KAYAKNYA, NGGAK GINI DEH

Driansyaaa
Chapter #3

5W & 1H

Apa ya materi atau topiknya ? itu pertanyaan What nya, Siapa ya orang yang bisa membantu gue nya ? itu pertanyaan Who nya, Dimana gue ketemunya ? itu pertanyaan Where nya, Kapan ngajak ngobrolnya, atau kapan kira-kira gue mulainya ? itu pertanyaan When nya, Kenapa orang itu harus dikasih ujian di setiap perjalanannya ? itu pertanyaan Why nya, dan Bagaimana kira-kira gue menyelesaikan ini nanti ? itu pertanyaan How nya.

Setiap hari cuma itu aja yang ada dipikiran gue ketika melihat hari udah masuk di jam 5 Sore dan selalu dimulai dengan betanya dan ngomong sendiri dalam hati.

 Aduh, udah mau gelap. Tapi gue belum tau mau mulainya kek mana ?

Selalu, sering, setiap hari benar-benar setiap hari gue memikirkan dan bertanya-tanya hal yang sama karena dilandaskan rasa khawatir yang besar, ya mungkin ini juga salah satu konsekuensi gue karena selama kuliah suka menyepelekan beberapa hal yang harusnya gue prioritaskan malah gue kesampingkan.

Dibarengi dengan pernyataan bahagia dari kedua orang tua dirumah dan juga kakak serta kakak ipar  gue yang sebenarnya adalah kakak tingkat atau senior gue dikampus walaupun berbeda jurusan.

“Asiik,, anak mama udah masuk tingkat akhir nih, sebentar lagi jadi anak kantoran”

“Keren jagoan papa nih, jadi pengajar aja bisa membagikan ilmunya nanti!”

“Udah plan kerja dimana nanti de ?”

Gue cuma menjawab dengan nada yang sama bahagianya dengan nada smiling voice jawaban yang berbumbu positif di setiap pertanyaan— “Hehehe iya mah, nggak sabar kerja nih” — “Iya donggg, pengen sih pah jadi dosen atau guru, tapi lihat nanti deh rejekinya kearah mana” — “Udah nyiapin plan ke sini sih kak, sama ya paling buat sideplan ke tempat ini gitu sih”, yang sebenarnya ada dikepala gue padahal adalah:

“HMMM……………………ANJRITTT GUE NGAPAIN NIH YA”

Sampai yang biasanya di waktu kuliah gue sebelumnya, seminggu sekali atau semisal tidak ada kelas atau libur gue pasti pulang kerumah, karena kebetulan jarak dari tempat gue ngekos ke rumah orang tua gue, itu ya masih bisa ditempuh dengan jarak yang sebenarnya nggak melelahkan banget, tapi pun kalau gue harus pulang-pergi (PP) di setiap harinya ya lumayan melelahkan, makanya gue ngekos di daerah gue berkuliah.

Walaupun lagi nih ya, sebenarnya secara teknis gue tuh lebih ke ‘numpang di kosan orang’ bukan ke ‘ngekos’ dengan makna sebenarnya, karena kesannya kalau definisi makna ngekos sebenarnya kan, ini kamar gue, gue yang bayar, ya gue yang nempatin, gitu kan?. Nah kalau gue tuh lebih ke — kenal sama salah satu manusia di kota ini bernama Andre, yang kebetulan perantau dan ngekos di daerah dekat kampus, yang dimana waktu diawal-awal gue kuliah sebenarnya gue cuma numpang istirahat, kalau sehabis kelas sore, atau pas pulang kelas ternyata mendung dan gue harus singgah, untuk menunggu hujan nya turun atau sampai hujannya berhenti, beristirahat sebentar apabila tidak memungkinkan langsung pulang sehabis, baik ada kelas ataupun sehabis nongkrong-nongkong aja.

Lihat selengkapnya