Daffa memandangi sebuah bingkai foto yang terpajang di atas tangga. Keningnya berkerut-kerut, sementara bibirnya mencebik. Memang terdapat deretan foto lain di sana, tapi hanya satu yang membuatnya kesal.
“Kenapa Daffa gak diajakin, ih!” semprotnya.
Om Beben tertawa dari bawah tangga. “Itu difotonya waktu kamu lagi ke Dufan, Daf.”
“Kenapa atuh gak nanti difotonya, pas Daffa pulang?!”
“Ya udah, nanti kita foto lagi, ya.”
Sebelum Daffa menjawab, terdengar sorak-sorai yang kepalang berisik di lantai bawah. Kerutan di kening bocah itu langsung menghilang, dan sosoknya melesat menuruni tangga.
“Goblog, anjing, ah! Ganti, manéh, Sang!” Ryan mendorong bahu Sangi penuh kesumat, sementara teman-temannya tertawa.
“Kitu ari éléh téh,”[1] komentar Ardian, memukul-mukul bantal sambil masih tertawa heboh.
“Licik, anjing, si Sangi mah!” Ryan masih tidak terima.
“Enggak, anjir! Manéh aja yang gak bisaeun main!” semprot Sangi.
“Embung, anjing, tanding ulang!” Ryan membela diri.
TENGTONG!
Daffa merentangkan kedua tangan, lalu meluncur ke pintu depan bak pesawat lepas landas. Senyumnya lantas merekah lebar kala melihat siapa yang datang—utamanya, melihat kantong keresek yang dibawanya.
“Yeay! Milk tea!”
“Eits! Sabar, dong!” Darla menangkap tangan kecil Daffa yang sudah terulur hendak menyambar kantung plastik. “Masuk dulu!”
Daffa cemberut. “Ya udah, sini Daffa yang bawain belanjaannya.”
“Jangan, ah, nanti diem-diem ngambil kamu mah.”
“Iih! Itu kasihan A Colin, masih sakit tangannya!”
Perhatian Darla teralih, memandangi anak lelaki tinggi ramping di sebelahnya.
Dia mengenakan jaket olahraga hitam yang ritsletingnya sudah dol, dengan seragam rapi beserta atribut sekolah lengkap seperti seharusnya. Wajahnya masih terang dan bersih, tapi ia seolah membutuhkan setidaknya pulasan rona untuk membuatnya sedikit lebih hidup. Matanya tampak berkali-kali lebih sayu, seperti menahan kantuk yang tak hilang-hilang. Rambutnya masih kecokelatan bergelombang, dipangkas sampai di atas telinga. Tangannya menggapai dada kanannya, meraba jahitan nama yang menyembunyikan sepuluh jahitan lain di baliknya.
Merasa diamati, Colin berkedip bingung, serta-merta menurunkan tangannya kembali.
“Eh, enggak, kok,” sahutnya meyakinkan, berpaling pada Darla. “It’s okay now.”
Daffa menarik satu keresek penuh milk tea dari tangan Colin, dan nyaris menjatuhkannya. Darla sudah melotot sebelum bocah lelaki itu buru-buru menentengnya dengan kedua tangan, lalu mengerutkan dahi dengan otoriter.
“Daffa juga kuat, tahu! Kayak A Colin!”
Tanpa ba-bi-bu lagi, Daffa kembali masuk ke rumah dengan tergopoh-gopoh.
Rumah itu hanya hening selama beberapa detik sebelum digegerkan sebuah teriakan yang cenderung lebih terdengar seperti tantrum. Di ruang tengah, Ardian tengah berlari merebut stik yang nyaris dibanting Ryan, Sangi sudah berdiri sambil menenteng stiknya—barangkali hendak kabur—sementara Hamid sibuk tertawa-tawa sambil menghabiskan camilan di ujung sofa.
“Yan, kalau lu emang gak jago main, gak usah dipaksain, anjir,” celetuk Colin, berjalan menuju dapur. “Kasihan stiknya si Ardian.”
“Daffa!” Darla langsung menutup kantong plastik yang sedang dijarah Daffa di meja makan, tampaknya mempertimbangkan mengambil minuman yang bukan miliknya.
Ryan memandang Colin dengan berapi-api. “Aing kalau sama maranéh mah bisa menang, kan? Emang si Sangi doang yang licik!”
Sangi, tanpa peduli, ternyata masih melanjutkan game dan sudah berhasil menguasai lapangan lagi. Ia bersorak ketika berhasil menjebloskan bola ke gawang Ryan.
“SANG, LUMPAT[2], SANG!” teriak Hamid memperingatkan, melihat Ryan yang sudah berkelejatan di tempatnya, siap menyerang.
Sangi melemparkan stik ke atas karpet dan langsung lari menaiki tangga menuju lantai atas, sementara Hamid menerjang Ryan, dan Ardian menyerukan “GOBLOOOG” melihat stiknya yang sukses mencium lantai.
“Chaos banget, ih,” komentar Darla geli.
“Udah, nih, batagor dulu!” seru Colin, selesai memindahkan sekantung plastik besar batagor hangat ke dalam wadah-wadah plastik yang lebih besar. Ia lalu melenggang ke kamar mandi sementara teman-temannya menjeda permainan dan berbondong-bondong ke dapur.
Colin memandang bayangannya dalam cermin.
Pagi tadi ia menyaksikan kepergian ibunya, yang seharusnya final, dan meskipun selama ini mata mereka sering bersirobok dalam luapan amarah yang beragam, kali itu ia menemukan hal lain dalam mata ibunya: ketakutan. Tentu saja. Apa yang diharapkannya dari bocah yang pernah menikam kekasihnya dan menganiaya anak perempuannya? Tidak ada. Colin juga sangsi bahwa ibunya sungguhan percaya dirinyalah yang ditusuk, bukan menusuk. Wanita itu sudah melihat terlalu banyak.
Silvia sudah mendekam dalam mobil lebih dulu, jelas tak diizinkan bertemu dengannya lagi sejak anak itu dirawat beberapa hari setelah insiden mereka di dapur. Khawatir gegar otak atau tengkorak penyok, apalah, ia tidak peduli. Setidaknya, Colin sudah memberikan kesan tersendiri, sebagai kakak laki-lakinya.
Menggelikan.
Ibunya sempat mengulurkan tangan untuk meraih pipinya, tapi segera ia tepis. Sudah tidak perlu ada basa-basi lagi.
“Ibu sayang sama kamu, Colin,” katanya sebelum beranjak, seolah dengan demikian semuanya akan baik-baik saja.
Colin tertawa hambar di depannya.
“Sisanya udah ditransfer ke Om Kiki?” sahutnya lebih serius. Wanita itu mengangguk. “Semuanya?”
“Iya, Colin.”
“Tahu, kan, kalau sekarang urusannya sama hukum, bukan sama aku doang?”
“Iya.”
“Good.” Colin mengangguk singkat, lalu berbalik memasuki kamar kos barunya.
“Colin!”
Ia berhenti tanpa menoleh.
“Ibu ….”
Lama.
“Ibu minta maaf.”
Terlalu lama.
Colin menyentuh wajahnya di depan cermin.
Kulit pucatnya membuatnya serupa mayat hidup. Ketika mencondongkan tubuh, ia menyadari kelopak matanya yang menghitam, berikut kantung-kantung di bawahnya. Tidurnya memang tak pernah menyenangkan lagi. Matanya sendiri masih sayu apa adanya, tapi ternyata tampak letih, dengan kegamangan yang menggantung di antara bulu matanya. Ia membuka dua kancing teratas seragamnya, menyingkap bekas luka panjang menggurat tepat tiga sentimeter di bawah tulang selangkanya.
Colin tak ingat kapan ia berkaca sedetail itu, mencermati setiap sudut wajahnya dan berharap dapat menemukan perbedaan yang ia tak tahu.
Ia adalah dirinya yang pertama datang ke sana, tapi juga bukan. Sekrup-sekrup dalam kepalanya telah longgar, dan barangkali beberapa bahkan sudah jatuh ke jurang pikiran yang tak berdasar. Apa boleh buat?
Tubuhnya wahana yang bekerja dengan semestinya.
Ketika ia melangkah keluar kamar mandi, rumah itu sudah tak lagi ramai. Sepi, tetapi nyaman. Para pesinggah duduk berjajar di karpet ruang TV, sibuk dengan camilan, minuman, obrolan, dan pikiran mereka masing-masing.
Hari ini adalah hari keseratus sejak Lendra dikembalikan kepada orang tuanya.
Daun-daun pintu sekolah diketuk oleh desas-desus yang beragam perihal penusukan tiga bulan lalu, berlomba mengangsurkan kabar termutakhir dan tepercaya. Pasalnya, tak ada yang menyangka bahwa anak lelaki populer, pemain utama Tim Basket sekolah itu mampu melakukan hal-hal yang diklaim para saksi saat itu. Tak ada yang menyangka pula bahwa kekokohan loyalitas teman-temannya dapat runtuh begitu saja di bawah ancaman polisi, terkecuali Sidiq. Maka dapat dengan mudah disimpulkan bahwa Tim Basket yang tersohor itu, tercerai-berai sudah.
Kini reputasi korban-korbannya seolah direstorasi, dan seharusnya tak ada lagi kekacauan yang akan terjadi.
Tapi, mereka yang sungguhan terlibat saat itu, yang memilih untuk memberikan separuh kesaksian palsu, tahu bahwa memang sebaiknya tak perlu menggelegakkan belanga yang tengah damai, tak perlu menanak pertikaian lanjutan yang mungkin nanti akan berujung ledakan …. Mata-mata mereka selalu gelisah, dan mereka terbelah menjadi dua kubu: yang memihak dan yang menyegani.
Colin memandang temannya satu persatu.
Hamid dan Ardian barangkali menemukan respek yang baru terhadapnya, entah telah mengetahui cerita aslinya atau tidak. Hamid, dengan reputasi siswa teladannya, setidaknya sedikit menetralisasi kawanan jika tidak membersihkan sama sekali, sebab Ardian lebih menonjol dengan temperamennya yang meledak-ledak dan Sangi dengan serangan kata-katanya yang tak pernah terjaga. Ya, bocah nyinyir itu—meski masih selalu beradu mulut dengannya, dengan siapa saja—pada akhirnya ikut juga.
Lalu, Ryan. Terlepas dari apa yang keluarganya wanti-wanti, anak itu tetap tak meninggalkan Colin—justru kini lebih dari berani untuk pasang badan jikalau ada Lendra-Lendra lainnya.
Dan tidak akan ada Lendra-Lendra selanjutnya.
“Sini, Cole!” panggil Darla, menepuk spasi kosong di sebelahnya.
Sirene ambulans seolah terngiang lagi di telinga Colin, ketika ia terbaring dengan gagang pisau masih teracung miring di dada kanannya. Di ambang kesadaran, sementara dirinya sendiri tengah tenggelam dalam gelombang kekalutan, kesakitan, kemarahan, dan segala-gala yang tak benar, matanya berusaha mengenali wajah-wajah yang ada bersamanya. Ryan duduk tepat di sampingnya, rapat, berwajah pucat berkeringat, merangkulnya dengan dua tangan berdarah-darah. Di sebelah Ryan, Minel menutup setengah wajah dengan gulungan kaos; peluh memberuntus di dahinya. Lalu sayup-sayup suara tangis menggapainya, membuatnya menoleh dengan pandangan berkunang-kunang.
Darla kembali untuknya.
Colin tersenyum, lalu duduk di samping gadis itu seusai mencomot sebuah batagor.
“Aku udah download film Flipped,” ujarnya pelan. “Kemarin udah beres, kan, baca bukunya?”
“Eh iya, Hunger Games juga katanya lagi syuting tahun ini!” sahut Darla, berbinar-binar.
“Udah cek pemain-pemainnya, berarti?”
“Udah. Aku masih bete sama pemilihan Haymitch, sih, tapi yang lainnya oke.”
“Effie oke, ya?” tanya Colin.
“Oke! Cocok banget!”
“Nanti nonton bareng, ya.”
“Nonton apa, A Colin?” sambar Daffa, tahu-tahu duduk di depan mereka berdua. “Paranormal Activity?”
“Kamu mah nonton Coboy Junior the Movie aja, Daf!” seloroh Ryan sambil mengunyah-ngunyah batagornya.
Daffa cemberut, lantas menyambar stik nganggur Ardian dengan kedua tangannya yang masih berlumuran minyak dan bumbu batagor.
“Ada Smackdown, gak, A Ardi?” tanyanya ceria.
Om Beben langsung berdiri dan duduk di depan layar, pelan-pelan mengambil alih stik kotor dari tangan Daffa lalu mengelapnya dengan kausnya sendiri.
“Abisin dulu minumannya, Daf,” kata Om Beben. Pria itu menepuk-nepuk bahu Ardian yang tampak merana. “Hayu, Di, urangeun nu maén!”[3]
Ardian cepat-cepat cuci tangan untuk menyambut tawaran Om Beben. Daffa tidak keberatan, dan kembali asyik menyeruput minumannya.
“A Colin, nanti foto bareng lagi, atuh! Masa Daffa gak diajakin!” ujar Daffa jengkel.