Ke Mana Aku Berlari

Vicky L.
Chapter #21

Harga

Hari itu hari Rabu—bukan hari yang luar biasa atau supersibuk, tapi sekolah sudah terlalu lengang untuk pukul 4 sore. Mungkin sebagian besar orang memilih buru-buru pulang lantaran tidak mau terjebak hujan, yang barangkali memang akan datang. Langit dan matahari sore terhalang seluruhnya oleh kawanan awan gemuk yang gelap.

Ritsleting jaketnya sudah rusak, sehingga tak bisa ia rapatkan ketika angin bersilir-silir menyambar tubuhnya. Colin mengulurkan tangan ke udara sembari menengadah; menunggu rintik jatuh di telapaknya.

Perlukah sedia payung sebelum hujan?

Selepas menyeberangi jalan, Colin mematikan mesin motornya beberapa langkah dari fotokopian Om Aceng, entah mengapa tak ingin menimbulkan keributan atau bahkan mengumumkan keberadaannya di sana. Suara musik pop masih disetel dengan berisik, namun di sana hanya ada Om Aceng (pria akhir 20-an yang berjambang) dan seorang bapak berhelm yang mungkin cuma mampir untuk memfotokopi berkas.

Barudak di tarukang,”[1] kata Om Aceng tanpa berpaling dari berkas dan mesin fotokopinya.

Colin agak berjinjit untuk mengintip, dan memang tidak menemukan Lendra, dkk. di tempat duduk mereka yang biasa. Mau tak mau, ia berjalan masuk.

Setelah menginjakkan kaki di tanah berbatu belakang bangunan, benar saja, Lendra sedang duduk di undakan tanah yang mengarah ke kebun terbengkalai. Beberapa anak tampak duduk sejajar dengan Lendra, beberapa lagi duduk di batang pohon pisang yang tumbang di seberangnya. Sebatang rokok terapit di masing-masing jemari mereka, mengepulkan asap.

Percakapan seketika terhenti ketika mereka serentak menoleh pada Colin.

Jantung anak lelaki berambut kecokelatan itu tiba-tiba berdebar lebih cepat, dan keringat dingin merambati lehernya. Ketika Lendra tersenyum, Colin tak jua merasa aman.

Ka mana waé atuh, Lin?”[2] mulai Lendra.

Colin tak menjawab, hanya mengangsurkan senyum simpul.

Jiga ka saha waé.”[3] Lendra mengisap rokoknya dalam-dalam, lalu mengembuskan asapnya yang tebal.

Diuk, Lin,”[4] sahut Sidiq, menepuk-nepuk spasi kosong di batang pohon pisang seberang Lendra, terapit antara anak itu dan Damar.

Meskipun enggan, Colin menurut.

Pandangannya sejenak mengedar, mengetahui keberadaan orang-orang yang ia pikir dikenalnya: Sidiq, Septian, Damar, tanpa Farhan, dan beberapa anak lain yang memang tak sering mengobrol dengannya. Mereka menetapkan pandangan ke mana pun selain dirinya dan Lendra.

Tak ada hawa bersahabat sama sekali di sana. Ia sudah berjengit dalam hati ketika Lendra menggunakan bahasa Sunda, sebab anak itu selalu mengajaknya bicara dalam bahasa Indonesia. Walau demikian, Colin menolak untuk menampakkan kecemasannya; maka ia tidak menunduk, tidak mengalihkan pandangan, dan siap menunggu Lendra menuturkan maksud.

Anak lelaki berkulit agak gelap itu mengisap rokoknya sekali lagi, dalam-dalam, sebelum lalu mengempaskannya ke tanah dan mengenyahkannya di bawah sol sepatu. Teman-temannya yang lain tetap diam tak menatap.

Kumaha liburan téh, ramé?”[5] tanya Lendra.

Colin mengangguk.

“Jawab atuh.”

“Iya. Ramé.” Colin merasa perlu membalas dengan ketidakramahan yang sama.

Jeung saha waé liburan téh?”[6]

Itu dia. Muncul sudah permasalahan utamanya.

Manéh juga pasti udah tahu, kan, kalau urang tinggal sama paman si Ryan,” tukasnya. “Kenapa nanya lagi?”

Lihat selengkapnya