Lin …
… Lin …
… Colin ….
“COLIN!”
Anak lelaki itu tersentak dari lamunannya.
Ia menetralkan pandangan, yang tahu-tahu sudah dihadapkan dengan Marlin yang tampak tidak senang. Colin mengedarkan pandangan untuk mencari tahu keadaan, dan sepertinya ia sukses menghabiskan jam-jam terakhir pelajaran Bahasa Inggris dengan pikiran mengawang. Anak-anak sudah hilir-mudik beristirahat.
“Apa, Lin?” tanyanya serak.
“Bener, gak, kamu sekarang udah jadian sama si Darla?”
Colin mengangkat alis, heran sekaligus lelah. “Hah?”
“Ya urang mastiin aja. Kalau iya, urang mau tahu, kenapa kamu ngedeketin Feby?”
Goblok, Colin meringis dalam hati, lalu menenggelamkan kepala dalam kedua lengan. Ia ingin tidur lama dan melupa.
“Colin!”
“Apa, sih? Kepala aku pusing,” tukasnya ketus.
“Pokoknya urang gak mau tahu,” cecar Marlin. “Kamu harus ngelurusin masalah kamu sama Feby. Seenggaknya bales, kek, BBM-nya. Jangan di-read doang!”
“Aku gak suka sama Feby,” celetuk Colin, sungguhan berpikir perkataannya akan menyelesaikan masalah dan menutup percakapan.
Marlin terdiam.
“Jadi manéh harkos, yeuh?” tantangnya.
“Harkos apaan?”
“Ngasih harapan kosong.”
Colin nyaris mendenguskan tawa.
“Apa yang lucu?” tuntut Marlin.
“Enggak ada ….”
“Jadi manéh harkos, bener atau enggak?!”
“Apaan, sih? Enggak.”
“Terus kenapa manéh nyuekin Feby?”
Lama-lama Colin kesal juga.
“Ya, emang apa yang harus diomongin, anjir? Dari awal juga aku emang gak minat sama dia. Waktunya aja yang kebetulan, makanya dia kayak kebawa-bawa terus, padahal emang gak ada pilihan lain aja.”
Marlin terperangah, namun hanya beberapa detik, karena kemudian cewek itu mengepalkan tangan erat-erat dan, oh, Colin sudah terlampau hafal ke mana skenario ini akan berlanjut. Maka si anak lelaki segera melindungi kepalanya dengan kedua lengan, membiarkan pukulan-pukulan Marlin mendarat mulus tanpa terhalangi: di lengannya, bahunya, punggungnya. Colin tak peduli.