Ke Mana Aku Berlari

Vicky L.
Chapter #27

Spiral

Watch it. Watch how everyone leaves.

Kedua matanya memandang lurus, menyipit meski tahu tengah dilanda kegelapan. Tangannya meraih, mencoba mengenali sosok di depan sana yang tengah memegang cahaya sebatang lilin, yang dua matanya tak dapat ia lihat, yang bertudungkan kegelapan. Gelap, sungguh. Namun entah mengapa ia merasa terlalu banyak dirinya disirami oleh limpahan cahaya yang membakar, dan ia tak sanggup, dan ia ingin mengenyahkan nyala api di depan sana, tapi sesuatu menahannya, dan ia tidak bisa bergerak.

Mulutnya berucap, meminta tolong, nyaris berteriak, tapi tidak ada yang terdengar. Hanya sunyi yang memekakkan, dan ia tidak tahan.

Lalu tiba-tiba semuanya gulita. Ia merasa buta. Apakah iya?

Tidak. Karena buktinya, kini terang semua.

Sesuatu tiba-tiba mendorongnya dengan keras, menyudutkannya. Suara-suara memenuhi pendengarannya.

Watch it. Watch it. Watch it.

Ia ingin berteriak, Piss off! Namun mulutnya tak dapat bergerak. Seluruh tubuhnya gemetar hebat dan berbalur keringat. Kepalanya tidak bisa melihat kiri-kanan untuk mencari bantuan, untuk keluar, untuk melarikan diri.

You think you can run again this time?

Shut up! Shut up! Ia memejamkan mata, tak ingin mendengarkan.

Dug ….

Dug ….

Dug ….

Suara jantung berdentum-dentum.

Dug, dug, dug.

Ia bisa tuli.

Dug ….

Dug ….

Dug ….


ZIP!


Telinganya berdengung sejenak sebelum suara-suara itu benar hilang dalam sekejap.

Ia tidak yakin, ia takut. Ia tidak ingin membuka matanya meski merasa harus. Apakah semuanya telah berakhir? Apakah dirinya baik-baik saja?

Ia membuka mata.

Lihat selengkapnya