASAN PERTAMA: “Dri lu kelar jam berapa itu series ? udah jam setengah 11 nih, nggak mandi lu ? Jum’at an nggak ?” Tanya Bagus yang baru saja datang ke kamar kos siang itu.

“Udah put kelarin aja itu nanggung dua episode lagi tamat” Saut Galih yang siang itu juga ada di kos karena kebetulan sorenya kami ada jadwal kelas.

“Astaghfirullah aladzim Le! jangan gitu kocak (sambil tertawa kecil dan menunjuk ke arah gale) lu juga ayok sholat nggak?!” Tanya bagus mempertegas ajakannya juga kepada Galih.

“Ehiyaa (gue nengok ke arah jam) udah mau jam 11 ya! Lu mandi nggak le ? kalau nggak gue nih?” Tanya gue setelah menekan tombol spasi pada keyboard untuk nge-pause tontonan gue siang itu. “Nanti bego,,, masih ada Andre — Mau mandi berdua lu ?” Jawab Galih sambil menyender dan bermain Handphone. 

“Waduh! Ngantri yak?! Yaudah gue abis lo berarti ya le? — Eh lu gondrong udah mandi ?” Tanya gue ke Galih dan kemudian ke arah Ado yang sama-sama sedang bersandar dan bermain handphone.

“Duluan! Aman!” Jawab kedua orang ini yang entah kenapa bisa serasi dan samaan antara kata dan juga nada yang diucapkan.

“Aman tuh jumatan nggak tapi elunya ?” Tanya Bagus ke Ado dan Galih.

“Aman-aman,, duluan-duluan” Celetuk jawaban yang kembali sama antara Galih dan juga Ado

“Yeeee,, aman-aman ,,, sholaatt,, akherat lu tuh nanti nggak aman!” Ucap Bagus kepada mereka dengan ekspresi senyum mengejek.

Lihat selengkapnya