Keanggunan Dipeluk Takdir

Temu Sunyi
Chapter #12

Rumah Lurah, Rumah Dingin Tanpa Nurani


Malam tak datang sebagai pengantar tidur.

Ia tiba seperti kutukan—tanpa bintang, tanpa angin yang ramah, hanya gelap yang menusuk dada dan sunyi yang menampar pelipis.

Di depan rumah megah itu, berdirilah sosok yang menggigil bukan karena dingin,

tapi karena dendam yang sudah terlalu lama mendidih dalam diam. Rumah Pak Lurah.

Rumah yang terlalu terang untuk menyembunyikan gelap di dalamnya.

Rumah tempat iblis berkedok anak baik tinggal, bernama Anton.

Tangan Bapak menggedor pintu. Bukan sekadar ketukan, tapi pekik luka yang sudah tak bisa disimpan.

“Assalamualaikum.”

Suaranya berat. Serak. Seperti sedang menyeret seluruh dunia ke depan pintu.

Pak Lurah muncul, memakai sarung dan kaos dalam, seolah malam ini cuma tentang kopi dan televisi.

“Waalaikumsalam, Pak Yanto?

Ada apa malam-malam begini?”

Bapak menatapnya, matanya berkaca tapi tak menangis. Suaranya patah-patah.

“Saya… saya datang minta keadilan, Pak.

Anak Bapak—Anton—telah merusak anak saya.”

Diam. Sunyi lebih panjang dari jalan pulang. Lalu Pak Lurah memanggil anaknya.

“Anton! Ke sini kamu!”

Langkah tergesa. Pintu kamar terbuka.

“Iya, Pah?”

“Jawab.

Lihat selengkapnya