Ke Mana Aku Berlari

Vicky L.
Chapter #2

Prelude

Hari ini adalah hari keseratus sejak Wa Dudi meninggalkan dunia.

Para ibu menyiapkan makanan, sementara para bapak berkumpul di ruang tamu untuk menyambut undangan yang datang. Anak-anak berseliweran di sekitar atau di luar rumah, sementara yang lainnya hanya duduk-duduk di depan televisi sambil mendengarkan ayat-ayat Al Quran yang dibacakan—atau, tayangan sinetron pukul delapan.

“Tuh, bapak-bapaknya udah pada pulang. Sok, anak-anak pada makan dulu, sana.”

Ketika mendengar kata ‘makan’, semua anak-anak—entah yang masih berseliweran atau yang dari tadi terduduk manis dalam rumah—berhambur menuju meja makan. Piring-piring berkelontangan dan suara-suara berisik memenuhi ruangan.

Sementara yang lainnya sibuk mengambil makan, sebuah kepala di ujung ruangan celingak-celinguk seperti mencari sesuatu. Anak laki-laki yang masih duduk di bangku kelas II SD itu tidak ingin makan dulu sebelum tahu apa yang pamannya ingin bicarakan.

“Selesai tahlilan, ada yang mau Om kasih tahu,” begitulah kata Om Beben sebelum pengajian dimulai.

Tahlilan sudah selesai, tetapi pamannya belum juga keluar dari ruang tamu.

“Kamu cari apa, Daffa?” tanya Darla, sepupunya, sambil kemudian duduk di sebelahnya dan mulai menyantap makanannya.

“Om Beben.” Daffa menjawab sekenanya, sementara pandangannya masih terarah ke pintu ruang tamu yang terbuka.

“Ada apa nyari Om Beben?” Darla mengernyit, memotong daging ayamnya.

Daffa mengerling daging ayam yang ada di piring sepupunya yang lebih tua itu. Sebenarnya ia lapar, tapi tidak akan mau makan sebelum Om Beben memberi tahu apa yang ingin dibicarakannya. Mengerling stoples biskuit yang ada tak jauh dari jangkauannya, Daffa dengan serta merta merampasnya dari Akbar kecil yang kemudian menangis dan berlari menghampiri ibunya.

“Makan sana, Daf,” sepupunya yang lain, Ryan, datang memberi komentar, menatap kepergian Akbar dengan tidak suka.

Kunyahan Daffa berhenti, digantikan oleh kernyitan kekesalan di dahinya. Daffa mendorong stoples biskuitnya ke arah sepupu lelakinya tersebut, langsung menyilangkan kedua tangannya di depan dada.

“Daffa mau ketemu Om Beben!” tegasnya ketika Ryan hendak mengeluarkan kata-kata mencela.

Ryan hanya berkedip beberapa kali, sebelum kedua matanya menerawang seolah mengingat-ingat. Kemudian ia mengangguk-angguk, mengambil jarak lebih dekat seperti ingin mengatakan sesuatu.

“A Ryan tahu da, apa yang mau Om Beben omongin.” Ryan meletakkan piringnya. “Jadi, nanti ada—“

Lihat selengkapnya