Ke Mana Aku Berlari

Vicky L.
Chapter #10

Lingkaran

Vote, vote, vote!” Sidiq mengumumkan, hari itu, mengumbar kepalan tangannya di atas meja. Artinya mereka harus memilih ya atau tidak.

Poé ieu, urang kudu ngajak si Ehem ulin deui, tong?”[1] tanya Damar.

Tanpa diminta, Syailendra yang selalu duduk di sebelah Colin mencondongkan tubuh untuk menerjemahkan.

“Si Damar nanya, dia harus ngajak Tania main gak hari ini,” katanya.

Colin mengangguk ala kadarnya. Setelah satu (atau dua?) minggu dikelilingi mereka, ia sedikit-banyak dapat meraba konteks pembicaraan anak-anak Basket itu. Untuk kasus ini, ia tahu bahwa mengajak Tania jalan-jalan membutuhkan dana yang tidak sedikit, dan Damar selalu mengeluh harus terpaksa berpuasa Senin-Kamis.

Sok, hayu. Vote, vote, vote! Hiji, dua, tilu!”[2] pimpin Sidiq.

Empat kepalan tangan terulur di atas meja; tiga lagi, termasuk Colin, tetap terkepal di tempat.

“Ah, anjing!” Damar berseru, tertawa miris diiringi tawa mengejek teman-temannya.

Sia téh ongkoh resep, nya kudu modal, atuh!”[3] kata Septian, menempeleng Damar.

Teman-teman lainnya tertawa.

Aing sok teu saré ‘mun puasa Senén-Kemis téh, anjing!”[4] keluh Damar.

Nya manéh teu kudu puasa deui, lah, engké mah, Mar,” sahut Syailendra. “Engké ku urang dipangmeulikeun dahareun, lah.”[5]

Edaaan. Si sultan euy, sultan,” sahut teman-temannya yang lain.

Mereka tertawa lagi.

“Eh, Lin,” tiba-tiba, Farhan memanggil, “kumaha IPA 3? Aman?”

Colin mendongak agak terkejut. “Hah?”

Éta, si Ryan. Aneh-aneh lagi gak, di kelas?”

“Enggak berani dia kalau di kelas,” jawab Colin. “Dia duduk di belakang saya. Cemen banget cuma nendang-nendang bangku kalau guru enggak lihat.”

Anak-anak Basket itu tertawa.

“Tapi si Minel emang enggak ada malunya, anjing,” sahut Septian, tiba-tiba emosi. “Geuleuh[6] aing, kalau mau ke sekre kan suka lewat kantin bawah, si éta[7] sok ada waé  di area anak kelas X. Tebar pesona waé, kawas nu kasép wé.[8]”

Kasép tuh ganteng, kan?” Colin mendapati dirinya berbisik pada Syailendra.

“Iya.”

Kasép apaan, muka kayak keset begitu,” tandas Colin.

“BUAHAHA!” Semua anak laki-laki di meja itu tertawa terbahak-bahak.

Pada jam pulang sekolah, Colin mendapati Syailendra dan Sidiq telah duduk di depan kelasnya, berbincang asyik sebelum menyambutnya ketika keluar kelas. Mereka berdua bahkan sempat melemparkan pandangan kotor pada Ryan yang kebetulan lewat juga, tapi untunglah tak ada babak adu jotos. Meski begitu, Colin sebenarnya kebingungan. Mereka paling banter hanya menemuinya setiap jam istirahat saja, tidak pernah di luar itu.

“Lin!” Syailendra menepuk pundaknya. “Kamu bawa motor, kan? Kita nyimpang dulu ke rumah si Farhan, main PS.”

“Hah?”

“Iya, tapi kita nunggu dia beres les dulu,” kata Sidiq. “Biasanya kita nunggu di fotokopian Om Aceng.”

Kernyitan di kening Colin begitu dalam selama ia memandang dua anak laki-laki itu tak mengerti.

“Maksudnya gimana?” tanyanya tanpa menahan diri.

“Ya, kamu ikutlah!” Syailendra tertawa. “Itu, loh, fotokopian Om Aceng, seberang sekolah pisan.”

Colin tahu tempat itu, yang memang persis di seberang sekolah, dan selalu dikerumuni anak lelaki dengan rokok-rokok mereka. Motor-motor pindah terparkir, dari sekolah ke tanah sekian petak yang butut berbatu. Ia bahkan sempat heran mengapa tak pernah ada guru yang berkunjung ke sana untuk menegur para siswanya yang terang-terangan melanggar peraturan.

Kini, ia heran, mengapa Syailendra, dkk. hendak turut melibatkannya dengan anak-anak lain.

Memang, Colin tidak pernah dengan jelas meminta Syailendra dan teman-temannya untuk berhenti duduk dengannya selama jam istirahat. Ia lagi pula secara sadar memanfaatkan kerumunan Syailendra sebagai tameng, agar Darla tidak lagi menyeretnya dalam percakapan-percakapan tak berujung para anak eksis yang sama sekali tak dimengertinya.

Akan tetapi, entah mengapa, hingga kini ia tak memikirkan strategi apa pun untuk benar-benar keluar dari … keanggotaannya, begitukah sebutannya? Pikirnya, barangkali mereka nanti akan bosan sendiri, karena tak ada topik khusus atau baru yang dibawanya ke meja pembicaraan—Colin nyaris tak pernah ikut bicara dan hanya memperhatikan. Tapi justru, kini ia malah diajak bergabung lebih jauh dengan anak-anak lain di sekolahnya.

Seolah dapat membaca kecemasannya, Syailendra mengerling pada Sidiq. Sidiq mengangguk, lalu berjalan meninggalkan mereka berdua.

“Kenapa, Lin?” tanyanya tanpa basa-basi.

Colin tidak yakin harus memberikan jawaban apa. Ia terdiam sejenak, dan sesekali berbalik untuk menengok kelasnya yang sudah kosong, atau untuk melihat pada anak-anak kelas XI lainnya yang berangsur meninggalkan kelas mereka masing-masing. Gerak-geriknya transparan, dan ia benci sekali harus terlihat demikian.

Maka Colin pada akhirnya mengusap rambutnya, berusaha membungkam rasa frustrasinya.

“Gak bisa hari ini,” jawabnya. “Harus pulang cepat. Ada acara.”

Syailendra memandangnya dengan penuh pertimbangan, kentara tak percaya pada alasan yang lama sekali diutarakannya. Anak berkulit agak gelap dan bermata besar itu tampak berpikir, menggumamkan ‘hmmm’ yang panjang.

“Oke!”

Di luar dugaan Colin, anak itu berseru dengan ceria, seolah sama sekali tak mempermasalahkan. Colin menengadah, masih berusaha mempertahankan ekspresi netralnya, meski penasaran juga dengan apa yang membuat anak itu mudah sekali digebah. Tapi Syailendra hanya melihat jam tangannya, lalu memungut tasnya yang tergeletak di tembok tempat duduk.

“Jumat entar kami mau latihan di lapangan, buat siap-siap tanding sama Bina Bangsa.” Syailendra mengedikkan kepala. “Enggak ada acara, kan?”

Pikiran Colin terlampau lambat mengarang alasan.

“Enggak, kali.”

“Siiip!” Syailendra mengacungkan dua jempolnya, lalu menepuk bahu Colin untuk berpamitan.

 

*

 

“Sekarang udah boleh duduk bareng lagi?”

Colin tengah menyeruput mi instannya ketika Darla muncul kembali di hadapannya, setelah entah berapa lama mereka tak bicara. Kali itu adalah jam pulang sekolah, tapi Colin memang ingin mampir ke kantin sejenak untuk makan. Syailendra, dkk. tidak sedang bersamanya karena tengah bersiap-siap untuk latihan di lapangan. Colin pun rencananya akan menyusul mereka.

Pada akhirnya, ia hanya mengangkat bahu tak acuh. Lagi pula, Darla tidak membawa siapa pun ke mejanya.

Gadis itu duduk di seberangnya.

“Sejak kapan kamu temenan sama Lendra?” tanya Darla tanpa tedeng aling-aling.

Colin mengernyit, namun tetap berkonsentrasi menghabiskan mi instannya. Jawabannya lagi-lagi hanyalah kedikan bahu. Darla bersandar di bangku dan melipat kedua tangan. Saat Colin mengerling, gadis itu tengah memicingkan mata.

Aneh. Darla tak pernah menunjukkan ekspresi mendakwa macam itu sebelumnya, terutama padanya.

“Kenapa kamu temenan sama Lendra?” tanya Darla lagi, kali ini tanpa menyembunyikan nada menuduh di dalamnya.

Colin jadi agak jengkel juga. “Apaan, sih? Siapa yang temenan sama dia?”

Lihat selengkapnya