Ke Mana Aku Berlari

Vicky L.
Chapter #30

Ultimatum

Usai berpamitan, berterima kasih, dan meminta maaf dengan sangat-amat sungkan, Colin mencium tangan Pak Cahya dan Bu Ranti. Mereka hanya tersenyum sambil menepuk-nepuk punggungnya, tak banyak berkata-kata. Meskipun lega dengan respons macam itu, Colin mau tak mau dirundung penasaran juga: apa yang mereka pikirkan tentangnya? Ia ingin bertanya lebih jauh pada Ryan, tapi khawatir tidak akan menyukai jawabannya. Maka ia diam saja.

Namun, dari Ryan, ia tahu bahwa ini hari Minggu. Sudah lima hari sejak Bilik Berisik.

Ryan bersikukuh untuk mengantarnya, dan mereka sempat beradu mulut dulu karena itu, hingga akhirnya menemukan kesepakatan bahwa Ryan akan mengantarnya sampai depan rumah Om Beben saja, lalu pulang.

Ryan sudah pulang sekarang.

Wangi parsley di rumah Om Beben masih menggelitik indra penciumannya ketika Colin tiba lagi di sana. Kedua kakinya seolah tengah menggeret rantai berbandul bola besi, berat sekali diayunkan ketika melangkah melewati pintu—khawatir dengan apa yang akan ditemuinya di dalam.

“Lin?”

Colin melompat terkejut oleh suara yang tiba-tiba muncul di belakangnya. Ia berpegangan pada sisi pintu dan berbalik, mendapati Om Beben yang menjinjing kantung plastik hitam. Pria itu hanya nyengir.

“Abis dari warung, barusan. Beli Tolak Angin sama koyo, hehehe.”

Colin mengulum senyum, menatapnya segan. Melihat ketidakleluasaannya, Om Beben terkekeh—serta-merta merangkul dan membawanya masuk ke rumah.

“Udah, tenang,” sahut Om Beben, tapi rangkulannya tiba-tiba terlepas ketika ia menarik diri. “Kalem, kamu belum mandi berapa hari?”

“Gak tahu.” Colin melongo inosen.

Om Beben terbahak, lalu mendorongnya ke arah kamar mandi. “Pantesan, bau domba!”

Colin merengut, tapi lantas melepaskan tawa.

 

*

 

Bayangan dirinya dalam cermin rasanya tak pernah terlihat seburuk itu. Rambutnya sudah kempes dan lepek, melurus, menguarkan bau apak yang tak menyenangkan. Seluruh tubuhnya lengket, selain pegal dan nyeri tak berkesudahan, sementara wajahnya kusam benar.

Seselesainya mandi, Om Beben mengajaknya mengobrol di ruang TV. Meskipun semula tadi ia sudah tak begitu segan, kini perasaannya campur aduk kembali, tak tahu akan dihadapkan dengan kemungkinan—atau bahkan keputusan—macam apa, untuk hidupnya.

Pria itu sudah duduk di sofa, dengan setelan kaus oblong dan celana pendeknya. Tampak santai benar dengan kopinya, seperti biasa. Ia menepuk-nepuk spasi di sebelahnya ketika melihat Colin datang.

“Sini, Lin.”

Colin duduk dengan patuh.

“Gimana? Udah enakan, badannya?” tanya Om Beben.

“Udah, Om.”

Om Beben mengangguk-angguk. “Kemarin abisnya si Ryan bilang kamu kejang-kejang, cenah.”

Anak lelaki itu hanya menunduk. Om Beben mengembuskan napas panjang.

“Sebelumnya, Om mau minta maaf sama kamu—”

Kata-kata itu sungguh mengejutkannya—karena ia jelas tidak menyangka—hingga kepalanya terlalu cepat menoleh. Om Beben tertawa kecil melihat respons macam itu.

“Ya iya, atuh. Kamu téh kan dititipin si Om Kiki ke Om, jadi tetep aja Om yang bertanggung jawab.”

“Enggak, Om. Gak apa-apa—”

“Iya, Lin.” Om Beben mendaratkan tangan di bahunya. “Tapi Om tetep merasa bersalah. Emang, Om téh orangnya kadang terlalu santai, sampai suka kelewat sama hal-hal kecil. Om jarang ngeh sama sekitar. Jujur aja, Om baru ngerasa janggal pas kamu mau kabur waktu itu aja.”

Pria itu tersenyum kecut, lalu menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal. “Emang, sih, parah pisan, nya, si Om.”

“Enggak, Om,” Colin bersikeras, “saya justru gak keberatan sama sekali dengan sikap Om selama ini. Biasanya, saya gak problematis kayak gini, kok—”

Meskipun perkataannya terasa konyol, Colin tetap berceloteh. “Saya biasanya kuper, Om. Beneran. Saya gak pernah punya temen. Jadi, harusnya emang aman-aman aja kalau sama saya—”

Tiba-tiba Om Beben memotongnya dengan tawa, membuatnya berhenti dan terperangah heran.

“Lin …,” sahut pria itu, menyisakan kekeh, “Om tahu, kamu anak baik. Tenang aja. Om cuma pengin ngajak kamu ngobrol buat minta maaf.”

Colin menunduk semakin dalam, tidak tahu harus menjawab apa.

Ekspresi Om Beben namun mengeras ketika ia berdeham. “Kemarin, pas ibu kamu udah pulang, Om konsultasi sama Om Kiki ….”

Topik itu membuat Colin mendongak, lantas memicingkan mata waspada.

“Gini, Lin. Om Kiki udah cerita sama Om, dan dia juga lebih tenang kalau kamu gak balik lagi sama ibu kamu. Tapi, mau gimana juga, Om enggak punya kuasa buat nahan kamu kalau ibu kamu keukeuh pengin ngajak kamu pulang ….”

Tentu saja Colin paham. Tak ada ikatan kekeluargaan apa pun di antara mereka, dan dalam hal itu, otomatis ibunya yang berpeluang seratus persen atas kepemilikannya.

Ia mendengus dan membuang muka. Wanita itu selalu memenangkan segalanya, ya?

Lihat selengkapnya