“Why didn’t you call? Why did you leave me?”
“I’m trying to get back to you, Cole. Promise you’ll wait for me?”
“Will you leave me again?”
“I will leave again, but with you.”
“When will you come back and get me?”
“Soon, buddy. I promise.”
“Fucking liar.”
“Cole?”
Ia tersentak dari tidurnya, berusaha mengenali tempat dengan dua mata perih yang mencelang kaget. Hilang sudah pemandangan dinding tinggi-tinggi bercat putih, gagang telepon, jendela besar bertirai tipis, dan Pak Arsa yang menyetir motornya pergi dari tempat parkir depan rumah. Ia kini terlempar pada ruangan yang lebih kecil, dengan dinding berwarna kuning gading yang hangat, dan wangi bebungaan entah dari mana.
Colin mengusap wajah dan mencoba menegakkan tubuh, masih mengingat-ingat. Sesuatu yang bergerak di sebelahnya membuatnya menoleh terkejut.
Darla sedang tersenyum sedih.
Seketika Colin kembali pada mode waspada, meski masih bertanya-tanya sembari mengumpulkan nyawa.
“Capek banget, ya?” ujar Darla pelan. “Bahkan tidurnya juga gak tenang.”
Gadis itu mengulurkan segelas air putih. “Minum dulu.”
Colin menurut, membiarkan air segar mengaliri tenggorokannya yang ternyata kering sekali.