“Lin? Lin!”
“Hmmm?”
“Pulang, anjir. Udah pada kosong, nih!”
Awan-awan di kepalanya bubar sudah, membawanya kembali pada masa kini—pada wajah Hamid yang keheranan. Colin mengerjap-ngerjapkan mata dan nyengir lebar.
“Iya, hehehe.”
Hamid memandangnya aneh, namun segera melambai seadanya dan berjalan pergi.
Kelas sungguhan sudah kosong, dan ia hanya bisa mendengar sayup-sayup suara bubaran sekolah saja. Colin mengembuskan napas panjang, berkehendak menghabiskan beberapa waktu lagi untuk menidurkan kepala di atas meja dan melayang-layang. Harinya berjalan amat-sangat baik, bergelimang kejutan baru yang menyenangkan, andai saja tak ada janji pertemuan pukul 5.
Dengan menggerutu, anak lelaki itu akhirnya bangkit dan membereskan barang-barangnya.
Selama perjalanan menuju area kelas X, bibirnya tak berhenti melengkung ke atas—yang baru disadarinya setelah tak sengaja berkaca di jendela sebuah kelas. Colin langsung merengut, merasa tertangkap basah oleh dirinya sendiri.
Ruang kelas Darla sudah cukup kosong, menyisakan beberapa anak yang masih nongkrong-nongkrong. Colin mengernyit. Tak ada yang dikenalnya.
“Misi,” serunya, membuat beberapa anak celingukan. “Lihat Darla gak?”
Mereka berkasak-kusuk sebentar.
“Tadi udah pulang, A,” kata seorang anak laki-laki di bangku belakang.
“Sama gengnya?”
“Duluan da tadi mah,” sahut anak lelaki lain. “Kayak yang buru-buru gitu.”
Colin tercenung tak mengerti. Bukankah mereka sudah ada janji temu?
“Kalau teman-temannya? Ada yang tahu gak?”
“Gak tahu, A.”
“Oke. Makasih, ya.” Colin mendengus tak sabar, lalu beranjak pergi.
Ia segera mengirimkan pesan BBM pada Darla, menanyakan keberadaannya. Tapi sepanjang waktunya mengelilingi area kelas X, ia tak kunjung mendapat balasan. Agak kesal dengan keterbalikan ini (dulu, Darla yang waswas menunggu kabarnya), Colin segera menelepon Ryan—barangkali anak itu tahu sesuatu.
“Halo?”
“Yan, tahu Darla di mana gak?”
“Hah?” Ryan terdengar bingung. “Ya masih di sekolah, meureun.”
“Udah pulang, kata temen-temennya.”
“Ya berarti udah pulang, meureun.”
“Anjing, gak membantu.”
“Yeee. Lagian, manéh malah nelepon aing, bukan nelepon si Darla.”
“Oh iya.”
Colin segera memutus sambungan, lalu menelepon Darla.
Tuuut ….
Tuuut ….
Tuuut ….
Telepon tak diangkat-angkat. Ia terus mencoba dan mencoba, hingga lima kali, tapi tetap tak ada yang mengangkat. Bahkan, telepon langsung tak tersambung lagi pada dering keenam.
Ada yang tidak beres. Hari ini semuanya berjalan mulus tanpa cela, seharusnya menjanjikan ketenteraman sampai hari selesai, bukannya ketidakjelasan seperti ini. Lagi pula, seingatnya, mereka menutup waktu istirahat dengan pengertian dan sukacita yang sama.
Atau, itu menurutnya saja?
Mereka memang tidak sempat membahasnya, dan hanya membiarkannya terjadi begitu saja. Namun setelahnya mereka berjalan bersama dengan tangan bertautan hingga berpisah setelah keluar dari lapangan. Tak ada yang salah, kan?
Perasaannya semakin tak keruan. Pada akhirnya Colin hanya bisa mondar-mandir di tempat parkir, tak tahu arah tujuan.
“Lin!”
Anjing.
Itu suara Lendra.
Colin meringis dengan mata terpejam, jelas sangat tak ingin menghadapi anak itu kali ini. Namun ia tak punya ruang untuk berlari.
Membalikkan badan dengan enggan, Colin mengangguk pada Lendra, Sidiq, dan Septian. Tak ada siapa-siapa lagi selain mereka bertiga. Setidaknya, itu membuatnya tak begitu terancam.
“Om Aceng bentar, yuk,” ajak Lendra, menyunggingkan senyum.
“Enggak bisa, ada acara—”
“Asli ini mah, Lin,” sahut Septian, tiba-tiba merangkulnya dengan akrab. “Yang kemarin mah heureuy[1] atuh.”
Colin mencoba melepaskan diri dari rangkulan Septian. “Serius, udah ada acara ….”
Sidiq mengedikkan kepala pada kapten mereka. “Si Lendra ulang tahun.”