“Gimana, anjir, ceritanya?!”
“Ya, pokoknya, kan, urang emang udah rencana ke sana, terus pas urang baru nyampe, si éta geus ngabelesat wé lumpat. Reuwas tah aing. Jeung lumpatna téh tarik pisan, gening.”[1]
“Terus, manéh kejar?”
“Nya heueuh. Tapi, aing ngejarnya pake motor.”
“Si goblog—”
“Atuh da gancang, anjir. Aing juga belum markirin motor, pan.”
“Nya geus, geus. Terus?”
“Nya, terus, aing téh kukurilingan wé neangan nepi ka burit.”[2]
“Manggihna pas keur kumaha?”[3]
“Nya kitu wé, geus ngagolér di jalan.”[4]
“Anjing …. Watir.”[5]
*
Sekitarannya masih gelap. Penerangan hanya bersumber dari cahaya sebatang lilin di sebelahnya.
Colin duduk terperanjat, seketika merasa kembali terlempar pada kegelapan bergaung jahat yang sempat memerangkapnya beberapa saat ke belakang. Dengan panik, ia mulai mencari apa pun yang familier, atau yang bisa memberinya keamanan—jam weker dan pensil sepertinya bisa berguna kalau-kalau ada orang tak diinginkan yang hendak menerjangnya atau semacamnya—
Pendengarannya menangkap suara-suara manusia tak jauh darinya, bercakap-cakap dalam volume kecil, dan—TEEET!!! Suara klakson membahana, membuatnya terlonjak di atas—kasur? Ranjang siapa ini?
Kegelapan itu tidak membantunya mengenali sekitar, dan ini tidak menenangkannya. Ia sudah mulai merasa sesak merambati dadanya perlahan—dan tangannya masing-masing mencengkeram jam weker dan pensil yang terasa begitu nyata—lalu ia menyadari bahwa ini nyata—tapi di mana lagi ia kini berada?
TEEET, TEEET, TEEET!!!
PRANG! Colin melemparkan jam weker itu ke mana pun di sekitarnya hingga pecah, seolah dengan demikian ia mampu membungkam kebisingan jalanan itu.
Langkah-langkah kaki bergeruduk menyerbu, pintu tiba-tiba terbuka—
“Wey!”
Colin menodongkan pensilnya pada Ryan yang waspada.
Anak kurus itu mengangkat kedua tangan di samping kepala, memandangnya terkejut tapi berusaha meyakinkan. Tak jauh beda, Colin masih terduduk dengan mata membelalak, napas tersengal, dan wujud yang entah bagaimana tampaknya. Meskipun telah menemukan familiaritas dari kehadiran anak itu, Colin tetap tidak merasa aman.
“Ini urang, Lin. Ryan,” sahut anak itu. “Ini rumah urang.”
Colin berjengit, secara refleks menggelengkan kepala tak habis pikir. Ia bertanya dengan tatapan sangsi dan dahi berkerut-kerut.
“Urang dibantuin si Ardian sama Hamid buat ngangkut manéh ke sini. Hehehe.” Ryan nyengir.
Penjelasan itu sama sekali tak membuat kebingungannya pudar.
“Eh, lagi aliran, BTW. Mati lampu,” jelas Ryan lagi, menunjuk lilin di sebelahnya.
Perlahan-lahan, Colin menurunkan tangannya; sudah tak begitu berambisi untuk menyambar anak lelaki itu dengan pensilnya sendiri.
Tubuhnya terasa begitu lelah; setiap sendinya seolah berkeriut nyeri. Untuk duduk begitu saja, ia rasanya tak bisa berlama-lama. Energinya terkuras entah ke mana. Maka Colin kembali menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur dan memejamkan mata.
Ia dapat merasakan Ryan yang memasuki kamar, menarik kursi dan duduk di depan meja belajar tak jauh dari kasur. Mereka tak berkata-kata entah berapa lama.
“Keluarga lu—” Colin terbatuk-batuk, tak menyadari suaranya yang sangat-amat kering.
Ryan buru-buru menyambar sebotol air mineral dari meja belajar, menyodorkannya. “Pake botol biar gak basi dan terkontaminasi.”
Colin meneguknya hingga habis.
“Keluarga lu,” ia berdeham, “tahu kalau gue di sini?”