Ke Mana Aku Berlari

Vicky L.
Chapter #14

Huru-hara

Penampilan pertamanya buruk sekali.

Colin tidak mau mengakui ini, tapi ia memang kerap gugup dan cemas jika berada di depan orang banyak—terlebih, penonton. Entah apa yang merasukinya hingga setuju menjadi vokalis band Lendra.

Vokalis—fokus utama.

Sebelum tampil, ia absen cukup lama hanya untuk menenangkan diri di kamar mandi. Berulang kali ia mempertimbangkan ulang, apakah harus lanjut atau pulang? Sebab, meskipun tahu bahwa Marlin memang banyak teman, ia tak tahu bahwa temannya sebanyak itu. Marlin bahkan bisa menyewa sebuah venue di salah satu hotel bintang 5 di pusat kota, untuk memperingati hari ulang tahunnya yang (ternyata) ketujuhbelas. Ini adalah acara penting. Ini adalah acara besar.

Ini adalah acara penting. Ini adalah acara besar. Colin nyaris tidak ingin keluar dari kamar mandi ketika mengulang-ulang kalimat itu.

Tapi akhirnya Farhan menyusulnya, tepat ketika Colin tengah megap-megap di depan kaca dengan pandangan berkunang-kunang. Kontras dengan kondisinya, ketiga temannya tampak adem-ayem dengan kepercayaan diri setinggi langit. Mungkin karena mereka memang sudah terbiasa menjadi objek tontonan. Colin pun sebenarnya sedikit-banyak berharap energi baik macam itu dapat memengaruhinya. Akan tetapi, ketika sudah berada di atas panggung, ia tahu ia akan menghancurkan penampilan mereka.

“Gue pulang, ya,” putusnya, setelah selesai menghabiskan botol air kedua.

Adeuh, elo-gue,” ledek Farhan. “Kenapa ari kamu?”

Colin hanya menggeleng-geleng.

“Kenapa, Lin?” tanya Lendra, duduk di sebelahnya. “Udah oke, kok, tadi.”

Colin menatapnya sinis. Lendra tertawa.

“Serius! Kamu pertama muncul di panggung aja, cewek-cewek udah berisik.”

Colin memutar mata.

“Asli, anjing. Nanti lagi mah kamu wajib kita bawa kalau manggung lagi. Buat … apa téh namanya? Crowd control!” Septian terkekeh.

“Apaan, anjing, tadi keserimpet juga nyanyinya,” gerutu Colin. “Nyaris ngulang intro juga!”

Mereka tertawa.

“Iya, emang, tadi kita juga bingung, hahaha. Tapi minor, lah. Pas nyanyi lagu kedua dan ketiga juga udah oke lagi.” Lendra mendorong bahunya. “Entar lagi, nih, si Marlin pasti nongol buat makasih-makasih. Naikin tingkat keeksisannya, cenah.”

Perkiraan Lendra tak meleset. Ketika pengisi acara lain sedang tampil, Marlin tiba-tiba muncul menemui mereka, dalam balutan gaun ungu gelap yang berkilauan. Acara kayak begini, akunya, adalah saat-saat ketika dia boleh jadi feminin.

“Coliiin! Anjir! Parah! Ganteng banget!” mulainya heboh, meninju-ninju lengan Colin dengan keras. “Paraaahhh! Hadé pisan[1], anjir, kalian semua! Emang bener, si Sidiq kudu dipecat, sih, Len.”

Naon, anjing, ngomongin aing, ya, hah?!” Sidiq tiba-tiba muncul dari balik panggung, menenteng dua piring berisi empat makanan berbeda. Mereka semua tertawa.

“Liat Colin nyanyi lagu Barat dengan pronunciation yang bener tuh, duh …. Mana suaranya serak-serak macho, lagi. Anjing!” Marlin masih mencerocos, sama sekali tak menyadari ketidaknyamanan anak lelaki yang dimaksudnya. “Pas nyanyi lagu lokal juga nyérédét pisan, anjing, kana haté![2]”

Édan, teu, baturan urang?![3]” sambung Farhan berapi-api.

“Tapi cocok gak, sih, aing ngundang Ten2Five sama maranéh? Duh, anjir, édan kieu tujuhbelasan téh!”

Tujuhbelasan naon, HUT RI sugan?” celetuk Septian.

Mereka tertawa lagi.

Mau tidak mau, Colin mengakui bahwa validasi dari mereka cukup mengusir kegelisahannya.

Tapi, terlepas dari itu, Colin masih butuh mengorek informasi dari salah satu kawan Lendra—jika ia pada akhirnya ditinggalkan bersama mereka. Sebab, meskipun Colin tak pernah menjauhkan diri dari empat temannya, kentara sekali mereka sengaja pura-pura asyik sendiri tiap kali ada orang lain yang menghampiri meja untuk mengobrol dengan Colin. Anak lelaki itu sampai tak bisa menghafal siapa-siapa saja yang sudah bertengger untuk menyapanya, memuji penampilannya.

Untunglah, setelah berbasa-basi dengan salah satu anak IPS 2, Colin mendapati Farhan yang baru datang dengan dua potong kue ulang tahun Marlin.

“Lin, nih,” kata Farhan, menyodorkan kue dengan semringah. “Gimana? Udah ngincer siapa?”

“Hah?” tanya Colin bodoh.

“Barusan, kan, banyak cewek yang hinggap.” Farhan mengangkat-angkat alis tebalnya. “Kan, kamu sengaja ditinggalin.”

Colin menatapnya malas.

Farhan terkekeh, lalu asyik menikmati kuenya. Colin tak tahu harus berbasa-basi seperti apa, atau bagaimana mengangkat topik dengan halus hingga Farhan tak dapat menangkap maksud terselubungnya. Tapi berpikir terlalu lama akan membuat kesempatannya terkikis, maka Colin hanya mengandalkan kemampuan sosialnya yang apa adanya.

“Eh, Bilik Berisik tuh emang buat gituan, ya?”

Lihat selengkapnya