Fajar belum utuh lahir, tapi langkah itu sudah lebih dulu menggeliat di tanah yang masih dingin.
Bapak…
dengan motor tua yang bunyinya seperti batuk usia lanjut, menembus kabut dengan mata merah dan napas penuh bara.
Ia tidak membawa bekal, hanya dendam yang dikemas dalam doa.
Tak ada salam, tak ada pamit. Hanya deru mesin dan desir harapan yang hampir putus.
Jalanan tak sempat menyapa.
Orang-orang yang berpapasan hanya jadi bayang-bayang yang tak layak didengar.
Karena pagi ini bukan tentang silaturahmi. Pagi ini tentang amarah seorang ayah yang kehilangan anaknya—
bukan karena kematian, melainkan karena dunia mencabut hidup dari dalam tubuh anak itu…
secara perlahan dan tanpa ampun.
Gedung dengan Nama yang Terlalu Mulia
Plang besar bertuliskan KEADILAN itu berdiri seperti sarkasme.
Huruf-hurufnya mencolok, menjulang, seolah tak pernah tahu artinya sendiri.
Bapak masuk dengan tubuh renta tapi hati menyala.
Suaranya bergetar, bukan karena takut, tapi karena menahan gemuruh dari dada yang hampir meledak.
“Anakku, Pak…
tubuhnya dirobek, masa depannya ditelan, cita-citanya dikencingi orang-orang yang berkedok manusia...”