Papan skor menunjukkan angka 77-85.
Mereka kini bertanding di kuarter terakhir, menghadapi XI IPA 1, yang cukup garang dan bertubuh tiang listrik.
Colin memandang Hamid yang lebih sering mengedip-ngedipkan mata dan menggelengkan kepala, tapi perhatiannya teralihkan oleh bola di tangan Nomor Punggung 8. Colin merebut bola, mengoper pada Ardian yang mendribel hingga menemukan titik strategis untuk melompat, tapi tembakannya dijegal lawan.
IPA 1, Lendra, segera membalikkan serangan. Colin dibantu Paijo bersiap mempertahankan, menggagalkan dua kali tembakan lawan hingga akhirnya berhasil merebut kembali bola. Sayangnya, ketika Paijo mengoper pada Hamid yang bisa langsung menembak dari samping, bola malah meleset menghantam kepala Hamid, yang langsung oleng seolah baru kembali dari lamunannya.
Wasit meniupkan peluit.
Karena keterbatasan peserta, timnya tak memiliki pemain cadangan. Time out hanya bisa mereka gunakan untuk mengambil napas, mengisi energi seadanya dengan minum, dan berharap agar tidak tumbang.
Colin meneguk air mineralnya sembari memindai area, terengah-engah lantaran laju pertandingan yang cukup cepat dan melelahkan. Sebelumnya, jika tak hanya menonton, ia memang lebih sering bermain kasual dengan Lendra, dkk. maka agak takjub dengan pertandingan kompetitif macam ini bersama mereka.
Tak dinyana, pertandingan Basket terakhir itu mampu menarik perhatian banyak murid hingga memenuhi seluruh sudut lapangan. Dari balik kelebatan handuk Paijo yang tengah mengusap wajah, Colin melihat kepala Fitrah yang berjalan menghampiri anak-anak perempuan lainnya—Ranny, Bianca, dan ….
Benar saja.
Darla berdiri di barisan paling depan, dengan wajah yang tampak khawatir benar. Colin mengikuti arah pandangan gadis itu; lurus, lurus, hingga menemukan Ryan yang sama-sama tengah memandang Darla. Anak lelaki kurus itu mengangguk-angguk, seolah memberi kepastian, yang membuat Darla melemparkan senyum tipis meski kentara masih khawatir.
Entah mengapa Colin agak terusik melihat ini, tetapi kemudian mata Darla mendarat padanya, membuatnya nyaris tersedak dengan bodoh.
Colin buru-buru mengalihkan pandangan dan menghampiri timnya yang sudah bersiap-siap melanjutkan pertandingan.
“Oke, Mid?” tanya Colin.
“Oke, oke,” jawab Hamid tak meyakinkan.
Ryan menghampiri setelah menemui wasit. “Hayu, Mid, bentar lagi beres da, cenah.”
“Kan, entar urang traktir,” bujuk Ardian.
“Heueuh.”
Wasit meniup peluit lagi, dan mereka kembali bermain.
Selang satu menit, Nomor Punggung 37 melakukan foul, sehingga kini Ardian bersiap melakukan free throw … yang berhasil mencetak dua angka di papan skor mereka. Ketika tembakan kedua gagal, mereka kembali berpencar.
Paijo berkutat mempertahankan bola dari Lendra, hingga akhirnya mengoper pada Colin, yang langsung menembakkan dua angka di papan skor. Penonton bersorak. Skor 81-85, untuk XI IPA 3 dan XI IPA 1. Sedikit lagi.
Kelas mereka hanya memenangkan voli saja. Colin, sebagai pemain futsal cadangan, memang lebih banyak meluangkan waktu berlatih basket, sebab tak menemukan kekuatan yang sama dengan timnya di sini. Dan benar saja, tim futsal mereka tereliminasi pada putaran awal. Oleh karena itu, potensi kemenangan kedua di mata olahraga Basket ini sangat dinantikan.
Kini, meskipun Hamid sudah pasif dan nyaris tumbang, Ryan berhasil menembak dua poin ke gawang lawan, membuat total skor mereka 83-85. Lapangan riuh-rendah oleh sorak-sorai.
Colin melayangkan cengiran lebar pada Ardian yang mengangkat dua jempol tangannya, kentara tak sabar meraih kemenangan di depan mata. Ia sempat melihat Septian dari tim lawan yang menyeringai sambil menggeleng-gelengkan kepala, respek meski masih tak habis pikir. Lendra, di sisi lain, tak pernah memalingkan wajah padanya—meski itu bukan masalah juga.