Parsley. Rumah itu beraroma parsley.
Matanya langsung beredar untuk mencari dapur, namun tidak berekspektasi akan menemukan dapur sebesar itu, yang langsung mengingatkannya pada dapur-dapur acara memasak di televisi, dengan peralatan mentereng yang menggantung-gantung di belakang pembawa acara.
“Rumahnya seadanya aja, ya, Lin,” celetuk Om Beben.
Colin menoleh, dan menemukan seringai jemawa serta pandangan usil dari pria itu. Ia mendengus terhibur.
Om Beben lalu masuk lebih dalam, membiarkan Colin diam-diam mengamati tempatnya tinggal.
Anak lelaki itu tidak mengharapkan apa-apa, sejujurnya, karena mendapatkan atap untuk tinggal saja menurutnya sudah sebuah berkah. Tetapi, Colin mau tidak mau bertanya-tanya; jika Om Kiki dibiarkan sendiri saja tanpa repot mengurusnya, apakah pamannya itu akan tetap tinggal di rumah kontrakan dua kamar yang airnya kadang tidak mau menyala?
“Kamu mau tidur di kamar atas atau bawah?” tanya Om Beben, berhenti di tengah ruang TV yang membentang.
Colin mengangkat bahu. “Terserah Om aja.”
“Bawah aja, ya? Biar kita selantai. Di atas kadang ada uka-uka[1], soalnya,” selorohnya, tertawa tengil. Colin hanya mengangguk.
Ketika sampai di ambang pintu kamar barunya, Colin menoleh ke dinding di sebelah pintu.
Bersih. Warnanya krim, mengingatkannya pada susu putih yang ditambah setengah sendok cokelat bubuk.
Ia lalu menghela napas dan melangkah masuk.
Kertas. Kamar barunya beraroma kertas.
*
Bagi Colin, memperkenalkan diri bukanlah hal baru yang dapat membuatnya gugup lagi. Dia bahkan tak ingin lagi bertanya kapan segalanya akan berakhir dan kembali normal seperti dahulu kala. Normal itu apa, lagian? Dahulu itu kapan?
Colin kini sedang berdiri di depan sekitar empat puluhan pelajar SMA, sementara guru di sebelahnya mengumumkan kedatangannya.
“Anak-Anak, ini ada teman baru, ya,” kata guru berkumis tebal itu (wali kelasnya?) dengan logat Sunda yang kental dan ogah-ogahan, mengulurkan tangan sebagai isyarat untuk Colin. “Yah, sok, kenalin diri dulu.”
“Halo. Saya Colin. Salam kenal.”
Sang guru tetap diam dan memandangnya, seolah menunggu kata-kata lanjutan—yang tak kunjung terdengar setelah beberapa detik keheningan.
“Eh …. Nah, ya udah, ini Colin, ya,” ulang guru itu. “Silakan, kamu duduk di bangku kosong sebelah Sangiang, ya.”
Colin nyaris terbelalak dalam diam setelah mendengarnya—sebab, bisa-bisanya seorang guru bicara macam itu di depan kelas?—hingga akhirnya kedua matanya mengikuti arah guru itu menunjuk: seorang anak laki-laki bertampang nerdy.
Tanpa berkata-kata, Colin duduk di bangku yang dimaksud gurunya, menggeletakkan tasnya di kaki meja. Ia sempat melayangkan sekilas senyuman pada salah satu keponakan Om Beben, Ryan, yang duduk di belakangnya. Mereka sekelas, ternyata.
“Hai,” sapa teman sebangkunya. Colin melirik nama di seragamnya: Sangiang Dewa Pugar. Jadi itu maksudnya, ia membatin.
Sebelum Colin menarik napas, anak berkacamata itu sudah memberondongnya.
“Karena kita sekarang sebangku, gini aturannya: dengar dan perhatiin pelajaran baik-baik, karena saya enggak akan ngasih tahu diktean guru atau minjemin catatan. Enggak usah ngobrol-ngobrol selama jam pelajaran—dan yang terpenting ...,” anak itu menunjuk garis hitam tepat di sebelah tangan Colin, “dilarang melewati batas ini pas lagi ada ujian.”
Dia membenarkan posisi kacamatanya, menatap Colin dengan otoriter.
“Oke, ya! Oh, panggil saya Dewa.”
“Enggak, ketang! Biasa juga dipanggil Sangi,” sambar seorang anak di sebelah meja mereka, terkekeh-kekeh mengejek dengan teman sebangkunya. Sangi memicingkan mata mencela.
Colin hanya berkedip, lalu mengembuskan napas panjang. Ia pada dasarnya memang tidak mau banyak tingkah atau mencari teman-teman, karena tahu hanya punya diri sendiri untuk diandalkan.
Tapi, ada hal-hal yang kadang luput diingatnya, seperti alat tulis yang ketinggalan. Karena Sangi juga tidak memberlakukan pinjam-meminjam, Colin terpaksa meminjam penyerut anak bernama Lingga yang duduk di depannya. Lalu ia meminta izin untuk keluar dan menyerut pensil.
Menyerut gundulmu.
Awalnya ia memang ingin menyerut pensil, tapi lama kelamaan mood-nya untuk mengikuti pelajaran Bahasa Indonesia sudah tidak dapat ditemukan lagi. Maka dari itulah Colin lebih memutuskan untuk jalan-jalan mengitari sekolah barunya.
Colin memakaikan earphone di kedua telinganya dan menyalakan musik di ponselnya. Untuk menambah epik suasana, kebetulan lagu yang langsung diputar on shuffle adalah “Mobile” oleh Avril Lavigne. Ia menyeringai mengejek. Lagu itu seolah sedang mengoloknya dengan lirik yang sangat pas dengan keadaannya saat ini.
Went back home again
This sucks, gotta pack up and leave again
Say goodbye to all my friends
Can’t say when I’ll be there again
It’s time now to turn around, turn my back on everything
Semuanya berganti lagi, harus dijalani dari awal lagi. Lupakan yang sudah-sudah, tinggalkan apa yang terjadi di belakang. Atribut apa pun yang terbawa dari masa lalunya lagi-lagi perlu ia bungkam dan sembunyikan di ruang tertentu, karena di sini, tak akan ada yang tahu. Di sini, ia bukan dirinya yang dulu.
Terkadang keterasingan macam ini menawarkan suaka aman tersendiri. Perlu bersyukur atau tidak?
Suara sepatunya bergaung di koridor yang kosong, bersaing dengan suara-suara kegiatan belajar-mengajar. Colin mengerling jamnya, masih tersisa setengah jam lagi sampai bel istirahat. Masih lama sekali.
Drrrttt …. Drrrttt ….
Ponselnya bergetar, menyuarakan gesekan biola dari intro lagu “Afterlife” oleh Avenged Sevenfold yang seperti disetel dengan volume maksimal. Ia lupa menyalakan mode hanya getar.
Telepon dari Om Kiki. Colin tidak dapat menebak apakah ini baik atau buruk.
“Halo?”
“Halo, Lin? Lagi di mana ini, kok sepi amat?”
“Di koridor.”
“Koridor apaan?”
“Sekolah.”
“Oh, lu udah sekolah? Kenapa enggak masuk kelas?”