Ke Mana Aku Berlari

Vicky L.
Chapter #23

Perisai

Colin terbirit-birit masuk ke rumah dengan dada dan isi kepala yang sudah tak keruan, berantakan, sementara dirinya sendiri tak tahu harus melakukan apa. Ia merasa tengah diburu oleh konsekuensi yang ia tak tahu; seolah tahun kemarin dihabiskannya dengan menandatangani berbagai kontrak tak terlihat, dan buahnya baru ia tuai sekarang. Rasanya seperti terjerumus ke dalam labirin gelap yang tak berujung, dengan penerangan tunggal berupa kepalamu yang berkobar.

“Lin?”

Om Beben tiba-tiba muncul dari ruang tengah, menenteng gelas kopi dengan heran.

Terlampau kalut dengan pikirannya, Colin tidak menyadari bahwa ia sudah masuk rumah entah beberapa waktu yang lalu, karena kini tasnya tidak seberat tas sekolah—bukan tas sekolah, lebih berat dari tas sekolah. Dengan terengah, ia menoleh, dan menemukan bahwa ia baru saja mengepak setengah bajunya ke dalam ransel—tampak sungguh-sungguh hendak melarikan diri, secara harfiah.

Seluruh tenaganya seketika menguap habis, membuatnya duduk terjerembap di lantai yang dingin.

Maaf, Om. Gue mau keluar. Gue pusing. Gue pengin ilang.

“Kenapa sampai pengin ilang segala?” tanya Om Beben, kini sudah turut duduk di depannya.

Colin terkejut. Pikirnya, ia hanya mengingat dialog usangnya dahulu ketika tepergok Om Kiki, bukan mengulanginya secara lisan kepada Om Beben.

Akibatnya, ia hanya menatap Om Beben dengan mata membeliak, tanpa tahu harus menjawab apa.

Om Beben tersenyum mafhum, lalu duduk di seberangnya.

“Emang, nya, SMA téh,” ujarnya mengawang. “Kalau Om mah dulu pusingnya téh karena faktor dalam, padahal dulu eksis pisan. Cuma, ya, gitu , riweuh sama sodara.”

Meskipun masih tergugu-gugu, intervensi Om Beben setidaknya memberi Colin kesempatan untuk menenangkan diri, maka ia tidak menginterupsi. Matanya kini terjatuh kosong pada kopi Om Beben yang mengepul tipis.

“Kadang Om suka mikir, kayaknya enak jadi anak tunggal.” Om Beben tertawa. “Tapi enggak juga, ya?”

Colin melempar tatapan mencela.

“Om dulu mikir, seenggaknya, anak tunggal mah gak perlu gencet-gencetan sama sodara sendiri. Udah, da segala juga kita yang menang, pan?”

Seharusnya. Seharusnya.

“Tapi, kata Om téh, kasihannya mah, anak tunggal téh kalau enggak terus-terusan bergantung sama orang, ya terpaksa jadi dewasa sebelum waktunya. Ada orang tua yang emang 24 jam ngurusiiin … terus, sampai anaknya gak bisa apa-apa. Ada yang sibuk sama urusan masing-masing, sampai anaknya harus bisa berdiri sendiri. Menurut Om mah, dua-duanya sama-sama gak enak.”

Pria itu menyelonjorkan kakinya di lantai.

“Tapi, akhirnya mah, tetep, kalau orang tua enggak ada, anak tunggal cuma bisa mengandalkan diri sendiri. Om mah, orang tua udah meninggal juga, da tetep masih bisa dibantu sama sodara-sodara, kan. Udah mah emang dari keluarga besar.”

Colin tidak tahu tujuan perkataan Om Beben. Jika untuk menyemangati, mengapa jadi suram begini?

“Tapi emang, keluarga mah bisa datang dari mana aja,” lanjut pria itu. “Kita emang enggak bisa mengubah keluarga yang udah ada, tapi kita bisa milih keluarga baru buat kita.”

Tiba-tiba, Colin merasakan sebuah tangan mendarat di bahunya, membuatnya mendongak. Om Beben tersenyum hangat.

“Isi tas kamu terlalu berat, Lin. Kasihan bahu kamu. Enggak ada salahnya titipin dulu bebannya di sini.”

Alih-alih tercerahkan, Colin merasa semakin kalut. Ia mencampakkan ransel dari bahunya, lalu memegangi kepalanya yang berdenyut-denyut seolah mengancam hendak meledak. Mungkin sebaiknya begitu saja. Hal-hal kepalang rumit ini tidak bisa ditampung otaknya.

Ketika turut mengingat ancaman kehadiran keluarga yang tak diinginkannya, Colin pun refleks mengerang—ingin merutuk-rutuk dengan vokal tapi tak punya kuasa. Ia tidak tahu apa yang dulu dilakukannya sehingga mendapat tebusan melimpah-limpah tak terkendali begini, hingga seluruhnya runtuh sekaligus—serempak, bersamaan—menghantamnya telak di muka.

“Ada hubungannya sama si Minel téa?” pancing Om Beben.

Colin menggeleng, mau tak mau terkekeh menyedihkan.

“Berarti udah aman, ya, sama si Ryan?”

Tatapannya berubah gusar, cemas, dan takut. Secara personal, memang ia tidak “bermasalah” lagi dengan Ryan, tapi secara esensi … ia tidak tahu. Ditambah lagi, kini ia perlu mempertimbangkan pertemuan dengan Lendra—entah bagaimana merasa dituntut untuk memilih kubu absolut, padahal sungguh Colin tidak mau ikut campur.

Di samping itu, ada rumor yang beredar sangat cepat dan Colin tak tahu kini telinga siapa saja yang sudah mendengar.

“Pusing banget kepala saya, Om,” sahutnya lelah. “Gak nemu jalan keluar.”

TENGTONG!

Mereka berdua terperanjat.

Tanpa aba-aba, pintu rumah Om Beben terbuka, menampakkan Ryan yang sedang santai mengunyah-ngunyah satu tusuk es pisang cokelat. Tak ada beban sama sekali di wajahnya. Barulah ketika akhirnya menyadari keberadaan kedua penghuni rumah yang teronggok di lantai, anak lelaki itu berhenti melenggang.

Kunaon euy?” tanyanya, lalu meninjau barang-barang Colin. “Rék ka mana manéh, Lin?”

Om Beben dan Colin saling bertatapan tak yakin.

Ryan, di sisi lain, dengan cuek ikut-ikutan duduk di lantai sebelah Colin, menghabiskan sisa-sisa pisang di tusukan esnya. Menilai dari pembawaannya, Colin tak yakin dia sudah mengetahui apa-apa yang terjadi.

Kunaon ieu téh meni serius-serius teuing?” Ryan sungguhan bertanya.

Om Beben hanya mengangkat bahu, sementara Colin membisu.

“Kenapa, manéh diteror sama si Lendra?” Anak itu tiba-tiba berceletuk dengan sangat-amat santai, membuat Colin tesergap rasa malu yang sembarangan datang sehingga ia mengerling takut-takut pada Om Beben.

Éta saha deui?”[1] tanya Om Beben terhibur. “Nama anak sekarang mah aneh-aneh, nya.”

“Lendra téh kepanjangannya Syailendra, Om,” terang Ryan. “Jiga dinasti-dinasti naon lah, aya di IPS.”[2]

Celetukan itu membuat Colin mendengus terhibur.

“Siapa lagi si Lendra téh?” ulang Om Beben.

Éta, nu taun kamari téa, Om. Budak Basket.”[3]

“Oooh …. Si Lendra Basket téa.” Om Beben mengangguk-angguk paham.

“Tadi siang juga katanya manéh ribut sama si Marlin?” tanya Ryan, beralih pada Colin.

Colin melayangkan tatapan memperingatkan pada anak kurus itu. Ryan paham, maka langsung mengangkat bahu, tak membahas lebih jauh.

“Terus si Lendra ngapain, Lin?”

“Enggak ngapa-ngapain, anjir.” Colin terkejut dengan nada defensif yang tiba-tiba menguar dari suaranya. Padahal, ia sendiri tidak mau membela siapa pun—tidak Lendra, tidak Ryan.

Lihat selengkapnya