Jakarta, 2007.
“Ini tempat terakhir kita pindah-pindah. Ibu janji.”
Januari
“Makin lama, emang standarnya makin turun, ya, Bu?”
Colin melempar tas sekolahnya dengan gaduh ke atas meja makan. Dadanya sudah berdebar-debar dan panas menahan amarah yang meluap-luap, yang ditahannya demi menjaga sikap—refleks kesopanan yang menurutnya terlalu mulia untuk menyikapi hal-hal (lebih tepatnya, para bajingan) yang lebih pantas diludahi sumpah serapah olehnya. Tapi—dan ini adalah kekurangan yang paling dibencinya—nyalinya selalu padam tiap berhadapan langsung dengan mereka.
“Maksudnya apa?” Ibunya bertanya balik dengan pandangan memperingatkan.
“Tampang kere begitu. Emang utang-utang Ibu udah lunas semua?”
“Mas Hendry pengusaha, Colin,” gumam ibunya, kembali menyibukkan diri dengan melipat baju-baju.
“Germo?”
“Terus, kamu pikir Ibu pelacur?”
“Ibu mau aku jujur?”
Mereka saling bertukar tatapan marah. Tapi sebelum sempat ada yang bicara lagi, pintu kontrakan mereka menjeblak terbuka. Aroma bir terkuar pekat di sekitar. Mengetahui siapa yang datang, Colin menutup hidungnya rapat-rapat, menyambar tas, dan hendak bergegas masuk kamar.
PRANG!
Sebotol bir kosong dilempar ke dinding tepat di sebelah kepalanya. Kepingannya berserakan di lantai, melesat menggoresi kakinya yang tak beralas apa pun. Colin membelalak horor, berbalik memandang seorang pria teler di ambang pintu yang tengah mengacungkan telunjuk ke arahnya.
“Mau ke mana lu, bocah?!” seru pria itu.
Colin melempar pandangan tak habis pikir pada ibunya, mencela dan menuntutnya untuk menindaklanjuti apa yang baru saja kekasihnya lakukan pada anaknya. Tapi sang ibu hanya menatapnya cemas, dengan buku-buku jari yang memutih menggenggam baju.
Ketika Hendry melangkah panjang-panjang memasuki rumah, Colin melesak ke tembok. Kakinya tenggelam bersamaan dengan darah yang merabas di lantai.
Namun pria itu malah menyambar pinggang ibunya dengan satu ayunan tangan, mengangkatnya hingga berdiri sembari tertawa-tawa mabuk. Ibu Colin memekik terkejut, wajahnya tampak waspada, tapi tak memberikan perlawanan apa-apa.
“Lu, tuh, beruntung punya ibu kayak si Ratna nih.” Hendry menepuk-nepuk bokong ibunya dengan keras, lalu mengguncangkannya dalam gerakan vulgar yang tak seronok. “Cakep begini, nih. Mantep!”
Colin lebih memilih untuk buta dan tuli saat itu juga.
*
Maret
Mengapa ada peraturan yang melarang orang menginap di perpustakaan? Apa kejahatan paling keji yang dapat dilakukan, melipat ujung halaman? Seharusnya para orang dewasa tahu, tak ada yang perlu dikhawatirkan dari anak-anak kurang pergaulan yang hanya punya buku sebagai teman.
Minggu depan, ia harus menyelinap lebih baik lagi dan bersembunyi lebih lihai lagi. Lagi pula, jika memang tertangkap, ia lebih memilih untuk ditahan di sel-sel kecil dalam kantor polisi daripada dikirim kembali ke kandang tempat dua manusia kawin dengan kesetanan seperti gorila liar.
“Emang di perpustakaannya ada apaan, sih, Dek?” tanya seseorang tiba-tiba.
Colin menoleh. Seorang pria tengah duduk di depan sebuah warteg sembari menyeruput kopi dalam gelas air mineral plastik.
Lantaran tidak tahu mau menjawab apa, Colin diam saja dan tetap berjalan melewati warung tepi jalan itu.
“Udah makan belom?” Pria itu bertanya lagi, menghentikan langkah Colin. “Sini, dah. Ada soto anget, tuh. Mau gak?”
Colin mengernyit, merasa tak butuh diberi makan oleh orang asing yang entah dari mana juntrungannya. Tapi kemudian pria itu terkekeh melihatnya.
“Kagak ngerti bahasa Indonesia kali, ya? You can talk Indonesia?” tanyanya lagi, membuat Colin lebih jengkel.
“Orang Indonesia, Bang,” tukasnya.
“Lah, itu nyaut. Harus makan dulu itu mah, Dek, biar kagak tulalit,” seloroh pria itu sambil tertawa, lalu dengan bersemangat melambai-lambaikan tangan mengajak. “Sini, tuh, makan di dalem. Suka soto gak? Atau mau apa, dah, tuh, pilih aja di dalem, cepet.”
Tanpa menunggu respons, pria itu membawa kopinya masuk ke warteg yang hanya diisi satu pengunjung itu. Colin tidak mau mengiakannya, terutama karena untuk apa? Tapi perutnya lantas mengkhianati, keroncongan dengan tidak tahu diri. Ia memang belum makan apa-apa sejak pagi tadi.
Akhirnya, berbekal keengganan dan kecurigaan yang tercetak jelas di wajahnya, anak lelaki itu masuk mengikuti.
*
PRANG!