Di salah satu bangku kantin bawah, Colin menyisihkan diri dari keriuhan di lapangan. Benar kata Marlin, OSIS mereka kedapatan dana melimpah untuk digelontorkan pada nama-nama musisi besar tanah air, hingga bahkan anak-anak sekolah lain pun berbondong membeli tiket. Sebenarnya, ia tak tahu soal yang terakhir, sehingga ketika Darla (yang, Colin duga, dibujuk Om Beben) menyambanginya untuk ke pensi sama-sama, Colin—lantaran menghargai Om Beben alih-alih sungguhan ingin pergi—mau-mau saja datang. Ketika keriuhan itu sudah dapat didengarnya bahkan berbelas meter sebelum sampai gerbang sekolah, nyaris saja ia memutarbalikkan kendaraannya.
“Tenang aja, entar aku temenin terus, kok!” Darla sesumbar ketika ia memarkirkan motor.
Pada akhirnya, Colin ditinggal juga.
Memang hampir seluruh sekolah ramai oleh stan makanan dan lain-lain, tapi itu berarti ia harus bertemu orang-orang, sementara Colin tidak ingin bertemu orang-orang. Agak sulit baginya menemukan tempat yang sepi tetapi masih terlihat jika Darla memutuskan untuk pulang. Hingga, ketika anak-anak kelas XII memutuskan untuk berhenti duduk-duduk di kantin bawah, Colin akhirnya menemukan kesempatannya untuk menunggu sendirian.
Remaja enam belas tahun itu menggulir-gulirkan es batu dalam gelas plastik Pop Ice-nya yang membosankan, tak tahu harus apa selain menunggu Darla selesai memenuhi kewajibannya sebagai anak eksis sehingga ia bisa pulang.
Akan tetapi, Colin lebih memilih diam begitu saja di kantin sendirian, daripada harus ditemani segerombol berandalan yang sudah sukses ia lupakan.
Hanya saja, kali itu, klub mereka punya anggota tambahan.
Tak jauh beda dari pertemuan pertama mereka, Colin hanya menengadah memandang Barominel Deo dan dua kroninya, serta Ryan, menunggu mereka menuturkan maksud. Sebagai informasi saja, memar di wajahnya sudah pudar. Barangkali jatah bogem mentah malam ini akan mendatangkannya lagi.
“Waktu itu elu ngatain gua?” Akhirnya, Minel bersuara. “Sini, ngomong langsung sama gua.”
Belum apa-apa, Colin sudah merasa sangat lelah. Ia mengembuskan napas panjang.
“Udah malem, lah, Bang. Besok lagi aja, kalau mau berantem,” ujar Colin, mengembalikan fokus pada es batunya.
Di luar dugaannya, Minel tertawa terbahak-bahak. Colin mengernyit, namun tetap mempertahankan pandangannya.
“Masih aja, ya, lu!” tawa Minel. “Serius, dia udah berapa lama, sih, sekolah di sini, Cel?”
“Dua bulanan doang, meureun, Bang,” jawab Ryan.
“Hafal bener, Adrian sang Jagoan?” Ini, Colin sadari, adalah celetukan yang tak seharusnya terlontar. Cuping hidungnya pun langsung mengerut dalam penyesalan. Ia hanya ingin mereka semua enyah dari sana, dan singgungan itu justru akan memperkeruh suasana.
Namun, mengejutkannya, Ryan hanya terperangah, tak membalas atau bahkan terlihat hendak bertindak.
“Lu kalau ada urusan sama dia, bilang sini sekalian sama gua,” cerocos Minel. “Kita ngobrol aja dulu, gak perlu sampai kelahi-kelahi. Ya, gak?” Dia menoleh pada tiga kroninya, meminta persetujuan. Mereka mengangguk-angguk patuh.
“Saya enggak ada urusan sama Abang,” sahut Colin. “Saya juga enggak ada urusan sama si Ryan. Saya enggak ada urusan sama siapa-siapa. Yang ngedatengin saya dari awal, kan, Abang. Lah, udah tahu saya enggak mau ikut-ikutan, malah marah enggak jelas. Si Ryan juga. Saya enggak mau ada urusan sama dia, malah ikutan marah. Ini klub atau kultus, sih? Pemikiran, kok, harus sama semua.”
“Yaelah, sini berdiri lu!” Minel tiba-tiba menarik kerah kaos di balik kemeja flanelnya, hingga Colin sedikit tercekik dari samping, mau tak mau berdiri. “Emang gak bisa, ya, lu dibaik-baikin. Kemarin, pas elu pukulin, dia ngapain, Cel? Langsung ciut?”
“Iya, Bang,” jawab Ryan.
“Sekarang lu mau berantem lagi? Mau apa, gua tanya?”
“Bacot bener. Mau pukul, ya, pukul aja langsung,” tukas Colin.
“Kak Minel!”
Itu suara perempuan.
Di belakang Minel, dua kroninya, dan Ryan, Darla dan tiga temannya tengah berdiri dengan wajah tak bersahabat. Remasan tangan Minel pada kaosnya melonggar, dan Colin buru-buru memanfaatkan kelengahan itu dengan menepiskan tangannya keras-keras, lalu mengambil jarak mundur dua langkah.
“Ada apa, ya?” tanya Darla, kasual namun mematikan.
“Darla, enggak usah ikut-ikutan!” Ryan berbisik memperingatkan.
“Aku mau pulang.” Darla berujar sengit, menatap sepupunya dengan mata memicing. “Kalau Colin kalian gebukin, aku pulang sama siapa?”
“Eh, Kak Minel bisa antar Darla, kok,” celetuk Minel.
Colin nyaris terbahak mendengar nada menggelikan yang tak dinyana terlontar dari mulut si rancung tukang bully itu. Ia tahu mengenai relasi Ryan-Minel, tapi sungguh melewatkan relasi Darla-Minel yang tampaknya jauh lebih menarik ini. Bagaimana bisa, bocah sok intimidatif yang barusan mengancam hendak menghabisinya kini berkata-kata lembut nan menjijikkan? Colin bersumpah akan menelan es batu jika Darla terpengaruh dengan … apa pun yang sedang diusahakan si Minel itu.
“Enggak, Kak, makasih.” Tanpa memandang Minel sama sekali, Darla berjalan melewati para remaja lelaki, lalu menarik tangan Colin untuk pergi.
“Aku duluan, yaaa!” pamitnya, lebih kepada tiga temannya.
Colin nyaris bersyukur karena mereka nyaris mencapai parkiran tanpa berkata-kata, tetapi bukan Darla jika tidak kelebihan bicara. Anak perempuan itu kini tak memakai bandonya, membiarkan rambutnya tergerai, dengan poni dijepit pinggir. Ia memakai sweter merah yang dimasukkan dalam rok jeans selutut, serta sepasang sepatu sneakers yang biasa dipakainya sekolah. Dan kini, ekspresi wajahnya terlihat masam benar.
“Aku heran,” mulainya sembari memakai helm, “kenapa, sih, si Ryan malah ikut-ikutan si Minel? Udah bisa mukulin orang lagi juga. Dia tuh gak kapok, emang?”
Colin tidak menjawab, asyik memakai jaket.
“Terus sekarang, sok-sok jadi jagoan—enggak, sok-sokan jadi bully. Apaan, coba?”
Colin tidak menjawab, asyik memakai helm.
“Maunya apa, sih? Orang kamu enggak ngapa-ngapain juga!”
Colin tidak menjawab, sibuk mengeluarkan motor dari impitan dua motor lainnya.
“Nyari pelampiasan dengan kekerasan kayak begitu, tuh, dari dulu udah gak bener. Kamu capek, enggak, sih, ngurusin dia?”
“Aku lebih capek dengerin kamu ngomong, Darla.”
Colin sudah duduk di motor, menunggu gadis itu selesai berceloteh. Selama beberapa detik, Darla memandangnya bingung, hingga akhirnya tertawa. Colin pikir, biar saja dia tertawa, agar terhibur, lalu puas, supaya Colin bisa pulang juga. Akan tetapi, setelah tawa yang cukup lama itu, Darla tidak kunjung menaiki motornya. Gadis itu hanya berkacak pinggang, lalu kembali memandang Colin yang memalingkan wajah lurus ke depan.
“Kamu sama sekali enggak keliling-keliling, tadi?” tanya Darla.
“Aku di kantin. Kan, aku udah bilang, aku nunggu kamu beres aja.”
“Banyak yang nunggu kamu, loh,” kata Darla, merenung. “Feby juga tadi ada. Katanya, minggu kemarin, kalian nonton lagi?”
“Enggak.” Ini bukan sepenuhnya kejujuran, bukan pula kebohongan. Minggu kemarin memang mereka, secara kebetulan, berada dalam studio bioskop yang sama, di bangku berbeda. Colin nyaris berhasil menyelinap melarikan diri, tapi Feby mengejarnya, dan entah bagaimana memerangkapnya hingga Colin terpaksa mengantarnya ke gerbang kompleks tempatnya tinggal.
“Oh …,” kata Darla, tidak benar-benar memperhatikan, karena kemudian dia seolah tersambar sebuah ide brilian. Gadis itu buru-buru naik ke motor. “Kita mampir dulu ke situ, yuk!”
“Ke mana?”
“Makan kue balok!”
Colin tidak tahu apa yang dimaksudnya, tetapi pada akhirnya mereka berdua duduk berhadapan di sebuah tenda makanan kaki lima. Dua piring kue bolu, berbentuk balok sebesar dua jari tangan dan beraneka rasa, masih belum selesai mereka habiskan, begitu pula dua gelas susu murni hangat. Colin memandangi tungku pembakaran kue, memicingkan mata mencela ketika paham bahwa kepulan itu bercampur dengan asap kendaraan. Ini adalah hari Sabtu, dan pusat kota tentu ramai, terutama jika mereka memilih berkuliner di tepi jalan.
“Dulu, aku diajak ke sini sama Ryan,” mulai Darla, mengambil potongan kue balok kejunya. “Aku anak tunggal, jadi cuma main sama saudara-saudara sepupu. Ryan anak kedua dari tiga bersaudara. Kakaknya laki-laki, A Azmi, udah nikah, sekarang lagi kuliah di Australia. Orang tuanya, Mang Cahya dan Bi Ranti. Mang Cahya tuh adik kandung papaku; mereka berdua kakak kandung Om Beben.
“Adik Ryan, namanya Akbar. Baru mau masuk SD. Nah, kalau Daffa, anaknya Mang Ridho sama Bi Leyla. Mang Ridho tuh adik bungsu papaku, Mang Cahya, sama Om Beben. Oh ya, maksudku ‘Mang’ itu artinya paman, dan ‘Bi’ itu, ya, ‘Bibi’, atau tante, bukan PRT, ya. Hehehe.”
Colin tidak butuh semua informasi ini, tapi mungkin tak ada salahnya jika tahu silsilah keluarga orang yang menampungnya. Jadi, ia diam saja, sibuk mempreteli kismis dari kue baloknya.
“Jadi, ya, aku sama Ryan udah kayak adik-kakak,” lanjut Darla. “Dia yang ngajarin aku naik sepeda, bahkan naik motor, waktu aku kelas enam. Padahal, papaku ngelarang banget, tapi aku iri sama teman-teman aku yang udah balapan pakai motor, meski sampai sekarang, aku enggak bawa kendaraan juga, sih. Hehehe. Malas, banyak banget syaratnya cuma buat nembak SIM!
“Kamu gimana, Colin?”
“Hm?”
“Kamu punya saudara?”