Ke Mana Aku Berlari

Vicky L.
Chapter #17

Darla

Colin terbangun dengan tubuh remuk dan kepala cenat-cenut.

Sepulang dari pantai, ia mengokupasi kamar mandi untuk muntah-muntah (entah karena bir atau kewalahan lainnya), lalu tahu-tahu bangun pagi harinya di atas kasur, lengkap dengan baju tidur baru. Ia tak ingat kapan terlelap.

Ryan dan Daffa sudah tak ada di kamar, dan entah mengapa itu membuatnya lega. Dalam hati, ia merutuki diri sendiri yang terlalu terbuai suasana hingga memutuskan untuk memperlihatkan bagian dirinya yang itu, dan kini Colin tak tahu hendak bersikap bagaimana di depan Ryan dan Darla.

Colin berbaring memandang langit-langit kamarnya yang panas, meski AC sudah disetel cukup rendah. Pikirannya berkelana. Keleluasaannya yang sedari awal memang tak banyak dengan keluarga Om Beben, kini dipersempit lagi. Colin tak tahu harus bagaimana membawa diri. Dan mereka baru akan pulang esok siang.

Ponselnya bergetar, memutus tali-temali pikirannya yang terjalin ruwet.

Sesuatu meletup di balik dadanya.

 

darlaaaaa                                                                09.06

● Kt Ryan km masih di penginapan?

● Ak bangun kesiangan. Mau sarapan bareng?

 

Colin menjatuhkan ponselnya ke atas meja dengan berkelontang, lalu tengkurap untuk menenggelamkan wajah di balik bantal.

Selain sesi minum-minum dan informasi berat yang diterimanya dari Ryan, pemahaman tentang Darla yang disadarinya kemarin membuat Colin semakin tak ingin beranjak. Ia tak tahu apa yang harus dilakukannya, tak tahu apakah dirinya bahkan bisa bersikap seperti biasa. Terlebih lagi, memikirkan reaksi Darla jika mendeteksi tindak-tanduknya yang mencurigakan membuat Colin kepayahan. Kepalanya pun semakin berdenyut-denyut diterpa kemelut pikiran.

Drrrt …. Drrrt …. Gesekan biola dari intro lagu “Afterlife” oleh Avenged Sevenfold mengiringi getaran ponselnya. Darla memutuskan untuk meneleponnya, maka membuat anak lelaki itu semakin panik.

Tapi, setelah getaran keempat, tangannya dengan impulsif mengangkat panggilan.

“Kenapa?”

Mau sarapan bareng? Di sini udah ada nasi goreng, bikinan Bi Leyla.

“Aku belum laper.”

Darla terdiam di seberang sana. Ketika menjawab, suaranya terdengar sendu.

Oh …. Oke, kalau gitu.”

“Bentar.” Colin menggeretakkan gigi, menghela napas dalam-dalam. “Aku ke sana.”

Dan benar saja; setelahnya, suara Darla terdengar lebih ceria.

Oke! Aku tungguin, ya.”

Ketika Colin akhirnya turun selepas mandi dan membenahi diri, penginapan sudah cukup senyap, hanya ada suara siaran televisi. Anak lelaki itu mengusap rambutnya yang masih basah ketika berbelok ke ruang tengah, menemukan Darla tengah duduk menonton televisi bersama dua bibinya: ibu Daffa dan ibu Ryan. Ibu Daffa, Bu Leyla, yang pertama menyadari kehadiran Colin. Wanita berkerudung bergo itu tersenyum dan melambai-lambaikan tangan dengan semangat.

“Sini, sini, Colin! Makan dulu,” serunya.

Bu Ranti turut menoleh dan tersenyum menyambutnya, sementara Darla langsung bangkit dan berlari kecil menghampirinya.

“Yuk, nasinya di dapur,” sahutnya, menarik tangan Colin dan membawanya ke dapur.

Tak ada gelagat yang berbeda dari gadis itu, dan ini membuat jengkel si anak lelaki. Darla tampak seleluasa biasanya, kini menyurvei wadah-wadah di dekat kompor untuk menentukan lauknya.

“Kamu suka cumi enggak, Cole?”

Colin berjengit mendengar nama panggilan itu, tapi segera menepis keganjilannya. Punggungnya bersandar pada tembok di ambang dapur.

“Suka-suka aja,” jawabnya. “Nasi goreng cumi?”

Darla mengangguk. “Mm hm.”

Setelah menyendok nasi dan lauk-pauk, mereka kembali ke ruang tengah. Colin tak peduli apa yang sedang tayang di televisi saat itu, terlebih ketika ia merasa begitu awas berada di tengah orang-orang yang belum benar dikenalnya. Kapan mereka bertegur sapa, memangnya?

Ari Colin téh emang asalnya dari mana?” tanya Bu Ranti, ibu Ryan.

Colin tersenyum sopan setelah menelan nasinya. “Ehm …. Ibu dari Jawa Timur, ayah dari Makedonia.”

“Walah. Di mana itu téh?”

“Makedonia di, ehm … daerah Yunani, Tante.”

Bu Ranti mengangguk-angguk takjub. “Jauh juga, ya. Ari sekarang tinggal di Indonesia semua?”

Colin menahan napas, mencoba bersabar. Orang tua dan pertanyaan-pertanyaan mereka ….

“Ibu, di Indonesia ….”

“Oh, bapaknya balik lagi?”

“Bi Ranti! Kata Ryan, Mang Cahya ngajak nyewa ATV, cenah.” Darla menyela, tiba-tiba mengacungkan ponselnya dengan meyakinkan. “Mereka udah pada di Pantai Barat. Mau ikut, gak, cenah?”

Heuh …. Sok aya-aya waé[1], si Mang Cahya mah” omel Bu Ranti, lantas beranjak ke kamarnya. Colin melemparkan tatapan berterima kasih pada Darla.

Gadis itu tersenyum kecil, lalu buru-buru mengalihkan pembicaraan.

“Bi Leyla, kemarin masa sepanjang naik odong-odong, lagunya Keong Racun!” keluhnya, cemberut. “Gara-gara si Daffa, tuh!”

Bu Leyla terbahak-bahak. “Naha bisa?”

“Iya, main pencet aja atuh da dia mah,” ujar Darla, menoleh pada Colin. “Malu pisan, kemarin diliatin banyak orang, ya, Cole?”

Lagi, Colin berjengit mendengar panggilan itu, tapi hanya bisa mengangsurkan senyum tipis sebagai jawaban. Tak lama kemudian, Bu Ranti muncul dengan tasnya, sudah siap keluar.

Hayu atuh,” katanya pada Bu Leyla. “Urang sakalian meuli oleh-oleh wé di Pantai Timur[2]. Kasih tahu si Ryan, La; Bibi sama Bi Leyla mah mau langsung ke Pantai Timur, gitu. Kadé, si Mang Cahya tong malaweung, kituh[3]. Lagi sama siapa aja, cenah?”

Darla agak gelagapan, tapi tetap pura-pura mengecek ponselnya. “Ehm …, kayaknya sama Om Beben juga. Nanti Darla tanya lagi, ya.”

Bu Ranti mengangguk. “Kalian mau keluar kapan?”

“Bentar lagi, Bi.”

“Nanti kuncinya kasihin aja ke Mang Cahya atau Om Beben, ya, La.”

Lihat selengkapnya