Andaikan mampu memanggil kembali pertahanan dirinya yang suka berlari—dari kenyataan, dengan disosiasi—hari ini, Colin tak akan mengalami hari paling menyiksa seumur hidupnya.
Ia sudah berusaha untuk tak memikirkan, tapi sejak pertama memasuki gerbang sekolah rasanya tubuhnya sudah babak-belur ditikam anak-anak panah dari tatapan menghakimi orang-orang. Yang terburuk, namun, adalah pengabaian. Entah mengapa kali itu Colin berharap dapat meluruskan kesalahpahamannya dengan Marlin—oleh sebab rasa bersalah yang ganjil dan keinginan aneh untuk mempertahankannya sebagai teman satu lingkaran—tapi gadis tomboi itu sudah tak pernah lagi memalingkan pandangan padanya, seolah ia tak ada. Rasanya … tidak menyenangkan.
Bahkan pada Sangi pun, Colin sungkan. Konyol sekali, tapi ia bahkan tidak berani menoleh pada si bocah tinggi hati, padahal ingin sekali berkomentar tentang kedatangan Sangi yang sempat menjenguknya. Barangkali Sangi pun merasa kikuk sampai hanya bisa menyapanya dengan seringai orang sembelit.
Namun, tentu saja ada Ryan yang selalu bisa diandalkan, anak berandal satu itu. Si bocah cungkring terlihat sekali sangat berusaha untuk mencairkan suasana, mengajaknya bercanda, dan menyorongkan teman-teman sekelas mereka yang canggung untuk terus menyertakannya dalam obrolan (jam pertama hari itu tidak ada guru, maka itu adalah berkah sekaligus musibah dalam hal ini baginya). Termasuk, ketika istirahat.
Pada akhirnya, Colin berhadapan lagi dengan anak laki-laki pertama yang “bermasalah” dengannya, yang awalnya ia pikir akan menjadi kerikil penghalang jalan setapak mulusnya.
Barominel Deo melipat kedua tangan di depan dada, kentara sekali tengah menghakimi anak lelaki yang dulu sempat mentah-mentah menolak bergabung klubnya. Berbeda dengan pertama kali, kini, setelah mengetahui dan melalui banyak hal, Colin tak lagi menenteng arogansinya. Ia tidak memandang Minel, meski tidak menunduk pula, dan membiarkan si bocah rancung menilainya apa adanya.
“Yang sekarang beneran, nih, Cel?” Minel beralih pada Ryan yang berdiri di sebelah Colin.
“Beneran, Bang.” Ryan nyengir. “Udah sama-sama jadi korban, sekarang mah.”
Minel mengambil langkah maju, membuat Colin mendongak. Mata anak laki-laki kelas XII itu memicing, bibirnya mengerucut penuh pertimbangan. Setelah memperhatikan lebih dekat dan jeli, Colin memahami bahwa memang sekilas wajah Minel tak jauh beda dari berandalan tipikal yang gemar menindas adik kelas, tapi berandalan macam apa yang punya garis tawa di wajahnya?
Beberapa saat kemudian, Minel pun benar tertawa.
“Hahaha!”
Colin mengernyit, awalnya tidak ingin menampakkan raut kebingungan selain itu, namun Minel kemudian meraih sebelah pundaknya, menariknya lebih dekat.
“Kena juga, ya, lu?” tanya anak itu dengan nada penuh solidaritas. “Makanya, kalau gua ajak tuh dengerin.”
Cara ngajak lu dulu juga salah, kali, Bang, tapi Colin membungkam saja alih-alih menyuarakannya.
“Si Boncel ini, nih, yang langsung minta gua ngerekrut elu.” Minel mengedikkan kepala pada Ryan. “Tapi gua males kalau lu belagu kayak waktu itu.”
“Sori, Bang,” gumam Colin, ikhlas-tidak ikhlas.
Minel tertawa lagi, menepuk-nepuk pundaknya.
“Welcome to the club, gak, nih?” tanya Minel, mengulurkan tangan.
Mata Colin memandangi tangan itu selama beberapa saat, sebelum mengembuskan napas dan menyunggingkan senyum lelah.
Mereka berjabatan juga pada akhirnya.
“Welcome to the club.”
*
Colin Nikolaidis 14.24
● Darla
● Pulang sekolah nanti, bs ketemu?
● D tempat milk tea wkt itu aja, kl mau
Darla A.Y. 15.07
● Iya
Di mejanya bukanlah kopi lagi, melainkan mochaccino, meski ia sengaja memilih tempat duduk yang sama dengan tempat terakhir mereka kemari.
Selama menunggu Darla, jantungnya berpacu cepat sekali dan tubuhnya terasa melayang, maka Colin mengalihkan pikirannya untuk membaca pesan bertumpuk di ponselnya.
Colin membaca sembari tertawa: hal pertama yang disadarinya adalah bahwa akunnya telah dikeluarkan dari group chat Lendra, dkk. Good riddance, pikirnya, tapi tak ada kelegaan lebih dari itu. Rasanya hari-harinya bersama anak-anak Basket itu tak lebih dari ingatan yang didapatnya dari mimpi—nyata-tidak nyata, benar-tidak benar. Menakjubkan jika mengingat apa saja yang pernah dilakukannya karena mereka: memperluas pergaulan, mengasah kemampuan olahraganya hingga menjadi juara PORAK, tampil dan menyanyi di atas panggung.
Sialan, Colin menggeleng-geleng miris, mau tak mau mengakui bahwa Lendra memang menggiringnya pada hal-hal baru yang mencelakainya pula di kemudian hari.
Lalu, matanya kemudian berhenti pada satu nama yang tak berubah menjadi sekadar PIN saja—yang berarti tidak menghapusnya dari daftar kontak, seperti yang lainnya:
MD. Farhan Wed 15.46
● lin
● hampura euy
● urg br dnger