Semalam, Om Kiki meneleponnya hanya untuk memberikan wejangan selewat. Pamannya itu memang khawatir, tapi lebih cemas lantaran lawan perkelahiannya adalah keponakan Om Beben sendiri. Colin sangat tahu betapa pamannya merasa bersalah, dan kali sepuluhlah perasaan bersalah itu hingga bisa menyamai perasaannya sendiri. Tapi Om Kiki tentu tak tahu itu.
“Ya udah, entar gua telepon sekolah lu,” kata omnya semalam.
“Enggak usah. Udah mau ditemenin Om Beben ke KepSek.”
Om Kiki mengembuskan napas. “Bener, yang mulai keponakannya Om Beben?”
“Kapan gue tonjok-tonjokan, Om? Biasanya juga kuper.”
“Ya, iya, sih. Ya udah, lu udah minta maaf ke Om Beben, kan?”
“Gak perlu disuruh, kali.”
“Good, good. Om Beben masih bangun, gak? Gantian, mau gua telepon.”
“Orang seumuran lu wajarnya jam 3 pagi udah teler, sih, Om.”
Om Kiki hanya terkekeh garing.
Kini, dalam perjalanan menuju Ruang Kepala Sekolah, Colin diberi tahu Om Beben untuk tetap tenang, seperti yang dikutip langsung: “Kalem aja, Lin. Bapaknya si Ryan téh kakak Om, jadi santai, lah.” Pria itu nyengir lebar.
Om Beben tak tahu bahwa itu justru membuat rasa bersalah si anak lelaki kian bertambah.
Mereka menghabiskan waktu beberapa menit dengan menunggu di luar ruangan. Colin terduduk sabar, bersandar ke tembok di belakangnya. Ketika pintu ruangan terbuka, Kepala Sekolah Yanto pun muncul lalu menyuruhnya masuk. Ryan sudah terduduk di sana bersama ayahnya (yang pernah Colin lihat di acara pengajian waktu itu).
Sekilas memperhatikan, Colin menilai bahwa ayah si pembuat onar itu tampak tidak seburuk anaknya. Garis wajah pria itu terlihat tegas, tetapi air mukanya mengesankan bahwa ia adalah orang yang ramah dan penyabar.
Jika anak yang harus diurusnya adalah tipe berandal seperti si Ryan, jelas dia memerlukan kesabaran yang sangat banyak.
Tak sengaja, pandangannya jatuh pada wajah Ryan yang kusam dan jelek, yang merengut sedemikian rupa hingga Colin yakin ekspresinya akan membuat mual orang yang melihat. Namun, Colin agak heran; rasanya kemarin ia cukup banyak melayangkan pukulan, tapi mengapa wajah bocah itu tidak lebam?
“Jadi ini, Pak Cahya, anak yang berkelahi sama Adrian kemarin itu,” ujar Pak Yanto, mengedikkan kepala ke arah Colin.
Ayah Ryan menoleh, memberikan senyum tipis, yang terlihat bagai senyum tidak ikhlas, tapi menurut Colin, mungkin memang begitu setelannya.
“Iya. Saya sudah bicara tadi sama Pak KepSek. Colin yang itu, ya?”
Colin ‘yang itu’? Sepertinya Ayah Ryan merujuk kepada pertemuan pertama mereka di pengajian.
Colin mengangguk. “Iya, Pak. Colin yang itu.”
“Jadi, gimana ceritanya ini, sampai kalian berkelahi?” tanya Pak Yanto.
Dari ujung matanya, Colin dapat melihat wajah Ryan yang semakin jelek.
“Saya sama Ryan disuruh keluar di pelajaran Bu Lastri karena kami sama-sama gak ngerjain PR, Pak,” mulai Colin. Dobel disemprot lu, Yan. “Pas udah di luar, rupanya Ryan gak bisa ngobrol lama-lama sama saya. Itu mungkin dilatarbelakangi kejadian sama Barominel Deo—“
“Si Barominel Deo?!” potong Pak Yanto di oktaf yang agak tinggi. Colin mengangguk. Om Beben dan Ayah Ryan tampak bingung, maka Pak Yanto pun menjelaskan. “Barominel Deo itu anak nakal, Pak. Halah, mending kalau akademiknya oke, lha ini.”
Ayah Ryan, setelah menoleh untuk melihat kepada anaknya (yang masih diam dan tunduk di bawah tatapan ayahnya), bertanya, “Emang kejadiannya gimana, Colin?”
“Saya diajak gabung klubnya dia, Pak.”
“Halah! Jangan mau kamu masuk klub macam si Barominel itu!” sergah Pak Yanto, sama sekali tidak santai.
“Enggak, Pak, saya tolak kok.” Colin segera mengonfirmasi, dalam hati menahan tawa.
“Terus, apa hubungannya sama Ryan?” tanya Ayah Ryan lagi.
Setelah mengerling Ryan yang berwajah masam, Colin menjawab, “Ryan pro banget kayaknya, Pak.”
“Emang Ryan ikut klub dia?”
“Enggak, Pak.”
Ayah Ryan semakin tidak mengerti. “Terus kenapa Ryan marah-marah?”
“Saya juga gak tahu, Pak.”
“Iya, iya,” sela Pak Yanto. “Jadi gimana itu kronologisnya sampai kamu dipukulin si Ryan?”
“Pak!”
Ryan akhirnya angkat suara dan bangkit berdiri. Seluruh orang di ruangan itu menoleh padanya.