Sebuah saung bambu di tepi pantai ramai oleh asap rokok dan tawa. Setelah memulangkan Daffa dan menyambar jaket masing-masing, kebetulan mereka menemukan tempat nongkrong strategis, tak jauh dari penginapan dan pantai. Tempat itu tak hanya menyediakan kopi, seperti yang diinginkan Ryan, tapi juga botol-botol minuman berkilauan, selain sate yang semerbak.
Tak ada di antara mereka yang berminat menengok jam. Colin dan Ryan duduk berhadapan, saling menyandarkan sebelah lengan di jendela kayu yang bolong melompong, langsung memandang air laut yang gelap. Darla duduk di sebelah Ryan, asyik menyantap sate ayamnya yang pedas. Segelas kopi dan satu botol hijau tersaji di atas meja.
“Sejak kapan, Lin?” tanya Ryan, merogoh sakunya dan mengeluarkan sebungkus Djarum Coklat.
“SMP, kelas dua,” jawab Colin setelah meneguk birnya. “Sejak kapan, Yan?”
“Akhir tahun kemarin.” Ryan menyalakan korek, sebelum lalu mengerling Darla lewat ekor matanya. Gadis itu melayangkan pandangan mengancam. “Ini anginnya ke luar, La.”
Darla mendengus, lanjut mengunyah satenya.
“Enak, emang?” tanya Ryan.
“Ya, gitu aja.” Colin mengangkat bahu. “Kalau ngobrol doang minumnya, atau kalau lagi puyeng. Jarang, sih, tapi.”
Ryan tertawa. “Sama, anjing! Kayak aneh aja soalnya kalau blah-bloh.”
“Blah-bloh, apaan?”
“Eh ….” Ryan menggaruk kepalanya. “Apa, La?”
“Emmm …. Diem? Eh, enggak. Bengong, ya?”
“Nah, bengong.”
“Iya, harus ada kegiatan, gitu.” Colin setuju. Lalu ia mengedik pada rokok Ryan yang baru disundut. “Enak, emang?”
“Enak pisan, sih, kalau rokok mah!” kata Ryan antusias. “Mau nyobain?”
Darla langsung menyodok rusuk sepupunya itu. “Gak usah ngajarin yang gak bener!”
“Dia mah emang udah gak bener, meureun!” Ryan tertawa, menunjuk botol di atas meja. “Rokok doang mah cetek!”
Colin ikut tertawa. “Gue udah pernah nyobain, sih. Tapi gak suka. Sesak, anjir.”
“Ah, gak bisaeun wé éta mah.”
“Serius. Emang lu gak batuk-batuk?”
“Ya iya, tapi kan awalnya doang. Ke sini-sini mah enak da akhirnya.”
“Obrolan kalian gak penting banget, ih,” celetuk Darla, mendorong piring kosongnya. “Bahas apa, kek. Politik, gitu.”
Colin dan Ryan saling berpandangan.
“Apa, Ariel-Luna?” seloroh Ryan.
Darla membelalak horor, lalu mendorong sepupunya sekuat tenaga hingga membentur kayu jendela. Ryan hanya tertawa-tawa nyeleneh.
“Manéh udah nonton belum, Lin?” Ryan melanjutkan.