Ke Mana Aku Berlari

Vicky L.
Chapter #33

Restitusi

Ia pikir ultimatumnya tempo hari mampu membuat wanita itu benar-benar pergi dari hidupnya, tetapi tidak. Selepas bersiap-siap untuk berangkat sekolah, Colin sayup-sayup mendengar suara berbincang di ruang tamu Om Beben, dan tahu-tahu sesosok anak kecil perempuan melesat ke dapur sambil tertawa-tawa. Hingga tawanya lenyap ketika melihat Colin.

“Silvi …!”

Jejak Hendry menapaki tiap sudut wajah bocah perempuan itu. Minus mata hitam yang membulat takut, Colin seolah menatap si bajingan langsung di depan matanya.

Segala pikiran keji meletup-letup di kepalanya, memenuhi dadanya dengan segala usaha menghancurkan.

Colin mengambil langkah mendekat, membuat bocah itu mundur siaga. Ia melangkah lagi, dan anak itu mundur lagi—terus begitu hingga akhirnya punggung anak kecil itu membentur countertop dapur, memerangkapnya. Kepala anak itu tepat berada di bawah jejeran pisau yang seolah memanggil-manggil, dingin ….

Tubuh Colin menjulang di depan anak itu, begitu tak terkuasai. Ia seolah tengah memegang kendali tepat di telapak tangannya yang terbuka, dengan mudah mampu melakukan apa saja.

Anak itu adalah segala yang salah; benih kebiadaban Hendry dan ketidakberdayaan Ratna. Dia tercipta dari dua ketidakbaikan yang hanya bisa menuai kekacauan tak berujung, dan dia bahkan masih terlalu bodoh untuk tahu konsekuensi hidupnya.

Mungkin Colin perlu menunjukkannya?

Colin lagi pula tak pernah menyukai anak kecil.

PLAK!

Telapak tangannya yang terbuka, yang mampu melakukan apa saja, tahu-tahu sudah mengayun keras membelah udara—mendarat panas di pipi gembil anak itu.

“MAMAAAAAA …!!!”

Teriakan bising itu tak menghentikannya. Meskipun mendengar derap langkah cepat yang menghampiri mereka, Colin menyambar kedua bahu anak itu dan membentur-benturkan punggungnya ke countertop kayu yang keras, mengabaikan bunyi bruk-bruk-bruk dan “MAMAAA” lainnya. Tangannya memiliki kehendak sendiri, dan kini kuat-kuat mengempaskan anak itu hingga—DUK!—kepalanya membentur lantai. Sebilah pisau disambar …

“KAMU TUH KENAPA, SIH?!”

… dan dilesakkan ke dalam saku celana.

Tubuhnya didorong keras-keras oleh seseorang, tapi matanya tidak berpindah. Anak Ratna meraung-raung dengan wajah basah, minta perlindungan ibunya. Wajahnya menekuk jelek; bibir mencebik dengan kerutan buruk rupa yang mencemari mata. Tangisannya melengking tinggi, seolah ingin dikasihani, seolah dia yang paling teraniaya di dunia ini.

Sungguh menyedihkan. Sungguh tak berdaya. Anak itu bisa lumat ditempa tangan dan kakinya begitu saja.

Colin mengembuskan napas panjang.

“Pamit, Om.”

Dengan santai, Colin berbalik, meraih tangan Om Beben dan menciumnya, lalu beranjak begitu saja.

“COLIN!”

Dan, tak lagi mendengar apa-apa.

 

*

 

Meski tak menyaingi kebisingan di lapangan, salah satu meja di kantin bawah cukup ramai hari itu. Ada Ryan yang meratapi nilai Bahasa Inggris-nya yang jeblok. Ada Ardian yang berdebat dengan Hamid perihal kesahihannya sebagai anak IPA, karena anak berkacamata itu harus remedial seluruh mata pelajaran MIPA (semua nilainya di bawah KKM). Ada Hamid yang selepas berdebat dengan Ardian, ganti memperdebatkan pemakaian rumus dengan Sangi. Dan, ada Colin yang bengong tanpa reaksi, karena tak ada yang perlu dipikirkannya tentang hasil ujian (semua nilainya di atas KKM sedikit).

Acara ulang tahun sekolah sudah tiba, dan mereka lebih memilih untuk berkeluh-kesah soal nilai rapor. Utamanya, karena bintang tamu yang datang tidak sesuai harapan.

“Asli ini OSIS ngedatengin Minutes to Go?” cibir Ardian. “Siapa yang mau denger, anjir?”

“Si Sangi, tah!” seru Ryan, menunjuk si bocah berkacamata. “Gak ada Wali, Minutes to Go pun jadi!”

Gandéng, anjing!” sembur Sangi. “Hayu, atuhlah, ke lapangan !”

Embung, anjir, teu ngeunaheun.”[1]

“Jajan McD diskonan , lah, di lapang. Lumayan,” putus Hamid, turun dari meja dan mulai berjalan meninggalkan mereka. Ardian dan Sangi mengekor.

Tapi, akhirnya sayup-sayup nyanyian band itu mau tak mau terdengar juga hingga kantin bawah.

Lihat selengkapnya