Ulang tahun sekolah, kabarnya, akan lebih meriah dibandingkan pensi tahun kemarin.
“Ya iyalah,” komentar Sangi dengan nyinyir, “kemarin aja berani ngundang Rocket Rockers sama Mocca. Minimal pas ultah ngundang Burgerkill atau Killing Me Inside, gitu.”
“Emang lu denger lagu begituan?” timpal Colin dengan kekeh meremehkan.
“Sia mah bukannya sukanya Wali?” tambah Ryan, tertawa-tawa. Ekspresinya langsung berubah menjiwai, bernyanyi dengan pelantunan berlebihan, “Haaanya satu pintaaaku … untukmu dan hidupmu … baik-baik shayang … aku hanya untukmu ….”
“Ada aku untukmu, anjir,” omel Sangi.
“Tuh, kan!” Ryan menepuk-nepuk bahu Colin sambil terbahak heboh.
Sangi memicingkan mata geram, kemudian melayangkan tatapan menghakimi pada mereka berdua. “Kalian ngapain sok akrab? Gak mau gelut lagi, gitu?”
“Tuh, nya, manéh mah emang hirupna teu bisa damai, Sang,” jawab Ryan, menggeleng-geleng prihatin.
Tiba-tiba, ekspresi Ryan berubah lagi menjadi terlalu bersemangat. Matanya melotot dan senyumannya terlalu lebar. “Eh, perdamaian, peeerdamaian …. Perdamaian, peeerdamaian ….”
“Banyak yang cinta damai!” teriak Hamid yang berjalan melewati meja mereka, tiba-tiba nimbrung.
Ryan menanggapinya tak kalah heboh; menggerak-gerakkan kedua tangannya dalam tarian meledek, dan menyodorkan wajahnya di depan Sangi. “Tapi perang semakin ramai!”
“Banyak yang cinta damai!” koar Colin sama kerasnya.
Sangi yang kesal mulai beranjak, tapi ketiga temannya langsung berdiri menyusul dan berteriak serempak,
“TAPI PERANG SEMAKIN RAMAI!”
“Kita apaaa …?”
“BINGUNG! BINGUNG! KUMEMIKIRKAN ….”
“Sekali lagi …?”
“BINGUNG! BINGUNG! KUMEMIKIRKAN ….”
Bocah tinggi hati itu buru-buru keluar meja. Colin, Ryan, Hamid—bahkan Habib—terpingkal-pingkal hingga sakit perut.
Drrrttt …. Drrrttt ….
Ponsel Colin bergetar.
Beberapa hari belakangan ini, sejak selesai liburan, ponselnya memang berubah ramai, tidak seperti biasanya. Kawanan Lendra di grup BBM semakin heboh dengan hal-hal entah apa yang tak sempat Colin baca (chat-nya ratusan); Marlin tiba-tiba bertanya-tanya tidak jelas perihal Darla (lewat chat maupun langsung); Feby setiap hari (sejak tahun baru) mengirimkan pesan tidak penting. Ibunya pun sudah mengirimkan invite di BBM—yang tentu saja langsung Colin tolak dan blokir.
Kali ini, sebuah nomor telepon tak dikenal tampak di layar ponselnya. Colin tak mengenal nomor itu, dan biasanya ia akan mengabaikannya saja. Tapi, siang itu suasana hatinya sedang baik, apalagi setelah meledek dan menertawakan Sangi barusan. Jadi, jempolnya santai saja menerima telepon.
“Halo?”
Orang di seberang sana terdengar terkesiap, tapi tidak mengatakan apa-apa. Colin baru saja hendak menutup teleponnya sebelum disela suara asing seorang anak kecil.
“Ayow? Masowin?”