Hari-hari berlalu tanpanya menyertakan diri.
Suara-suara dari siapa pun di sekitarnya—yang membentak, menyalahkan, menuduh, dan mencaci maki—menembus kedua telinganya. Tak ada yang ia dengar, tak ada yang ia ingat. Tubuhnya nyata, tapi ia tidak berada di sana. Maka tak perlu ia menyaksikan rangkaian peristiwa yang lalu lintas di sekitarnya—tak perlu merasakan tubuhnya yang diseret paksa, diguncang-guncang, diarak ke ruang guru bagai onggokan daging busuk tak berharga.
Pula tak perlu tahu ia tentang hari selanjutnya, ketika berpasang-pasang mata menikamnya dengan bengis, tangan-tangan bergantian menunjuknya dengan kasar. Tak perlu ia mendengar teriakan saling bersahutan perihal siapa yang benar atau salah; tak perlu merasa kesakitan akibat tamparan panas di muka.
Ia melayang-layang, tenggelam di awang-awang; lenyap dalam segala yang gelap tak berkesudahan. Sebab di sana maya, tak ada yang nyata, dan ia tak pernah punya apa-apa. Tubuhnya wahana yang bekerja dengan semestinya.
Waktu berkelebatan begitu saja.
“I see my vision burn, I feel my memories fade with time
But I’m too young to worry ….”
Colin bersenandung tanpa beban.
Kamarnya pekak oleh satu lagu yang diputar tiap hari dari CD player-nya, yang hanya digunakannya untuk mendengarkan satu lagu itu saja, yang hanya berguna untuk memutar satu lagu itu saja.
“A melody, a memory, or just one picture ….”
Ia melayang-layang, tidak mengenal, tidak menghiraukan pintu kamarnya yang membuka.
“Seize the day or die regretting the time you lost
It’s empty and cold without you here
Too many people to ache over ….”
Nada-nada yang menyumbat telinganya dari sekitar, perlahan terangkat bersamaan dengan headphone-nya yang dilepas dari kepala. Bahkan demikian, Colin tak jua mengindahkan. Nada lanjutan dan liriknya toh sudah ia hafal.
“Newborn life replacing all of us,
changing this fable we live in
No longer needed here, so where do we go?”
“Colin.”
Bahkan, setelah suara itu merangkak kasar ke telinganya, setelah tangan-tangan itu mengguncang tubuhnya.
“Will you take a journey tonight, follow me past the walls of death?”
“Lihat Ibu, Colin.”
“But, girl, what if there is no eternal life?”[1]
“Colin!”
Sebuah tangan menggapai pipinya, dan anak lelaki itu refleks menarik diri, melindungi kepalanya di balik lengan sembari menelungkup. Napasnya terengah-engah. Ketika diraih lagi, Colin memberontak, berusaha sekuat tenaga untuk melepaskan diri dari jeratan tangan-tangan yang hanya akan mencelakainya—hanya akan memberinya pukulan bertubi dan tamparan di kanan-kiri pipi.
“Udah, udah!”
Colin tidak berhenti. Lagi-lagi, instingnya untuk berlari mulai bergemuruh di dadanya, tapi tubuhnya masih terperangkap dalam rengkuhan yang tak pernah diinginkannya.
“Colin! Udah!”
“No!”
“Colin, dengerin Ibu—”
“No!”
“Kamu mau ninggalin Ibu sendirian?”
“Nooo!”