Ke Mana Aku Berlari

Vicky L.
Chapter #18

Kembali

Lima belas siswa berjajar dengan kepala tertunduk di depan lapangan, menyembunyikan wajah di balik topi SMA mereka. Ini baru hari pertama sekolah, ujar Pak Yanto saat berpidato pada upacara bendera, tapi kalian malah lebih kangen dihukum. Pasalnya, anak-anak itu serempak terlambat mengikuti upacara, dan alih-alih berbaris untuk menanti hukuman yang biasa, mereka ketar-ketir melarikan diri dan bersembunyi di sekitar sekolah. Seluruhnya tertangkap basah.

Ardian bersungut-sungut ketika masuk kelas, diikuti Ryan dan Colin yang wajahnya memerah kepanasan.

“Harusnya tadi aing nurut aja, anjir, baris biasa. Gak usah ikut-ikutan kabur kayak kalian,” kata anak berkacamata itu.

Yeh, siapa juga yang ngajak manéh?” sembur Ryan. “Manéh mah sekali ngeliat kita juga udah langsung ngibrit pengin ikutan.”

“Refleks, anjir!”

“Ya, terus, kenapa nyalahin?!”

Ardian bersungut-sungut lagi sampai terduduk di bangkunya.

Colin sendiri sudah kehausan dan buru-buru merogoh botol minumnya di tas, ketika Sangi tiba-tiba bersuara.

“Baru juga masuk, udah dihukum lagi. Gak jauh beda, ya, dari dulu.”

Kini, setelah mendengar suara nyinyir itu lagi, Colin menyesal tidak mensyukuri berkah kedamaian yang dimilikinya selama dua minggu libur panjang.

“Kangen, ya, Sang?” celetuk Colin, meneguk air minumnya dengan rakus.

“Najis!”

Colin tertawa mengejek, tapi percekcokan tidak penting mereka langsung dihentikan oleh kedatangan Bu Ida, guru Bahasa Indonesia.

“Sikap, beri salam!”

“Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh ….”

“Waalaikumsalam,” jawab Bu Ida. Wanita tinggi besar berkerudung itu menyimpan buku-buku dan mapnya di atas meja, lalu tersenyum lebar. “Masih mood liburan?”

“Masih, Buuu!”

“Kurang panjang liburnya, Bu!”

“Biasanya jam segini masih tidur, Bu!”

Nya jug atuh[1], tidur lagi,” canda Bu Ida.

Anak-anak tertawa.

“Ya udah, sekarang mah, buat pemanasan, kalian bagi kelompok dulu, 5 orang. Sok, berhitung, satu sampai sembilan.”

Dera, yang duduk di bangku ujung kanan paling depan, mulai menghitung dari satu, dilanjutkan Zia di sebelahnya, dan seterusnya. Setelah seluruh kelas berhitung, mereka berkumpul dengan nomornya masing-masing.

Sok, kita main game, wé. Masing-masing kelompok bikin satu karangan bebas. Tapi, setiap anggota cuma boleh nulis 1 kalimat, yang nanti diteruskan oleh anggota lainnya. Jadi, kayak cerita bersambung.”

“Bu!” seru Hamid. “Jadi, misalnya, saya nulis 1 kalimat, ‘Ibu Budi kemarin ketabrak delman.’ Anggota kelompok saya yang lain harus ngelanjutin ceritanya dalam 1 kalimat baru, gitu? Terus, nanti cerita yang udah dilanjutin dia, dilanjutin sama anggota lainnya?”

“Betul, jadi kalian nyumbang kalimat secara bergilir. Tapi, karangannya harus nyambung, bercerita, dan selesai. Ngerti, gak?”

“Ngerti, Buuu!”

“Kalian punya waktu satu setengah jam, ya. Setengah jam terakhir nanti kita pakai untuk membacakan karangan kalian di depan kelas.”

Anak-anak berkasak-kusuk.

Colin dan Ryan kebetulan mendapat angka 2; mereka sekelompok dengan Zia, Ardian, dan Rohman. Ketika berkumpul di meja Zia, Ryan tahu-tahu sudah menyodorkan sebuah tulisan di atas meja.

“Pada suatu hari, sang kodok terjebak di antara dua pilihan,” baca mereka.

“Sang kodok saha?” tanya Ardian.

Sang Kodok, eh, eh, eh, sang Kodok …,” nyanyi Ryan.

“Yeee!”

“Pilihan apaan?” Zia menimpali.

“Ya, itu tugas kalian buat ngelanjutin,” semprot Ryan.

“Yeee!”

“Ia harus memilih antara terus melompat atau bermain skateboard,” celetuk Rohman asal.

“Kalau terus melompat, cangkeul[2]. Kalau pakai skateboard, leueur[3],” tambah Ryan.

Ieu karangan naon, sih?!” Ardian marah-marah melihat Ryan dan Rohman yang tertawa-tawa tak jelas.

“Yang bener atuh, ih!” omel Zia. Kemudian, anak perempuan itu mencoreti kertas dengan kalimat baru.

“Sejak kemarin malam, Satria tidak bisa tidur,” baca mereka serempak.

“Tetangganya dangdutan?” seloroh Ryan. Ia dan Rohman tertawa-tawa lagi.

“Gak bener, anjir, kalian mah!”

“Sini, sini.” Colin menyahuti, menuliskan kalimat lanjutannya.

“Ia terus mengingat kejadian yang dialaminya tempo hari,” baca mereka serempak.

Ryan terkekeh-kekeh. “Kejadian apa, Liiin?”

“Apa, anjir? Itu lanjutan doang,” tukas Colin defensif.

“Ah, masaaa ….”

Ketiga teman sekelompok mereka celingukan tidak mengerti.

“Lanjutin, anjir!” sembur Colin tak sabar, memalingkan wajahnya yang terasa memanas.

“Yang jelas, Satria tahu, kalau pantai itu mengasyikkan,” sambung Ryan cengengesan.

“Apa, sih, ujug-ujug pantai?!” Ardian semakin frustrasi di kursinya.

Colin dan Ryan sama-sama paham, tapi hanya Ryan yang tampak sangat terhibur.

“Ini kenapa, sih, gue harus sekelompok sama dia?” ujar Colin, setengah-bercanda, setengah-serius. Ryan hanya tertawa terbahak-bahak.

Setelah melalui berbagai perdebatan, kesulitan, dan candaan tak penting (kebanyakan dari Ryan), mereka akhirnya berhasil membuat tiga paragraf ‘karangan’ seadanya. Ardian menggerutu, berkata bahwa hasil kerja mereka masih terlalu pendek untuk disebut karangan, tapi seluruh anggota lainnya sudah tak lagi punya energi dan keinginan untuk melanjutkan. Akhirnya, waktu pun habis.

Urang gak mau ke depan, pokoknya,” kata Ardian, masih memberengut.

Manéh harus bangga, atuh, Di. Ini karya kita bersama,” cibir Ryan sok berwibawa.

Nya sok manéh nu maca di hareup!”[4]

Lihat selengkapnya