“Bagi PR, euy. Urang[1] belum ngerjain, nih. Mana sekarang Bu Lastri, lagi.”
“Aing[2] juga banyak yang belum, anjir. Sang, bagi, Sang!”
“Ada PR apa?”
Pembicaraan itu terhenti seketika.
Rupanya insiden dengan Barominel Deo bukanlah salah satu aksi yang dapat kau hilangkan seenak jidat. Ada banyak mata, ada banyak kepala, dan mereka melihat lalu mengingat.
Setidaknya, itu yang disimpulkan Colin setelah melihat reaksi Ryan.
Oh, betapa anak itu tidak senang. Dua matanya memandang lurus pada si anak baru, menyipit, tak berunsur kebaikan, walau lantas empunya berdiri tegak dan berlalu ke bangku lain untuk mencari sontekan bersama Habib.
Colin hanya menanggapinya sambil lalu, kemudian duduk di bangkunya sendiri. Ia memandang Sangi yang sedang ongkang-ongkang kaki dengan satu buku pelajaran di tangannya.
“Ada PR apa?” ulang Colin.
“Bahasa Inggris.”
“Oh.”
Sangi, bagaimanapun juga, tertarik dengan ketiadaan ekspresi teman sebangkunya tersebut. Anak lelaki berkacamata itu menyeruput minumannya (ini masih pagi, dan ia sudah membeli sekotak minuman dingin), lalu bertanya dengan ketus, “Kamu udah ngerjain?”
“Belum.”
“Terus kenapa gak ngerjain sekarang?”
“Metode gurunya gimana?”
Sangi mendelik. “Bu Lastri biasanya manggil anak sesuai absen, terus meriksa PR-nya satu-satu. Kalau ketahuan nyontek, minjem punya orang, atau gak ngerjain, disuruh keluar.”
“Oh.”
Terpancing, Sangi. “Kok, kamu masih santai sih?!”
“Emang aku harus kayak gimana?” Colin melempar tampang lelah. “Cari contekan kayak si Ryan itu?” Ia mengedik kepada Ryan (yang mengernyit tidak suka).
“Ya, seenggaknya kamu coba cek PR-nya kayak gimana, gitu!” Sangi masih bersikeras.
Colin menghela napas. “Ya udah, elah, cerewet amat, lu. Halaman berapa?”
“Lima-enam.”
TEEET! TEEET! TEEET!
“Bel bunyi. Udah telat buat ngerjain, Sang.” Panggilannya apa, sih? Sang? Ngi? Sangi kan kepanjangan. Nama macam apa pula itu.
“Selamat menghabiskan waktu di luar aja, Lin.” Sangi mendengus mengejek. “Kamu baru masuk udah bikin banyak masalah aja, ya, tapi. Mau ditambah dengan ini pula.”
“Oh, kamu tahu ada masalah? Aku kira kamu demennya Matematika doang, Sang, bukan gosip.”
“Yah, aku kan gak secupu—“
“—yang terlihat? Susah, sih, Sang. Udah default nerd banget emang setelan lu.”
Namun anak itu tidak sempat membalas perkataannya, karena pintu kelas telah terbuka. Ruangan mendadak hening akibat kedatangan seorang wanita mungil dengan rambut hitam yang diikat tinggi.
Mereka berdoa, mereka memberi salam, dan Colin dapat merasakan gerakan di belakangnya, di bangku tempat Ryan memancarkan aura paniknya dan mencoba sekeras mungkin untuk menyelesaikan barang dua soal yang telah ditugaskan. Namun, mungkin tidak ada sedikit pengetahuan Bahasa Inggris Kelas XI yang sudah benar-benar dikuasainya.
“Ada PR, ya?” tanya Bu Lastri, tersenyum.
“Ada, Buuu!” Dalam urusan jawab-menjawab guru, Sangi paling semangat. Bocah itu mengirimkan satu seringai (lagi) pada Colin yang hanya berdecak di sebelahnya.
“Baik. Ibu absen satu-satu, ya.”
Sangi terkekeh di sebelah Colin. “Nanti aku kasih tahu ringkasan materi hari ini,” katanya, mencoba rendah hati. “Kalau inget.”
Colin tetap tidak menampakkan reaksi. Pandangannya lurus ke depan, seolah menanti Bu Lastri untuk sampai pada namanya. Awalannya C, lagi pula. Tidak akan memakan waktu lama.
“Disagreeing with an opinion, ih! Satu aja, Bib!” Ryan, panik di belakangnya.
“Urang juga belum yang itu mah! Giving advice, coba!” Habib, sama-sama panik.
“Itu gak ditugasin, anjir!”
“Ya udah, ngarang we!”
“Ngarang kumaha, urang tahu materinya aja enggak!” Ryan, makin panik. “Sang, disagreeing, Sang, bantuin!”
“Adrian Mahesa.”
“HWANJING—“
“Sana keluar, Yan.”
“Sang, disagreeing—“