Pada hari Sabtu terakhir sebelum liburan semester, Colin mengintip jendela ekskul Musik, mencari tahu apakah Lendra, dkk. benar-benar meminjam ruangan untuk latihan di sana. Satu minggu sebelumnya, setelah acara PORAK, mereka melakukan voting di meja kantin perihal penampilan di acara sekolah nanti. Colin baru tahu bahwa selain aktif bermain basket, kelompok Lendra juga membentuk band asyik-asyikan yang sudah beberapa kali mengisi acara sekolah. Bahkan, katanya, termasuk saat pensi waktu itu.
“Kamu main gak, Lin?” tanya Lendra sebelumnya.
“Nonton aja,” jawabnya.
Lendra tak mempermasalahkan, dan mengundangnya untuk ikut latihan—kali ini, latihan band. Lebih karena ingin tahu apakah bakat musik mereka sebaik bakat basket yang disaksikannya, Colin datang hari itu, ketika biasanya ia sibuk tidur atau menonton film di laptopnya.
Berdasarkan pengamatannya dari jendela, Lendra memainkan bas, Farhan melodi, Septian drum, dan Sidiq vokal. Mereka tengah membawakan lagu “The Only Exception” oleh Paramore. Ketika Septian mendongak dari drumnya, Colin melambai. Septian mempersilakannya masuk dengan anggukan.
Colin mendudukkan diri di bangku terdepan, mendengarkan.
Ternyata, suara Sidiq tidak jelek-jelek amat.
“Maybe I know somewhere deep in my soul
that love never lasts
And we’ve got to find other ways to make it alone
or keep a straight face
And I’ve always lived like this, keeping a comfortable distance
And up until now I’ve sworn to myself that I’m content with loneliness
Because none of it was ever worth the risk, but you are
The only exception ….”
Ya, hanya saja, pelafalannya masih terlalu lokal.
Selama menunggu lagu selesai, Colin membuka BBM-nya, hanya membaca beberapa nama yang tertera saja di sana. Selain grup dengan Lendra, dkk., chat terakhir yang diterimanya adalah dari Om Beben, kemarin. Lalu, Om Kiki, 3 hari lalu. Om Kiki hanya memberitahunya tentang pencairan dana bulanan, yang katanya akan agak telat beberapa hari. Selebihnya, tak ada chat baru lagi.
Ibu jarinya kemudian bergulir mengeklik kolom Recent Updates, membaca status-status tak penting kontaknya yang tak sampai 20, hingga terpaku pada satu update terbaru. Tepatnya, satu jam sebelumnya.
darlaaaaa
● Too Much to Ask - Avril Lavigne
Hanya sekadar iseng, dicarinya lirik lagu tersebut, lalu matanya terpaku pada lirik chorus.
Colin tertegun, memandang layar ponselnya dengan pikiran mengawang-awang.
“Mantap, mantap!”
Tepukan tangan membuyarkan lamunannya.
“Gimana, Lin? Bagus, gak?” tanya Lendra, meneguk air mineralnya.
Colin turut bertepuk tangan dua kali. “Bagus, bagus.”
“Ah, anakan kayak kamu mah enggak mungkin gak bisa main,” kata Farhan. “Nyanyi mah bisa, meureun ….”
Colin tertawa. “Enggak. Asli. Udah, bagusan juga Sidiq.”
“Naon, anjir, ngomong bahasa Inggris-nya butut kitu!”
Anak-anak itu tertawa, kecuali Sidiq yang merengut.
“Kieu-kieu ogé, aing daék nyanyi, anjing![1]” semburnya.
“Tahu, kan, lagunya?” tanya Lendra tiba-tiba pada Colin.
“Lagu apaan?”
“Itu, yang barusan. Masa gak tahuuu …. Booming pisan itu sekarang.” Farhan memanas-manasi.