Ke Mana Aku Berlari

Vicky L.
Chapter #11

PORAK

Pak Junaidi membawa kabar buruk, pagi itu. Belum-belum, pria buntal berkumis tebal itu mengumumkan di depan kelas bahwa dia sudah membagi anggota tim kelas mereka untuk berkompetisi di PORAK nanti. Dia tak pernah benar-benar mengenal anak walinya lebih dari sebatas nama, maka ketika sang wali kelas menuliskan anggota tim pilihannya, banyak suara berkeluh kesah yang tersebar di kelas XI IPA 3.

“Tenang, tenang!” perintahnya. “Kali ini, kita akan mengadakan 6 mata olahraga: putsal, basket, handball, poli, kasti, dan bulu tangkis. Bapak udah surpei ke guru olahraga, makanya bisa bikin daptar nama ini. Ada yang belum kesebut namanya?”

“Jalil, Pak!”

“Kevin!”

“Sri Asti!”

“Hilda!”

“Burhanuddin!”

“Tenang, tenang, tenang!” Pak Junaidi berseru lagi. “Yang belum ada namanya, jadi cadangan, ya. Silakan pilih kalian mau masuk mata olahraga apa. Jalil?”

“Futsal, Pak,” kata Jalil. Pak Junaidi menuliskan namanya di kolom ‘Futsal’ di papan tulis.

“Kepin?”

“Futsal, Pak.”

“Sri?”

“Voli.”

“Hilda?”

“Kasti.”

“Burhan?”

“Badminton.”

“Oke, udah, ya—”

“Pak, itu tapi ada beberapa nama yang kepake dua kali di mata olahraga yang beda?” tanya Sangi.

“Ya, biarin. Berarti, menurut Pak Sumardi, mereka jago di dua bidang itu.”

Kelas berkasak-kusuk.

“Sudah, ya! Sekarang, karena Bapak sudah ijin sama Bu Maryam, kalian boleh gunakan setengah jam terakhir pelajaran Pisika buat membicarakan strategi dan lain-lain. Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.”

“Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.”

Anak-anak mulai sibuk berbicara, mencari kelompok olahraga mereka satu persatu. Sangi bersuara paling keras di antara mereka yang merasa tak adil dengan nama-nama yang disebut dua kali dalam mata olahraga berbeda, seperti nama Colin, salah satunya.

“Udah sering gaul sama anak Basket, makanya jadi otomatis kepilih, ya, Lin?” mulai Sangi nyinyir.

“Bacot.”

Colin sebenarnya tak begitu peduli jika harus mengikuti pertandingan basket dan futsal sekaligus, karena yang membuatnya lebih jengah adalah namanya yang berada satu kolom dengan Ryan. Mereka sama-sama harus mewakili kelas dalam mata olahraga Basket. Memang, jika Colin bisa mengandalkan ucapan Lendra dulu itu, berarti peluang mereka bagus, sebab Ryan pada dasarnya memang bisa dijadikan aset terlepas perilakunya yang minus. Tapi tetap saja, ini Ryan.

Colin berkumpul lebih dulu dengan tim futsal yang berjumlah 10 orang. Mereka tak banyak tingkah, hanya mendiskusikan jadwal latihan rutin di sebuah lapangan futsal tak jauh dari sekolah. Ia pun dengan sigap meminta untuk dijadikan cadangan saja (agar tidak perlu sering ikut latihan). Setelah itu, dengan ogah-ogahan, remaja berambut kecokelatan itu berjalan menghampiri meja tempat tim basket kelas, yang baru bicara setengah jalan. Ardian—bukan Ryan—menjadi pembicara utamanya.

“Hai, Lin,” sapa anak lelaki berkacamata itu. “Kami baru bagi posisi aja. Tadi udah diskusi, dan kayaknya kamu cocok di shooting guard, gimana?”

“Yang mana, tuh?” Colin duduk di luar meja, merampas bangku Sangi yang sedang diskusi dengan tim bulu tangkis.

“Yang nyerang ke ring musuh.”

“Hmmm ….” Colin menimbang-nimbang. “Aku yang defense ajalah, yang biasa diem di deket ring itu.”

“Ya udah, dia forward,” ujar Ryan pelan, menunjuk satu titik di buku Hamid yang berisi nama dan posisi mereka.

“Gimana, tuh?” tanya Colin; bukan mencurigai, hanya ingin memastikan jika posisinya bukan jebakan.

“Ya nyerang ring musuh dari bawah atau deket ring,” kata Ryan, mengernyit.

Colin merasa perlu bertanya, “Lu sendiri di mana?”

Urang playmaker, yang biasa ngoper-ngoper bola. Paling banyak gerak.”

“Cocok, sih. Fisik banget, ya,” timpalnya santai.

Ryan hanya mendelik dan tidak menanggapi.

“Hamid shooting guard dan Paijo di center, ya.” Ardian mengambil alih lagi. “Urang di forward juga, kalau gitu, bareng Colin.”

Mereka mengangguk-angguk setuju.

“Kalau latihan abis pulang sekolah sekarang, gimana?” tanya Ardian.

Mereka saling berpandangan, mencari suara, lalu mengangguk bergantian.

 “Harus booking lapangan dulu, berarti,” kata Colin, mengingat hari ini Lendra berencana latihan juga. “Jam berapa, kira-kira?”

“Mau dipake latihan anak Basket, ya?” tanya Ardian.

“Gak tahu jadi atau enggak, sih. Kalaupun dipake, entar kita minta setengah-setengah aja. Bisa, kali.”

 

*

 

Colin hampir lupa dengan pergesekan antara tim Basket sekolah dengan Ryan. Ia baru diingatkan ketika melihat perubahan ekspresi Lendra saat melihat bocah kurus itu, padahal sebelumnya baru saja melambai dan cengar-cengir padanya. Ardian, Hamid, dan Fauzan (Paijo) pun jadi agak salah tingkah di belakangnya.

“Mau latihan buat PORAK,” mulai Colin, mendekati Lendra. “Memungkinkan gak, ya?”

“Sama dia?” Lendra melayangkan pandangan tidak bersahabat pada Ryan.

Lihat selengkapnya