Ketika tahu bahwa dapur itu memang tak hanya dipajang untuk menyegarkan mata, Colin mulai melihat Om Beben dengan pandangan berbeda. Pria itu memang selalu berangkat lebih siang darinya, pulang lebih malam; bangun lebih pagi, tidur lebih malam. Namun, terlepas dari urusan rumah tangga lainnya yang memang dibantu Bi Ai, Om Beben masih bisa menyempatkan waktu untuk membuat aneka santapan di rumah.
Kali itu, kendatipun mengetahui keributan yang menimpa keponakannya, Om Beben tetap memasak untuk Colin—bahkan pulang lebih awal. Karena melewatkan makan siang, dan masakan Om Beben yang memang lezat, Colin melahap habis makanannya. Jamur panggang mozzarella, katanya.
“Maaf, Om. Saya beneran gak tahu kenapa Ryan tiba-tiba nyerang saya.”
Om Beben menepuk-nepuk pundaknya dengan sabar, tersenyum miris.
“Enggak, Om yang minta maaf. Si Ryan gak biasanya liar kayak gitu.”
Colin hanya diam. Kedua matanya menembus piring yang kosong, terpaku pada pasir pantai dan kerang-kerang imitasi di balik kaca bening meja makan. Sebelah tangannya mengompres pipi kiri dengan sapu tangan yang berisi es batu.
Si Ryan itu mungkin kerasukan setan sekolah atau semacamnya, tetapi serangannya tidak main-main dan, ya, menyakitkan. Sebelah wajah Colin bonyok.
Anak sialan. Dia barangkali senang karena telah sedikit-sedikit menapaki jejak yang sama seperti idolanya, si Barominel Sialan Deo. Tukang cari perhatian. Apa yang begitu spesial dari remaja tukang onar yang modal tampang pun tak punya?
Sialan.
“Om besok ke sekolah kamu, ya. Jam berapa?”
Meski begitu, Colin merasa tidak berhak melibatkan Om Beben dalam masalah bodohnya bersama si bocah bodoh. Jika ia mendapat satu beban karena menjadi yang menyusahkan, ia tak ingin menambah beban lain. Maka ia merasa bersalah, merasa perlu banyak-banyak meminta maaf kepada Om Beben meski, benar, bocah berandal keponakannya itulah yang salah. Namun Colin terlibat; Om Beben terlibat.
“Om ... gak perlu datang,” ujarnya tiba-tiba, pelan. “Pertemuannya waktu Om kerja. Saya gak mau pertemuan macam ceramahan kepsek menghambat kerja Om. Tapi ..., Om bisa telepon sekolah saya dan bilang Om gak bisa datang, karena Om emang gak bisa datang. Plus, saya gak mau Om datang.”
Om Beben terdiam sejenak. Raut wajahnya bingung, memandang Colin yang menunduk. “Gak apa-apa kok, Lin. Om bisa atur waktu.”
“Serius, Om. Gak perlu.” Colin menatap pria itu sungguh-sungguh. “Saya cuma butuh Om buat nelepon sekolah saya aja, bilang apa adanya soal keadaan saya. Itu cukup. Saya gak mau Om keganggu. Lagian,” ia menjeda, tapi menambahkan senyum tulus, “yang dipanggil bukan teman paman saya, tapi orang tua saya.”
TENGTONG!
Percakapan mereka terhenti.
Darla dan Daffa muncul dari balik pintu yang dibukakan Om Beben. Setelah melihatnya, mereka langsung tersenyum dan melambaikan tangan padanya. Colin tak ingin mengetahui alasan mereka berkunjung.
Om Beben pergi setelah menepuk pundaknya, berbisik bahwa pria itu tetap akan datang dan memberi tahu Om Kiki perkara ini. Dan seharusnya sore itu berakhir dengan Colin yang lalu melemparkan tubuhnya di atas kasur dan melupa dalam tidur.
Segera mengambil langkah menghindar, Colin buru-buru mencuci piringnya, memunggungi kedua sepupu itu.
“A Coliiin!” Daffa otomatis telah berdiri di sampingnya, menatapnya dengan dua mata besar yang khawatir. “Sama A Ryan diapain?!”
“Gak diapa-apain,” jawabnya, membuang muka.
“A Ryan mah padahal gak berani tinju-tinjuan, ih! A Ryan mah cemen. Pasti A Colin yang mulai ngajak berantem, yaaa?” tanya Daffa.
“Enggak.”
“Hah? Terus kenapa A Colin sama A Ryan—“ Daffa berhenti tiba-tiba ketika matanya mengerling jam dinding, kemudian membulat, kemudian ia panik, lantas berlari ke ruang televisi.
Mata Colin mengikuti langkahnya, bertanya-tanya, sebelum ia mendapatkan jawabannya.
“Spongebob.” Itu Darla. “Udah jam empat.” Gadis itu terkekeh pelan serta canggung, sementara Colin hanya meresponsnya dengan keheningan tanpa kerlingan.
Namun, Darla tetaplah Darla: tidak bisa tutup mulut.
“Colin, aku minta maaf soal yang waktu itu, ya.”