“Lin, liburan semester ini, keluarga Om mau ke Pantai Pangandaran. Kamu ikut, ya,” begitulah kata Om Beben, sepulangnya dari acara arisan di rumah Bu Leyla, ibu Daffa.
Beberapa kali Colin meminta Om Kiki untuk membuat alasan agar ia tak bisa ikut. Alih-alih memberi bantuan, Om Kiki malah tertawa dan menelepon Om Beben langsung untuk berterima kasih karena telah menyertakan Colin dalam liburan keluarganya.
Tak perlulah dijabarkan mengapa Colin enggan ikut. Hubungannya dengan keluarga Om Beben tidak ada yang mulus, kecuali mungkin dengan Daffa, tapi meski demikian pun Colin tak ingin bersekutu dengan anak itu. Lalu, walaupun hubungannya dengan Ryan mungkin sudah tidak seterjal dulu, mereka tidak pernah menghabiskan waktu lagi selain saat PORAK waktu itu. Dan Darla …, lain lagi ceritanya.
Ia tak bisa membayangkan skenarionya jika pergi: terluntang-lantung di antah berantah tanpa siapa pun yang bisa menyelamatkan.
Tapi, lagi, bukankah itu sudah kehidupan sehari-harinya?
Colin memandang langit-langit kamarnya dengan melamun. Malam ini, mereka berangkat. Seluruh barangnya mau tak mau telah masuk mulus dalam tas ransel di depan pintu kamar.
Rasanya hidup mengajaknya bercanda. Setelah ultimatum konyolnya waktu itu, Colin merasa benar-benar tolol karena telah membiarkan diri tenggelam dalam sentimentalitas sekejap. Jika mereka pada akhirnya hanya akan dipertemukan di sekolah, setelah liburan, tindakannya bisa dibanggakan. Mereka akan tetap berjarak, tanpa apa pun yang menjembatani, maka akan semakin sulit kontak terhubung lagi. Tapi, kini, hidup malah memberinya antiklimaks menjengkelkan, serta-merta memaksa Colin dan Darla untuk berurusan lagi dalam kondisi yang jauh di luar ekspektasi. Yang, bahkan, tak pernah Colin prediksi.
Lantaran tak juga tenang, ia memutuskan untuk naik ke loteng sore itu.
Angin menyerbunya ketika Colin membuka pintu loteng, menerbangkan wangi jemuran baru-cuci. Loteng Om Beben merupakan area terbuka tempat jemuran berjejer, ditutupi atap seng, dengan dinding sepinggang orang dewasa, dipagari teralis besi. Di pinggirnya terdapat tumpukan barang tak terpakai dan tanaman-tanaman gantung.
Cuaca hari itu mendung, menjanjikan hujan, maka Colin mengangkat jemurannya satu persatu. Ia tak tahu apa yang dilakukannya ke sini, jika tujuannya memang bukan ingin masuk angin secara sukarela.
“Kalau enggak di sini, mungkin aku mau tinggal di Jakarta.”
“Jangan. Pengap. Macet. Bikin emosi.”
“Emang di sini enggak?”
“Sejauh ini baru kamu, sih, yang bikin emosi.”
“Hahaha ….”
Emosi-emosi negatif enggan memenuhi dadanya, padahal Colin membutuhkan itu. Ia mengingat-ingat apa yang menjengkelkannya, apa yang membuatnya marah, apa yang membuatnya merasa perlu pengakuan, agar bisa digunakannya sebagai benteng pertahanan. Akan tetapi, semakin lama mengingat, semakin hilang alasannya. Colin tak menemukan apa-apa selain seluruh emosi yang mati-matian dihindarinya.
Ia mengutuk diri.
Seluruh waktu sore habis dilalap pikirannya, hingga akhirnya ia turun menemui Om Beben untuk bersiap-siap.
*
Perjalanan di mobil memang tak berkesan, tapi setidaknya itu jauh lebih baik daripada malam-malam yang akan dilaluinya di kamar penginapan. Para orang tua memutuskan untuk mengelompokkan anak-anak dalam dua kamar tersendiri di lantai atas: Darla bersama Akbar, serta Daffa bersama Ryan dan Colin.
“Untung A Ryan sama A Colin udah baikan, ya!” kata Daffa riang. Dua remaja yang dimaksudnya hanya saling melempar tatapan canggung.
“Iya, tapi sekarang dia gantian musuhan sama Darla,” celetuk Ryan sambil membereskan baju-bajunya.
Colin mendelik.
“Haaah …? Kok, bisa?” tanya Daffa terkejut. “A Colin mah emang suka berantem, ya! Berarti waktu itu A Colin yang mulai, atuh!”
“Iya,” kata Ryan culas.
“Enggak,” bantah Colin. “Waktu itu dia yang nyerang aku duluan.”
“Haaah …?” Daffa terkejut lagi. “Kok, bisa? A Ryan mah cemen!”
“Berisik, Daffa!” Ryan menempeleng sepupunya.
“Terus, kenapa atuh sekarang A Colin musuhan sama Téh Darla?” tanya Daffa, tak terpengaruh sama sekali.
Dari ekor matanya, Colin tahu bahwa Ryan juga sedang menunggu jawabannya. Ia agak heran lantaran Darla tidak memberi tahu bocah itu soal pertengkaran mereka—atau mungkin, Ryan memang sudah tahu, tapi hanya menunggu versi lain dari Colin.
Colin hanya mendengus, lalu berbalik untuk mengklaim ranjang pinggir jendela.
“Pantesan Téh Darla asa sedih waé!” Daffa menyimpulkan. “Kata temen Daffa, kalau musuhan lebih dari 3 hari, harus baca syahadat lagi, siah!”
Ryan membungkus kepala Daffa dengan kaosnya yang kebesaran, agar bocah itu tutup mulut.
Pada pagi hari, setelah sarapan bersama, keluarga Om Beben memutuskan untuk kunjungan pantai pertama. Daffa sudah siap dengan setelan kaos barong (padahal mereka di Pangandaran, bukan di Bali) dan celana pendeknya, serta peralatan istana pasir yang dikemasnya dalam tas ransel kecil bergambar Squidward Tentacles. Ryan menyuruhnya mandi dulu sebelum ke pantai, tapi bocah itu langsung menyembur si cowok kerempeng,
“Ngapain mandi dulu, ih?! Kan, di pantai nanti juga basah lagi! Aneh, A Ryan mah.”
Ryan sendiri masih ongkang-ongkang kaki di kasur dekat lemari, asyik memainkan ponsel, meski sudah siap dengan setelan yang tak beda dari Daffa. Hal ini mengganggu Colin, sebab ia sudah berencana untuk menghabiskan waktu sendiri dulu di kamar selagi keluarga Om Beben berangkat bersama. Ia bahkan sengaja tidak bersiap-siap sama sekali, masih santai dengan baju tidurnya.
Mana mungkin Colin tetap di sana jika Ryan turut memutuskan untuk pergi nanti, kan. Ia sendiri tak bisa membayangkan kecanggungannya.
Daffa memakai sandalnya dan berjalan menuju pintu, sebelum berbalik.
“Hayu, ih, A Ryan!”
Dari ekor matanya, Colin melihat Ryan melempar ponselnya ke atas kasur, tapi tetap tidak berkutik dan malas-malasan. Ia sendiri tengah mengenakan earphone, pura-pura sibuk menonton video di ponselnya.
“Bentar lagi, lah, Daf. Masih males, ih,” keluh Ryan.
“Atuh, ih! Cepetaaan!”
“Sok, Daffa duluan aja, susulin Téh Darla, gih. Nanti A Ryan nyusul.”
“Atuh, iiih …!” Daffa mulai merengek.
“Ayo, bareng aku.”
Lantaran kesal dan khawatir akan berduaan dengan Ryan, Colin akhirnya mengalah, buru-buru mengganti baju, dan membekal perlengkapan pentingnya dalam saku celana pendek. Secara impulsif ia berniat untuk mengantar Daffa sampai pantai saja, membiarkannya berbaur dengan seluruh keluarga, lalu jalan-jalan sendirian. Mood-nya bisa dibentuk di perjalanan.
Ryan hanya mencibir tanpa suara di kasurnya.
Sesampainya di bawah, benar adanya, keluarga Om Beben sudah siap pergi. Colin luput mengingat bahwa Daffa, bocah energetik satu itu, paling dekat dengan sepupu perempuannya. Maka ia agak ketar-ketir ketika Daffa segera menghambur ke arah Darla yang tengah berdiri menggandeng Akbar.
“Téh Darlaaa! Nanti bantuin Daffa bikin istana pasir, ya!”
Mau tak mau, Colin mengekor bocah itu, meski masih menyisakan jarak tiga langkah dari Darla dan para sepupunya. Yang paling menyedihkan, ia menyibukkan diri dengan ponsel, men-scroll menu utama hingga pengaturan perangkat.
“A Colin nanti mau ikutan?” tanya Daffa tiba-tiba.