Ke Mana Aku Berlari

Vicky L.
Chapter #7

Karma

Colin memacu motornya keluar dari gerbang sekolah—nyaris menabrak Ryan yang melintas di depannya. Keduanya sama-sama terkejut. Namun, berlatar belakang jengkel dan usil, Colin menekan tombol klakson dengan ibu jarinya, membunyikan nada melengking yang serta-merta membuat anak lelaki kurus di depannya melonjak minggir dengan lebih kaget. Melempar seringai mengejek, Colin pun berlalu.

Ia sempat terkekeh-kekeh puas sebelum sadar tidak tahu harus ke mana. Colin tidak mengenal kota yang ditinggalinya sekarang (bukan berarti ia mengenal kota-kota yang sebelumnya), dan ia juga tidak sudi tanya-tanya. Setelah dirasa tak terlihat anak-anak lain, sepeda motornya diberhentikan di samping warung kosong. Ia tidak bisa berpikir sambil berkendara. Ketika tengah berpikir, ia mendengar cekikikan berisik perempuan dari seberang jalan.

Colin buru-buru menutup kaca helmnya yang gelap agar tidak dikenali, sebab yang di depan sana adalah Darla dan teman-temannya. Asumsinya, mereka akan nongkrong.

Lebih karena tidak ada kerjaan dan bukannya ingin menguntit Darla atau semacamnya, Colin menengok kiri-kanan sebelum memacu motor mengikuti laju angkot yang dinaiki Darla dan kawan-kawan. Siapa tahu ia akan dibimbing pada taman bermain menakjubkan di kota ini, kan?

Angkot Darla benar membawanya ke jalan yang belum pernah ia lalui (meski Colin memang belum pernah menelusuri kota ini sebelumnya). Melewati mal besar yang terletak di seberang perempatan, Colin disuguhkan variasi tempat makan, belanja, dan semacamnya. Ia mencebik. Anak ini bukan tipe penongkrong kafe atau mal. Maksimal ia hanya akan berkunjung ke toko buku atau Game Master, jika bukan kamar.

Pikirnya, angkot hijau itu akan berhenti di samping mal, membawa turun Darla dan teman-temannya. Namun mereka masih terus melaju, dan Colin mendapati dirinya terus mengekor alih-alih mencari tempat sendiri.

Tak lama, dugaannya terbukti benar. Darla dan kawan-kawan memang akan nongkrong di mal, hanya bukan mal pertama tadi, sebab tak jauh di depannya berdiri satu bangunan besar lainnya.

Buru-buru memacu kendaraan menyusul angkot, Colin nyaris saja bertabrakan dengan mobil SUV hitam yang tiba-tiba muncul di depannya. Sebagai ganti, ia kedapatan disemprot dengan klakson membahana yang membuat keningnya serta-merta mengerut karena dipermalukan. Karma. Tanpa berniat mengalah, toh bocah itu tetap bersikeras tidak mempersilakan si SUV maju duluan dan buru-buru bermanuver melaluinya.

Ia nyaris membatalkan niat untuk jalan-jalan sendiri lantaran satu babak konflik lalu lintas barusan, tapi alam bawah sadarnya telanjur mengatur kedua tangan untuk membelokkan kendali motor masuk ke tempat parkir.

Selesai memarkirkan motor, ia bergegas mengenakan hoodie-nya. Siapa tahu ia benar-benar bertemu Darla.

Maka tak ayal jika ia terkejut ketika seseorang menepuk bahunya.

“Kak Colin.”

Kak?

Sesungguhnya Colin enggan mengindahkan, terutama ketika paham bahwa itu bukan Darla, tapi langkahnya kepalang diiringi seorang anak perempuan yang tersenyum ramah. Colin tidak bertanya tentang kehadirannya atau identitasnya, hanya menatap.

“Feby, sepupu Téh Marlin yang tadi pagi,” ungkapnya.

Colin tak tahu apa yang harus dilakukannya, karena mereka baru kenal tadi pagi. Ia hanya mengangguk saja.

“Sendirian, Kak?” tanya Feby.

Anggukan kedua.

“Mau ke mana emangnya?”

“Kamu mau ke mana?” Biar aku nanti pergi ke tempat yang enggak kamu kunjungi.

“Aku mau nonton di lantai empat.” Feby tersenyum.

“Oke. See you.” Anggukan ketiga, lalu Colin berjalan tanpa menunggu respons gadis itu.

Sayangnya—entah para anak perempuan memang pada dasarnya satu sifat atau bagaimana—bagai Darla, Feby pun tak urung pergi setelah usiran tak tersurat barusan. Yang ada, gadis itu mengekorinya, berusaha menyamai langkahnya, masih tersenyum.

“Kak Colin mau ke mana?” tanyanya bersikeras.

Colin menahan napas. “Feby, kalau aku mau jalan bareng teman, aku bakal bawa teman, kan?”

Gadis itu kebingungan.

“Kamu lihat aku bawa teman, enggak?”

“Enggak, Kak …?”

“Berarti aku enggak mau ditemenin. Bye.”

Colin merogoh saku jaketnya dan mengeluarkan earphone, berusaha menggebah anak perempuan itu dengan gestur subtil lainnya, jika memang dia masih berusaha mengikuti. Tapi selang kerlingan singkat ke sebelahnya, Colin mengembuskan napas lega karena Feby akhirnya tertinggal di belakang.

Sebenarnya ia tidak tahu tujuannya kemari. Impulsnya menyala begitu saja ketika mendapati Darla sedang ketawa-ketiwi bersama teman-temannya, dan entah mengapa ada rasa penasaran tak penting yang membuatnya perlu tahu kegiatan macam apa yang dilakukan gadis itu dan kroni berisiknya.

Ketika tiba di lobby, Colin dengan cuek bersandar di tembok dan memperhatikan sekitar, mencari Darla. Tak lama, bingo, itu dia, bergandengan tangan dengan tiga anak perempuan lain berpenampilan serupa: bersweter, berseragam, berekspresi cerah ceria. Colin menundukkan pandangan, meski posisinya kali ini mustahil terdeteksi.

Gerombolan anak perempuan itu menaiki eskalator pertama.

Lalu kedua.

Lalu ketiga.

Lihat selengkapnya