Aku terbangun di ranjang yang tak pernah berubah—ranjang yang menyimpan terlalu banyak bisu.
Seprei tipis yang dinginnya menyusup ke tulang, seolah ingin memberitahuku:
kau masih hidup, tapi bukan sepenuhnya.
Aku ingin berkata bahwa ini hanya mimpi, tapi kenyataan menampar lebih kejam dari tidur.
Peristiwa itu…
yang mengubah arah nafasku selamanya… bukan mimpi. Ia nyata.
Ia melekat seperti noda yang tak bisa hilang, bahkan setelah ribuan kali diguyur doa.
Mataku terbuka, tapi hatiku terkunci. Mulutku tak sanggup melafal apa pun.
Aku hanya diam, menatap langit-langit yang diam pula—seolah ikut berkabung.
Tangisan Ibuk, Ratapan Tanpa Pelukan
Di sisi ranjang, kudengar suara yang telah kukenal sejak masih bayi: suara ibuk.
Tapi kali ini, tangisannya bukan tangisan lelah seperti biasa.
Tangisnya adalah jeritan bisu yang merobek keheningan.
Ia menangis, bukan hanya karena anaknya terluka, tapi karena ia tahu ia tak bisa menghapus luka itu.
Tangisnya adalah sajak patah yang gagal ditulis Tuhan. Suara pelan penuh retakan:
"Ya Allah... kenapa anakku..."