“Selamat ulang tahun ….”
“Selamat ulang tahun .…”
“Selamat ulang tahun, Colin ….”
“Selamat ulang tahun ….”
Ingar-bingar “kejutan” kecil-kecilan yang diprakarsai Om Beben dan Ryan hanya berupa bayang-bayang ketika lagi-lagi anak lelaki itu memutuskan untuk menarik diri dari tubuhnya yang tengah duduk menggenggam sebilah pisau berlumur krim, di depan sebuah kue tart, di meja makan, lewat tengah malam. Dan, mereka tidak membangunkannya. Ia tak lagi bisa tidur entah sejak berapa hari yang lalu, tak ingin lagi tidur.
Jumat itu usianya genap tujuh belas tahun, dan Colin belum pernah merasakan keinginan sekuat itu untuk binasa.
Apa yang kau lakukan ketika merasa demikian?
Ia tidak ingin marah, tak merasa.
Ia tidak ingin menangis, tak merasa.
Ia tidak ingin bersedih, tak merasa.
Namun tangan kanannya terasa begitu panas, ingin mengayun, tapi tak ingin membuat diri sendiri terluka.
Apa yang kau lakukan ketika merasa demikian?
Colin mengamati Ryan, dan tak paham bagaimana anak itu bisa tetap tertawa dan bersenang-senang seperti saat ini. Colin mengamati Om Beben, dan tak paham bagaimana pria itu bisa tetap berbaik hati padanya dan menerimanya seperti keluarga, tanpa memikirkan keluarganya sendiri.
Mengapa semua orang berlaku seperti tak ada yang pernah terjadi?
Ia memeluk pisaunya di dada, lalu memejamkan mata.
Sungguh, ia hanya ingin binasa.
*
“Hari ini traktiran gak, Lin?” Ryan menyodorkan bubur ayam di atas meja, yang dibalas Colin dengan anggukan singkat. “Ehehehe, mantap! Bang, traktiran, cenah, Bang!”
“Dalam rangka apaan, nih?” tanya Minel, duduk di sebelah Colin.
“Tujuhbelasan,” jawab Ryan.
“Eyyy, selamat ulang tahun!” Minel menepuk-nepuk bahu Colin, diikuti Galang dan Romi yang sudah bergabung di meja mereka. “Gua mah mau bakso ah, Lin.”
Colin mengangguk lagi—dan terus begitu ketika Galang dan Romi meminta, tapi kini pandangan tak terarahnya telah berpindah, menangkap sosok familier gadis yang kini tak lagi tampak benderang. Hanya satu anak perempuan yang beredar di sekitarnya, bukan tiga. Tak ada bando di masing-masing kepala mereka.
Sesuatu berkeretak di dada anak lelaki itu.
Ada yang tak leluasa dalam setiap gerakan Darla; seolah ketakutan, dan tak lagi memimpin tapi mengekor—bersembunyi—di balik sosok tinggi Bianca, ketika mereka berjalan menghampiri stan bubur yang sedang dipenuhi anak-anak perempuan. Seketika, terdengar celetukan tak sopan dan kata-kata merendahkan yang baru kali ini Colin dengar ditujukan pada Darla.
“Masih berani sekolah, ih, anjir!”
“Gak tahu malu gitu, ya?”
“Marukana geulis, kitu? Da geuleuh!”[1]
“Awas, ih, geuleuh, ada jablay[2]!”