Colin paling tidak suka kunjungan ke kolam renang. Bukannya tidak bisa, tapi pada akhirnya para guru hanya akan benar-benar mengajari murid selama satu jam pertama. Setelahnya, para murid dibebaskan bermain air, selama satu hingga dua jam kemudian. Colin tidak pernah tahu apa yang harus dilakukannya selain berenang-renang tak jelas hingga ujung-ujung jarinya mengeriput. Tapi karena tidak bisa pulang sebelum waktu yang diizinkan, ia tak punya pilihan.
Sekolahnya mengirim lima kelas XI IPA ke tempat ini, jadi tak hanya kelasnya saja yang berangkat. Kali ini, selepas mempraktikkan gerakan renang gaya bebas (atau gaya keciprak-kecipruk bagi sebagian teman sekelasnya) dan berenang-renang tak jelas, Colin terduduk di salah satu bangku pinggir kolam. Tempatnya menyimpan tas sedang dikerubungi anak perempuan, jadi ia tak bisa ke sana.
Tiba-tiba, seorang anak lelaki menghampirinya. Colin tahu tampangnya, tapi tak tahu namanya; berasal dari kelas lain, dan sering bergerombol dengan anak-anak ekskul Basket.
“Colin, ya?” tanya anak itu.
Colin mengangguk.
“Saya Syailendra, panggil aja Lendra.” Anak itu mengangguk balik, sebagai pengganti jabat tangan. “Katanya waktu itu sempat berantem sama Ryan?”
Colin tidak menjawab, hanya mengirimkan pandangan memicing dan kening mengernyit. Syailendra tertawa.
“Enggak, saya enggak maksud mencela atau apa, kok,” jelasnya. “Saya justru mau ngasih tahu aja, apalagi setelah sekarang dia gabung sama Minel, sebaiknya kamu beneran enggak usah berurusan lagi sama dia.”
Siapa juga yang mau berurusan sama bocah itu. Namun, Colin tidak menjawab. Pandangannya masih sama.
“Anaknya … gimana, ya? Dulu dia ikutan Basket, tapi dikeluarin pas mau tanding se-Jawa Barat. Kacau banget, padahal kami udah masuk perempat final.” Syailendra mengalihkan pandangan pada suara ceburan seorang anak, yang baru saja meluncur dari salah satu perosotan tinggi.
“Emang, waktu itu, tim lagi panas banget, cuma tetap aja kami enggak bisa membenarkan. Jadi, dia sempat berantem juga sama teman satu tim, Rifan—dan emang anaknya gitu, enggak bisa diajak ngobrol baik-baik, main hantam aja. Cuma waktu itu kami enggak ada waktu buat ngelaporin ke siapa-siapa, pelatih aja yang tahu. Awalnya, kirain kan emang karena suasana aja yang lagi panas. Tapi, selesai tanding terakhir, dia tiba-tiba mukulin anggota lain di ruang ganti, ngamuk-ngamuklah …. Akhirnya, ya, dikeluarin.”
Colin tidak tahu harus melakukan apa dengan informasi itu, tapi ia kelepasan bertanya, “Terus, apa alasan yang kalian bilang ke sekolah?”
“Dia mengundurkan diri, karena enggak siap maju ke tahap selanjutnya. Terlalu tepar karena latihan atau apalah,” jawab Syailendra, mengibaskan tangan. “Maksud saya, kalau kamu emang kena masalah lagi sama si Ryan, kamu bilang aja ke saya.”
“Kalau dia di-backing si Minel?” tantang Colin skeptis.
Syailendra tertawa. “Minel itu cuma ngandelin otot doang, enggak pernah mikir. Kalau kami, terbiasa main pakai strategi.”
“Kami, maksudnya?”
“Anak Basket.”
Giliran Colin yang tertawa. “Maksudnya, kalian anak Basket bakal jadi backingan saya?”
Syailendra mengangkat bahu. “Ya, kalau dibutuhkan, kenapa enggak?”
Hal ini sungguh menarik sekaligus menggelikan bagi Colin. Seorang anak pentolan tim Basket sekolah tiba-tiba mendatanginya, di kolam renang, membocorkan kabar tak baik tentang Ryan, dan tahu-tahu berkata hendak menjadi sponsor jotosnya. Logisnya di mana?
“Saya bahkan enggak ikut Basket, loh,” kata Colin, tak bisa menyembunyikan kekeh terhiburnya.
“Oh, kamu mau ikutan? Boleh, kok.”
“Bukan gitu,” kilahnya. “Kenapa tiba-tiba banget? Ada apaan, sih?”
“Lah, enggak ada apa-apa. Hahaha ….” Syailendra tertawa. “Kebetulan aja kamu ada di sini. Terus, ya, saya pikir, ajak ngobrol aja. Terus, inget kalau kamu sempat berkelahi sama si Ryan. Ya siapa tahu kamu butuh bantuan? Pas pensi kemarin, kamu nyaris dikeroyok, kan?”
Colin terdiam. Seluruh ekspresi terhibur menghilang dari wajahnya.
“Lebih enak dibantuin sesama anak kelas sebelas, kan, daripada sama anak kelas sepuluh? Perempuan, lagi,” tambah Syailendra, tersenyum simpul.
“Len!” Seseorang memanggil anak Basket itu dari kejauhan, melambai-lambaikan tangan.
“Yuk, Lin.” Syailendra pamit sembari menepuk pundaknya, lalu masuk ke dalam kolam dengan bergejebur.
*
“Kalau kamu emang belum biasa baca komik, cobain Diary Si Bocah Tengil. Itu ada doodle-doodle-nya, tapi teksnya juga tetep banyak.”
“Aku waktu itu dikasih komik gak bener, sih, sama si Ryan, jadi males baca lagi sekarang.”
Colin menyeringai mengejek. “Doraemon tahu, tapi, kan?”
“Ya, tahulaaah!” Darla terkekeh. “Tapi masih suka bingung, sih, soalnya bacanya kan dari kanan ke kiri, terus panel-panelnya juga banyak. Gak tahu mau baca yang mana duluan.”
“Itu karena enggak biasa,” ujar Colin, menyeruput Pop Ice-nya. “Kalau kamu, paling bacaannya yang shoujo-shoujo romance, entar.”
“Apaan, tuh?” Mata Darla membulat.