Ke Mana Aku Berlari

Vicky L.
Chapter #25

Sekejap

Arnawa, Dwiki S.                                                                                     10.15

● Lin, accept dong requestan ibu u. Dy mw ngomong urgent ktnya..

Arnawa, Dwiki S.                                                                                    10.36

● Lin, angkat tlp2ny. Dy udh di bdg ktnya..

Arnawa, Dwiki S.                                                                                     10.47

● Lin, angkat tlp gw!

 

Layar ponselnya penuh oleh notifikasi dari mana-mana: BlackBerry Messenger, telepon, dan pesan masuk. Colin baru bangun pukul 13.10 hari itu, mengucek-ngucek matanya dan mengolet asyik sekali. Barusan itu tidur terlelap dan ternyamannya sejauh ini.

Dengan kuapan malas, anak lelaki itu mencoba membaca pesannya satu-satu: 7 panggilan tidak terjawab dari Om Kiki, 3 panggilan tidak terjawab dari nomor tak dikenal, 12 pesan dan PING BBM dari Om Kiki, 3 dari Darla, dan 10 dari Feby, 5 SMS dari Om Kiki, 4 SMS dari nomor tak dikenal, dan 2 invite BBM.

“Sibuk amat,” komentarnya sinis.

Intro lagu “Afterlife” terdengar lagi ketika layarnya kembali menyala, menampakkan nama Om Kiki. Colin mengangkatnya dengan ogah-ogahan.

“Apaan, sih?”

“Gila, ya, lu!” sembur sang paman. “Lu tidur apa mati? Udah gua teleponin dari tadi juga!”

“Keenakan tidur, gue.”

“Itu ibu lu udah di Bandung, minta ketemu,” lanjut Om Kiki. “Gua suruh dia telepon lu lagi sekarang—gua gak mau tahu, lu harus angkat!”

Tentu saja Colin tidak senang.

“Gak mau gue.”

“Lin, dengerin gua.” Om Kiki berubah serius. “Gua gak pernah maksa lu buat balik tinggal sama ibu lu, enggak sama sekali. Sekarang juga, meskipun posisinya gua gak lagi sama elu, gak bisa bela lu secara langsung, gua tetep gak bakal maksa lu buat balik sama dia. Tapi—”

Om Kiki mengembuskan napas berat. “Gua khawatir dia tetep punya orang buat tahu informasi tempat tinggal lu.”

Colin bergeming. Om Kiki ada benarnya. Lebih baik hanya mereka yang tahu soal ini, hanya mereka yang terlibat.

“Ya udah, lu bilang aja ke dia. Besok temuin gue di food court Istana Plaza, jam 5.”

Giliran Om Kiki yang diam. Bahkan pamannya itu diam terlalu lama, hingga Colin khawatir sambungan telepon mereka terputus.

“Halo? Om?”

“Iya, oke,” sahut Om Kiki. “Kabarin gua, Lin. Inget. Atau besok lu mau ke sana bareng Om Beben juga? Entar gua yang ngomong—”

“Enggak usah,” potong Colin gusar.

“Pokoknya, lu kalau ada apa-apa, kabarin gua. Atau Om Beben juga gak apa-apa. Kalau bisa, lu ke mana-mana jangan sendirian. Nanti gua bilang ke ibu lu, kalau kalian mendingan ketemu berdua aja, gak usah bawa orang lain.”

“Bawa si Hendry, maksud lu?” Colin mendengus. “Bawa aja. Pengin tahu gue, udah kayak apa bentukannya sekarang.”

“Gua serius, Lin ….”

“Iya, udah, pokoknya lu bilang gitu aja, Om,” putus Colin. “Kalau dia gak dateng, ya udah. Gue gak ngasih janji ketemu-ketemu lagi.”

Om Kiki terdiam sejenak sebelum menutup percakapan, “Oke.”

 

*

 

Dua mata pelajaran hari itu dilaluinya dengan panas hati, kentara tak nyaman dan ingin segera hengkang dari kelas. Pasalnya, Marlin tak henti mengirimkannya tatapan membunuh.

Colin ingin menyeret anak perempuan tomboi itu keluar kelas, berteriak di depannya bahwa bukan ia yang memulai, tapi sepupunya yang keterlaluan. Niatnya sudah sangat mulia, untuk meluruskan kesalahpahaman, tapi Feby malah melunjak dan ingin memperpanjang masalah. Perihal dirinya yang tiba-tiba keluar bioskop dan meninggalkan gadis itu begitu saja, adalah urusannya.

Untunglah Marlin berhasil dihindarinya, karena ia segera berlari mengekor guru keluar kelas setelah bel istirahat berbunyi.

“Hari ini mau ke mana?”

Tapi kini, kesusahannya terbayarkan sudah.

Colin tersenyum memandang Darla, menelan kunyahan terakhir sandwich makan siangnya kali itu yang terasa begitu nikmat. Air putih yang diteguknya pun terasa berkali-kali lebih menyegarkan. Hanya ada mereka berdua di taman belakang lapangan sekolah itu, dan ia lebih dari bersedia menghabiskan jam istirahat hari-hari selanjutnya dengan begitu saja.

“Ibu aku udah di Bandung,” jawabnya, senatural mewartakan cuaca. “Hari ini minta ketemuan, jam 5 di Istana Plaza.”

Lihat selengkapnya